Hikmah Mudik

Selasa, September 21, 2010

Mudik, merupakan salah satu ritual tahunan yang hanya ada di Indonesia. Ritual ini ditandai dengan pulangnya orang-orang di perantauan ke kampung halaman untuk sekedar ingin berjumpa keluarga yang lama tak berjumpa dan bersilaturahmi. Masing-masing orang akan menangkap hikmah yang berbeda ketika mudik. Begitupun dengan aku.

Mudik tahun ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dikarenakan aku sekarang telah berdomisili di Yogyakarta, meskipun baru 3 bulan namun ini sudah menunjukkan bahwa tiap-tiap daerah memiliki budaya yang berbeda. Perjalanan mudik tahun ini merupakan yang terpanjang dari yang sebelumnya, dengan rute Yogyakarta - Surabaya - Pacitan - Blitar.

Aku dapat menangkap beberapa hikmah dari beberapa kota yang aku singgahi.
  • Surabaya: merupakan tempatku merasakan masa putih abu-abu selama 3 tahun.
    • Masa putih abu-abu meruapakan masa paling indah ketika berkumpul bersama teman-teman. Hal ini tidak dapat dirasakan kembali setelah lulus SMK, karena masing-masing sudah memiliki kehidupan baru mereka. Terbukti dengan tidak dapat berkumpulnya seluruh anggota kelas ketika mengadakan acara. Tidak seperti ketika masih sekolah, mereka semua dapat berkumpul di sekolah pada pukul 06.30 :D.
    • Halal bi Halal Armuro :p
    • Berbeda degan di Jogja, di Surabaya kegiatanku selalu terpecah sehingga nggak bisa fokus sama sekali. Hal ini dikarenakan kebiasaan di Surabaya selalu mengerjakan segalanya di sekolah, ketika sudah tidak sekolah jadi kurang nyaman ngerjain di rumah.
  • Lorok - Pacitan: merupakan tempatku mendapatkan pendidikan SMP selama 3 tahun.
    • Tempat yang benar-benar terpencil. Disini segalanya terbatas. Mulai dari sinyal, Koneksi. Ketika disini, aku benar-benar merasa terisolasi dari dunia luar. Internet putus-putus, nomor tidak dapat dihubungi dan lain-lain. Namun dari sini aku mulai sadar untuk mengurangi kecanduan internet. Banyak hal yang jawabannya tidak dapat ditemukan di internet.
    • Aku juga merasa bersyukur pernah hidup di sini selama 3 tahun. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya aku yang sekarang jika aku tetap melanjutkan pendidikan setelah SMP disini, Mungkin tulisan ini tidak akan pernah ada jika aku masih melanjutkan disana. Takdir-Nya benar-benar LEBIH INDAH dari yang kita rencanakan.
    • Disini sebagian besar anak seumuranku belum menyadari pentingnya merancang masa depan. Mereka hanya menjalani hari-hari tanpa rencana dan membiarkannya mengalir begitu saja. Pemikiran mereka belum jauh ke depan. Yang mereka tahu, setelah tamat SMA, bekerja untuk mencari uang atau kuliah (bagi yang mampu). Bagi yang kuliahpun mereka belum tentu dapat menjawab sebenarnya apa tujuan mereka kuliah? Apalagi sekarang kebanyakan mereka kuliah ditempat mereka diterima, bukan ditempat yang mereka inginkan.
  • Blitar: merupakan tempat aku lahir dan tumbuh hingga usia 12 tahun.
    • Friendship never END. Inilah yang kualami bersama teman-temanku di Blitar. Meskipun telah terpisah di berbagai kota bahkan ada yang sampai Mesir, namun kita tetap teman. Tidak hanya itu, bahkan dengan Iput aku sudah merasa menjadi bagian dari keluarganya dan aku juga berharap dia juga sudah merasa menjadi bagian dari keluargaku :).
      Alumni MIDA
Sebenarnya masih banyak lagi hikmah yang aku tangkap, namun masih sulit untuk mengungkapkannya dalam rangkaian kata :D. jadi cukup sekian sajalah shareku mengenai hikmah dari perjalanan mudikku kali ini.

You Might Also Like

2 comments

  1. ikut merasakan mudik bareng ndundupan, salam kenal..saya yng di blender forum mas...

    BalasHapus

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Facebook

Subscribe