Slider

[4] [Jalan-jalan] [slider-top-big] [Jalan-Jalan]
You are here: Home / Sego Kucing ~ Sepenggal Ingatan di Jogja

Sego Kucing ~ Sepenggal Ingatan di Jogja

| 2 Comments
sego kucing di Surabaya
Semalam diajak oleh salah seorang teman di kelas untuk rame-rame mendatangi sebuah tempat yang berjualan nasi kucing alias sego kucing. Nasi yang besarnya hanya satu kepalan tangan dengan lauk seadanya. Teringat kembali memori selama di Jogja, berbagai macam jenis nasi kucing kucoba di sana. Sungguh nikmat merasakan nasi 2 bungkus nasi kucing + 2 potong gorengan + 1 gelas susu hangat dengan hanya membayar Rp. 5000. Tak lepas dari bayangan itu pun aku iyakan ajakan temanku untuk mencoba merasakan sego kucing Suroboyo.

Letaknya tidak jauh dari Kotamadya Surabaya, duduk lesehan dipinggir sungai memberikan kenyamanan tersendiri, meski suasana tak seindah makan di angkringan-angkringan Jogja  yang lebih terasa "ndesonya". Sesuai bayanganku, aku tidak akan kenyang jika hanya makan sebungkus kupesan dua. Sesuai dugaan porsinya hampir sama dengan yang di Jogja

Sebungkus nasi dibandrol dengan harga Rp. 1.500 sedangkan di Jogja masih banyak kutemui harga perbungkusnya Rp. 1000, kecuali nasi bakar di daerah pasar Kotagede yang dibandrol Rp. 2.000. Lauk sambal yang cukup pedas penuh dengan biji cabai dengan potongan kecil ikan bandeng. Kenikmatannya tidak dapat menyaingi nasi sambel teri yang tersebar hampir di seluruh penjuru angkringan Jogja.

Ada sebuah kisah unik tentang angkringan di sekitar jalan kemasan Kotagede Jogja. Angkringan tersebut kami juluki sebagai angkringan telo. Begini ceritanya, saat itu saat mulai makan kuambil gorengan yang tersedia untuk kujadikan sebagai lauk, dengan perhitungan seperti biasa nasi 2, gorengan 2 dan segelas susu hangat. Dan ketika sedang asik makan ternyata gorengan yang kuambil bukannya tahu maupun tempe seperti biasanya, namun ketela alias telo goreng. Alhasil makan pun jadi aneh rasanya. Dari situlah angkringan tersebut kami juluki angkringan telo.

Ya begitulah Surabaya yang tidak dapat dibandingkan dengan Jogja, banyak sekali perbedaan yang mencolok. Ingin rasanya kembali terbang ke Jogja dan mengulangi beberapa ingatan yang tercetak dengan jelas seperti Jazz Mben Senen, Angkringan, Kopi Joss Tugu dan masih banyak lagi.

MMB A
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih, saatnya pulang karena ada beberapa wanita dalam rombongan kami. Terima kasih sudah mengingatkanku dengan kota Jogja, inginku bersua kesana bertemu dengan orang-orang luar biasa :)
Share This Post :