Nonton Bola dan Terdampar di Grosir Wedges

Sabtu, Oktober 31, 2015

Setelah menikmati perjalanan dingin menembus kabut menuju salah satu rumah makan langganan bang Odie yang ternyata menu andalannya sudah habis, akhirnya kami putuskan untuk kembali ke Bandung malam itu juga.

Aku males nyeritain perjalanan berkabut menuju warung yang berada di perbatasan Bandung - Cianjur, karena selain jaraknya yang cukup jauh dan aku enggak ngerasain makanan yang diceritakan sama bang Odie. Jadi ceritanya di skip aja yak :D.

Setelah melakukan perjalanan, akhirnya sampai di Ciwidey tepat ketika adzan magrib berkumandang. Saat itu juga kami tiba di rumah singgah Bang Odie, dimana dia menjadi salah seorang relawan yang mengajar anak-anak kurang mampu. Nggak nyangka bang Odie yang selama ini di bully orangnya kaya gitu :D.

Merasakan Aura Semifinal Piala Presiden

Aku enggak terlalu ngikuti dunia persepakbolaan, jadi enggak seberapa paham dengan jadwal pertandingan. Ketika beristirahat di rumah singgah Bang Odie, dia cerita kalau jangan terlalu malam ke Bandungnya, karena ada pertandingan Semifinal Piala Presiden di Stadion Si Jalak Harupat Bandung. Ditengah-tengah pertandingan semifinal sepak bola, kami melakukan perjalanan dari Ciwidey ke Bandung kota.

Ada satu hal unik tentang nonton bareng yang baru aku temukan di Bandung. Ketika kami melewati salah satu jalan, kami jadi tontonan para penonton sepak bola. Bagaimana tidak, para pentonton duduk di sebelah kanan jalan dan LCD di arahkan ke tembok di seberang jalan. Jadi setiap orang yang lewat bakal mengganggu tontonan orang-orang tersebut.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan dan nyasar lewat stadion Si Jalak Harupatkami tiba di kos-kosan adik Bang Odie dan terlarut dalam keramaian pertandingan semifinal Piala Presiden 2015 yang akhirnya dimenangkan oleh Persib Bandung.

Setelah selesai nonton, kami pun bergegas untuk jalan-jalan di sekitaran Bandung. Bertepatan pula dengan para suporter persib di beberapa titik. Dari pengamatanku, supporter di sini masih lebih tertib dibanding persebaya / bonek. Memang mereka berombongan dan konvoi, tetapi enggak semena-mena seperti anak-anak tanggun persebaya di Surabaya yang main memberhentikan kendaraan-kendaraan. Udah gitu, banyak yang bening-bening pula ketika berhenti di lampu merah :D. Meskipun rombongan banyak dan tanpa helm, mereka pun berhenti ketika lampu berwarna merah. Mungkin ini yang kebetulan aku temui ketika perjalanan.

Menikmati Malam di Bandung

Malam itu enggak ada agenda lain selain jalan-jalan sambil cari makan. Akhirnya keliling dah di sekitaran Bandung mulai dari Braga hingga Sabuga. Enggak terlalu ngeh juga sih, cuma Braga yang masih melekat di ingatan. Konsep dan keramaiannya mirip dengan kawasan Kute.

Karena sudah terlalu malam, aku ngikut aja mau diajak makan kemana sama bang odie yang ternyata hits abis masalah kuliner di Bandung. Terutama kuliner-kuliner yang lagi hits. Sedangkan setiap datang ke lokasi, penuhnya masyaAllah. Bikin nggak minat buat mampir deh.

Akhirnya memutuskan datang ke beberapa tempat dan gagal gegera kalau enggak penuh ya sudah tutup. Karena sudah capek keliling dan udah kelaperan akhirnya belok di salah satu warung pinggir jalan dengan nama Nasi Kalong.

Sebuah warung pinggir jalan dengan konsep prasmanan yang dimakan gelap-gelap an. Mungkin ini yang bikin nama warung ini adalah nasi kalong. Makannya di kegelapan malam dengan remang-remang cahaya yang hanya ada di tempat ambil prasmanan.

Setelah capcus ambil macem-macem ternyata waktu bayar habis 46 ribu rupiah :D. Buset dah, emang sih ambilnya macem-macem tapi ya nggak ngira aja habis segitu. Parah dah. Ini penampakan nasi kalong malam itu.

Kuliner Nasi Kalong di Bandung
Kuliner Nasi Kalong di Bandung
Setelah cukup kenyang dengan makan malam tersebut, akhirnya kami bergegas menuju Cibiru. Tempat kami akan menginap gratis malam itu, tepatnya di kontrakan teman Bang Odie.

Maaf baterai sudah menipis dari Kawah Rengganis, jadi enggak banyak foto yang diambil sepanjang malam itu.

Terdampar di Grosir Wedges

Setelah sekian puluh menit melakukan perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah kontrakan tersebut yang ternyata adalah tempat grosir wedges di Bandung. Emang enggak ada rencana sebelumnya untuk datang ke tempat kaya gini, tapi namanya juga jalan-jalan mengalir saja. Karena enggak ada fix plan, dan enggak punya destinasi wajib yang harus dikunjungi. Mengalir aja malah asyik.

Bisa dibilang malam itu aku menginap di gudang sepatu wedges, high heels dan flat shoes. Dasar otak dagang dan makelar, obrolan singkat malam itu membuatku berfikir untuk jualan wedges dan sejenisnya :D.
Grosir Wedges
Grosir Wedges
Keesokan paginya aku pun lebih asyik tanya macem-macem seputar wedges dan dagangannya. Ketemu orang-orang kaya gini emang asyik. Ketika bang odie memberiku durasi waktu untuk jalan-jalan ke Braga dan sekitarnya. Aku pun memilih untuk tetap stay di sini dulu sambil ngobrolin ini itu. Toh, kalau tahun depan ke Bandung, Braga juga enggak pindah tempat kok :D

Akhirnya kami meninggalkan tempat grosir wedges tersebut ba'da dhuhur. Sekitar jam 1 an siang untuk jalan-jalan di sekitar Braga.

You Might Also Like

0 comments

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Facebook

Subscribe