Sekilas Melihat Yangon, Myanmar

Minggu, Februari 28, 2016

Perjalanan udara selama 2 jam 35 menit dari KLIA mengantarkanku ke Yangon, sebuah kota yang pernah menjadi ibukota negara Burma yang kini lebih populer dengan sebutan Myanmar. Myanmar merupakan tujuan pertama kami dalam rangkaian perjalanan ini, sebuah negara yang belum lama terbuka terhadap masyarakat dunia.

Jalan Jalan di Yangon
Jalan Jalan di Yangon
Sebagai warga negara Indonesia, aku bisa merasakan kenikmatan bebas visa selama 14 hari kunjungan. Jadi enggak perlu ngurus visa ketika kamu datang dan stay selama kurang 14 hari di negara ini.

Antrian Imigrasi yang Panjang

Ketika lainnya sibuk dengan antrian imigrasi yang cukup panjang, mbak-mbak petugas bandar meminta aku untuk segera bergegas antri di imigrasi. Entah kenapa sepertinya mereka tidak membiarkan warga asing sepertiku berdiam diri terlalu lama di bandara / di ruang tunggu.

Tidak lama setelah itu pesawat pun berdatangan dan antrian imigrasi semakin panjang. Beruntung aku sudah masuk dalam antrian sehingga tidak terlalu panjang meski akhirnya baru berhasil masuk ke loket imigrasi setelah satu jam mengantri.

Rate Tukar Uang Bagus di Bandara

Setelah melewati imigrasi, yang aku lakukan selanjutnya adalah menukarkan uang dollar yang sudah aku bawa dari Indonesia menjadi Kyaat. Kyaat adalah mata uang yang berlaku di Myanmar ini. Aku pun cuma menukar uang sebesar U$ 125.

Rate uang di luar bandara kurang bagus untuk turis, jadi sangat disarankan untuk menukarkan uang di dalam kawasan bandara daripada di luar karena ratenya bisa sangat jauh dari yang ada di dalam. Jadi kalau mau tuker duit ke kyaat ada baiknya tuker di dalam bandara supaya mendapatkan rate yang bagus.

Kalau enggak salah waktu itu dengan $ 125 aku dapat uang sebesar 154375 kyaat. Sedangkan kyaat ke rupiah itu kalau enggak salah 1 kyat sekitaran 10 rupiah. Jadi berapapun jumlahnya tinggal nambahin satu nol dibelakangnya jadi rupiah. Itu itungan gampangnya.

Jalan Jalan di Yangon

Tujuan utama di Myanmar adalah Bagan, sebuah kota yang letaknya cukup jauh dari Yangon. Karena bus yang berangkat ke Bagan masih lama, kami pun jalan-jalan di Yangon sambil menemui dua orang teman kami yang sudah sampai terlebih dahulu. 

Keluar dari yangon kami langsung ke counter taxi untuk bertanya-tanya, karena ini relatif aman jika dibandingkan mencari taxi di luar bandara yang bisa saja ngasih harga diluar batas wajar. Setelah cukup negosiasi, akhirnya kami dapat harga 70000 kyaat untuk keliling Yangon seharian. Karena rombongan berjumlah 7 orang, jadi per orang kena 10000.

Begitu keluar dari Bandara Yangon aku melihat bayangan Indonesia di jaman dahulu. Lingkungannya, kehidupan masyarakatnya dan masih banyak yang mungkin ini adalah potret Indonesia di masa lalu, dan itu masih terjadi di sekitar bandara Yangon. Kesan vintage yang kental begitu mencolok di sepanjang jalan.

Salah satu sudut kota Yangon
Selama perjalanan aku menemukan banyak sekali hal yang menurutku unik dari kehidupan warga di Myanmar, terutama yang ada di kota Bagan.
  • Banyak dari para pria dan wanita yang memakai semacam kain sarung. Kain sarung ini di Myanmar dinamakan longyi.
  • Pria dan wanita baik muda maupun tua banyak yang mengunyah sirih atau kalau di jawa sering disebut dengan nginang. 
  • Sepeda Motor sangat jarang, mobil dan taxi mendominasi kendaraan yang ada di kota ini. Berbeda dengan kota-kota di Indonesia
  • Para pria maupun wanita tidak sedikit yang menggunakan bedak dingin di pipinya. Mulai dari yang ada di bandara bahkan hampir dimana mana.
  • Burung gagak bisa dengan mudah ditemukan dimana mana. Berbeda dengan di tempatku yang sangat sulit untuk ditemukan. Bahkan ada mitos bahwa ketika mendengar burung gagak di suatu lokasi akan ada orang yang meninggal di daerah itu. Bener nggak?

Meeting Point Shwedagon Pagoda

Tujuan pertama di Yangon adalah JJ Bus yang ada di terminal aung Mingalar Highway Bus Terminal. Sebuah bis yang akan mengantarkan kami nanti malam ke Bagan. Ketika sampai di JJ Bus, ternyata dua orang teman kami yang diketahui bernama Anggung dan Kania tidak ditemukan di lokasi. Setelah menggunakan komunikasi ilmu goib kami pun janjian di Shwedagon pagoda :D. Pagoda paling hits di Yangon.
Sisi Lain Shwedagon Pagoda
Sisi Lain Shwedagon Pagoda

Setelah sampai di pintu timur kami duduk dan menunggu tanpa ada kepastian apakah dua orang teman kami ini sudah sampai atau belum sampai. Untungnya bapak sopir kami yang bernama .... (lupa) berhasil menemukan keduanya di halte bus dekat pasar yang lokasinya tidak jauh dari pagoda.

Karena sudah lapar tingkat akut, kami enggak jadi masuk ke pagoda shwedagon dan memutuskan untuk mencari sarapan yang dirapel dengan makan siang. 

Kari Ayam, Kuliner Paling Aman di Yangon

Berbeda dengan di Indonesia yang mayoritas bergama Islam, di Myanmar mayoritas masyarakatnya adalah Budha. Sangat sulit menemukan makanan halal di negara ini. Paling aman sih bawa lauk dari Indonesia untuk makan di sini.

Beruntung kami mendapatkan sopir taxi yang bisa berbahasa inggris dengan cukup baik, mengingat sangat sedikit yang bisa berbahasa Inggris di negara ini. Kami pun diantarkan ke salah satu rumah makan yang bernama Golden City Chetty Restaurant. Sebuah rumah makan India yang benar-benar sibuk. Kalau di Indonesia boleh lah disebut restoran ala mahasiswa (baca:warteg).

Akhirnya aku memesan satu porsi nasi kari ayam dengan minuman teh spesial yang ternyata adalah teh dengan susu. Berikut penampakan satu meja yang penuh dengan 4 porsi makanan. Dan itu masih terus menerus dikeluarkan.
Nasi Kari Ayam
Nasi Kari Ayam
Macem-macem yang ada di atas nasi itu aku enggak tau namanya, tapi menurutku rasanya aneh banget, antara asem kecut dan pahit jadi satu. Its weird! Aku cuma nyicipin dikit aja dan enggak mau aku apa-apain. Sedangkan yang ada di gelas aluminium itu semacam air asem. 

Kuah karinya meskipun berminyak rasanya benar-benar nendang banget. Beda sama yang bisa akau rasain di pinggiran jalan sini. Nilainya 8 deh buat kari ayamnya yang mak nyos. Mungkin bisa dicoba buat kamu yang lagi jalan-jalan di Yangon.

Lokasinya ada di 115-117 Sule Paya Road, Kyauktada Township, Yangon. Harga untuk seporsi kari ayam di restoran ini cuma 2400 kyaat. Ada menu lain yang aku juga enggak ngeh. Cuma bisa makan dengan Bismillah aja sih :D

Jalan Jalan Ke Pasar Bogyoke Aung San Market

Setelah makan siang bertujuh, kami melanjutkan perjalanan menuju Bogyoke Aung San Market, sebuah pasar seperti DTC kalau di Surabaya. Sebenarnya pasar ini paling cocok dikunjungi kalau kamu sudah mau pulang dari Myanmar, karena banyak banget oleh-oleh khas myanmar di pasar ini yang bisa kamu beli.

Mulai dari harganya yang murah sampai harganya yang mahal semua ada di sini. Salah sebenernya kalau hari pertama udah main ke sini. Karena bakal bikin bawaan makin berat saat jalan-jalan.

Bogyoke Aung San Market Yangon
Bogyoke Aung San Market Yangon
Pasar ini lumayan bersih, dan akan ada banyak orang yang sok akrab mulai dengan mengucapkan salam macem-macem. Ada baiknya enggak kamu tanggepin orang-orang semacam ini. Karena kalau kamu tanggapi, mereka akan terus mengikutimu meski dengan bahasa yang enggak kamu mengerti dan mereka secara pelan-pelan akan menyeretmu ke toko yang mereka kehendaki. 

Entah apa modusnya aku enggak sampai terjerat sejauh itu karena setelah masuk pasar aku enggak nanggepin orang itu lagi dan lama-lama juga ilang sendiri meski masih liatin dari jauh. Dan jumlah orang semacam ini itu enggak sedikit. Ada buanyak banget di pasar ini.
Salah Satu Penjual Kaos di Bogyoke Aung San Market Yangon
Salah Satu Penjual Kaos di Bogyoke Aung San Market Yangon
Kalau belanja di tempat ini kamu kudu pinter nawar untuk mendapatkan harga yang murah. Meski enggak semua orang bisa bahasa inggris dengan baik tapi kalau masalah angka perduitan pada paham kok penawaranmu. Untuk kaos rata-rata adalah 4000 kyaat tapi kalau beli borongan bisa dapet harga 3500 kyaat. Harganya beda lagi kalau untuk ukuran XL keatas.

Kalau longyi / sarung khas myanmar harganya 6000 kyaat sampai 8000. Disini kamu akan belajar bagaimana caranya menawar barang :D. Semoga bisa mendapatkan harga terbaik di pasar ini.
Penjual Longyi di Bogyoke Aung San Market Yangon
Penjual Longyi di Bogyoke Aung San Market Yangon
Pasar ini relatif sepi dan bersih. Enggak terlalu crowded sehingga nyaman buat belanja. Mungkin sesekali kamu akan menemukan anak-anak penjual postcard yang dibandrol dengan harga 2000 kyaat untuk 10 postcard. Harga pasaran emang antara 1500 - 2000 kyaat. Kalau lebih dari itu mending cari di tempat lain aja. 

You Might Also Like

0 comments

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Facebook

Subscribe