Sebuah Drama Menuju Bangkok

Kamis, Maret 10, 2016

Setelah cukup lelah keliling Bagan seharian yang sebenarnya kurang, kami harus melanjutkan perjalanan menuju Yangon untuk mengejar penerbangan malam ke Bangkok. Karena selain Myanmar, kami memang sudah berencana untuk mengunjungi Thailand juga.

Kami dijemput sekitar pukul 08.30 oleh tim dari Bus ShweManDaLar Express di guest house tanpa dikenakan biaya tambahan sama sekali. Ini fasilitas yang disediakan oleh pihak bus, namun cakupan areanya aku juga kurang tahu mana saja.

Bagan - Yangon dengan Bus ShweManDaLar Express

Kami berangkat dari Yangon ke Bagan naik JJ Bus Express, sedangkan pulang dari Bagan menuju Yangon kami naik Bus ShweManDaLar Express. Bus ShweManDaLar Express ini kelasnya berada di bawah JJ Bus Express. Meskipun begitu, harga tiketnya terpaut sangat jauh. Karena dengan ShweManDaLar aku cuma perlu mengeluarkan uang sebesar 13000 Kyaat. Kalau JJ Bus Express sebesar 23000 kyaat. Selisihnya 10000 Kyaat yang kalau di kurs kan sekitar 100 ribu.

Meskipun begitu, bus ini juga tetep nyaman kok, jauh lebih nyaman ini daripada bus sumber kencono Surabaya - Jogja. Jarak antar kursi cukup lebar sehingga tetap bisa nyaman ketika di perjalanan.
ShweManDaLar Bus
Bus ShweManDaLar Bagan - Yangon
Kalau dilihat penumpangnya, JJ Bus Express memang identik dengan para pelancong, Bis ini favorit para turis, sedangkan warga lokal banyak yang memilih ShweManDaLar Express karena harga yang terpaut cukup jauh. Penumpang cuma dapat satu botol air minum. Kalau kamu seorang desainer, kamu wajib hukumnya untuk meminum air ini, karena ini adalah Designer Water!
Designer Water
Designer Water
Bus ini berangkat dari terminal Bus Bagan sekitar pukul 9 pagi. Setelah aku cek, ternyata Bagan - Yangon itu jauh banget. Sekitar 600 kilometer. Kalau di Indonesia sama kaya Surabaya - Jogja PP. 
Jarak Yangon - Bagan di Peta
Jarak Yangon - Bagan di Peta
Karena ini siang hari, enggak mungkin bisa tidur dari berangkat di Bagan dan bangun di Yangon. Selama perjalanan, bus ini berhenti di beberapa loket untuk menaikkan penumpang. Pas ada di loket sekitar pasar, kami beli jajanan seperti keripik sukun yang dihargai 1000 kyaat dan keripik kentang dengan harga 500 kyaat. Lumayan buat camilan selama perjalanan.

Selain menikmati camilan, televisi juga menayangkan acara semacam film yang durasinya panjang banget menurutku. 3 jam bisa lebih lho itu. Ceritanya tentang 4 anak kembar yang terpisah karena ketika lahir mereka diletakkan di beragam keluarga yang berbeda. Ketika besar mereka memiliki kelakuan yang berbeda dan akhirnya bertemu kembali :D. 

Kalau dilihat filmnya, kualitasnya film semacam ini masih bagus film di Indonesia. Film ini bener-bener aneh tapi tetep bisa bikin aku ketawa meski enggak ngerti bahasanya.

Seperti JJ Bus Express, ShweManDaLar pun berhenti di salah satu rest area ketika jam makan siang. Dengan bismillah pun aku memesan nasi goreng ayam. Seriusan, sebagai orang Indonesia aku enggak bisa ngerasain enaknya nasi goreng di tempat ini. Berasa kaya nasi di goreng biasa, tanpa ada bumbu bawang putih dan bawang merah.
Nasi Goreng di Rest Area
Nasi Goreng di Rest Area

Drama Ketinggalan Pesawat 

Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 tapi belum ada tanda-tanda bis ini sampai di Yangon. Entah kenapa selama perjalanan, bus ini berjalan lambat dan beberapa kali berhenti tanpa ada alasan yang jelas. Padahal kita kan kudu boarding jam 8 malam. 

Beruntung ada wifi dari Tuhan yang datang entah dari mana, karena kami enggak ada yang beli kartu lokal untuk internetan. Bapak taksi yang mengantar kami keliling yangon juga bilang kalau enggak bisa jemput.

Kami masuk Yangon sekitar pukul 18.40 malam, itu pun masih dipinggiran. Untuk menuju terminal bus masih cukup jauh. Beruntung di sebelah Mbak Anggung ada mbak mbak cantik yang pernah kuliah di NTU Singapore dengan bahasa Inggris yang cukup lancar dan rela untuk membantu kami. Dia mendatangi sopir bus dengan ngomel-ngomel dan bertanya yang mungkin intinya kenapa bus ini kok lambat banget dan menceritakan kalau ada yang mengejar pesawat.

Setelah drama yang bikin galau karena ketinggalan pesawat, akhirnya kami pun turun di pom bensin ketika bis berhenti dan naik sebuah taksi yang dinaiki bertujuh. Untung bukan taksi dengan model sedan, sehingga aku tetep bisa naik di belakang bareng barang-barang. Terima kasih mbaknya yang enggak sempat aku tahu namanya.

Taksi pun ngebut ala fast furious dan sampai di Bandara sekitar pukul 20.00. Beruntung kami turun di pom bensin, karena kalau turun di terminal, jarak ke Bandara lebih jauh. Apalagi sore itu macetnya lumayan meski enggak terlalu parah. Aku lupa bayar taksi berapa malam itu. Jam 20.00 sampai di Bandara itu udah alhamdulillah banget enggak jadi ketinggalan pepsawat.

Web Check-in Masih Kurang di Yangon

Ketika mau masuk imigrasi aku di tolak gegara menggunakan boarding pass yang print sendiri ketika web check in. Khusus di Yangon, meski udah web check in, kita  masih perlu menukarkan boarding pass ke loket air asia. Sehingga kamu yang udah terlanjur naik ke lantai dua untuk menuju imigrasi kudu turun untuk minta boarding pass lagi.
Boarding Pass Air Asia di Yangon
Boarding Pass Air Asia di Yangon
Berhubung di Myanmar pakai longyi itu wajar, aku sengaja pakai sarung dari Penginapan sampai naik ke pesawat. Nanti baru dilepas ketika sampai di Thailand karena pakai sarung bukanlah hal yang wajar lagi :D.
A photo posted by Pandu Aji Wirawan (@ndundupan) on

Rangkuman

Pengeluaran selama perjalanan ini kurang lebih adalah sebagai berikut
  • Bus Bagan - Yangon : 13000 Kyaat
  • Keripik Sukun : 1000 Kyaat
  • Keripik Kentang : 500 Kyaat
  • Nasi Goreng : 2500 Kyaat
  • Taxi Pom Bensin - Bandara : Lupa
Kalau di total, habisnya sekitar 17000 Kyaat atau sekitar 170 ribu rupiah untuk perjalanan seharian itu. Mungkin itu dulu postingannya, habis ini lanjut cerita perjalanan di Bangkok dan sekitarnya :D

You Might Also Like

0 comments

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Facebook

Subscribe