Banjarbaru yang Memikat

Jumat, Juli 22, 2016

Malam itu aku berkeliling bersama Farida, dia enggak begitu ngerti sama Banjarbaru, karena dulunya tinggal di Banjarmasin. Bahkan obrolan singkatku dengan pemilik guesthouse membuatku lebih mengerti tempat-tempat hits di Banjarbaru daripada Farida.
Tugu Jam dekat Taman Van der Peijl
Tugu Jam dekat Taman Van der Peijl
Akhirnya kami pun mulai berkeliling tanpa tujuan selain mencari makan malam. Aku mulai menyusuri jalanan sesuai instruksi pemilik guesthouse sehingga aku bisa melihat bagaimana para muda-mudi berkumpul di sepanjang jalan di kawasan kantor walikota hingga sekitar taman Van der Peijl.

Selain menjadi tempat nongkrong kawula muda Banjarbaru, taman ini juga menjadi tempat favorit para pencari pokemon karena di taman ini terdapat Pokestop dan Gym. Selain itu seperti kata mbak nia, di taman ini juga terdapat menara Rapunzel dan Patung Godzilla :D . Ini serius memang ada, tapi aku enggak sempat ambil gambarnya.

Kawasan Perkotaan Ramai yang Ideal

Jalan di depan Taman Van Der Peijl
Jalan di depan Taman Van Der Peijl
Berkeliling menyusuri kota ini membuatku benar-benar terpikat. Bagaimana tidak? Jalanan cukup luas dengan kendaraan ramai namun tidak macet. Pokoknya kondisi jalanannya sebelas dua belaslah dengan tempatku tinggal saat ini di Blitar. Meski faktanya lebih ramai Banjarbaru.

Aku suka dengan keramaian seperti di Banjarbaru dan Martapura, sebuah keramaian yang benar-benar pas. Tidak lebih maupun kurang. Seakan komposisi keramaian menciptakan harmoni yang membuat nyaman pendatang sepertiku. Tidak ada kemacetan yang membuatku semakin nyaman berkeliling di kota ini.

Meski tergolong kota yang cukup besar, Banjarbaru sudah mulai sepi ketika jam sudah menunjukkan pukul 21.00. 

Banyak Penduduk Jawa

Tidak bisa dipungkiri bahwa daerah ini masih punya komposisi penduduk Jawa yang cukup banyak. Kita bisa dengan mudah menemukan penduduk Jawa membuka usaha warung makanan di Banjarbaru. Jadi jangan takut untuk tidak bisa merasakan masakan jawa di daerah Banjarbaru.

Bahkan beberapa kali ngobrol dengan orang yang berjualan di Banjarbaru, ternyata mereka mempunyai ikatan darah dengan orang Blitar. Mulai dari pemilik warung Gado-gado dekat Masjid yang membuatku memiliki kesan mahal banget tinggal di Banjarbaru, pemilik warung di depan museum Lambung Mangkurat yang kedua orang tuanya merupakan orang Blitar, penjual es tebu yang hampir menggratiskan es yang kami beli karena tidak ada kembalian memiliki istri orang Blitar. Mungkin bisa dibilang orang jawa 'menjajah' daerah Banjarbaru.

Overall, banyak penduduk Banjarbaru yang baik dan ramah terhadap siapa saja.

Susahnya Mencari Makanan Pedas di Banjarbaru

Setelah berkeliling Banjarbaru dan hampir nyasar ke arah Pelaihari, kami memutuskan makan di salah satu warung lalapan pinggir jalan. Lalapan Cak Abu yang terletak di dekat bundaran dalam simpang lima utara Universitas Lambung Mangkurat.
Lalapan Cak Abu di Banjarbaru
Lalapan Cak Abu di Banjarbaru
Setelah mencoba lalapan ini aku baru percaya bahwa orang Banjarbaru itu tidak suka dengan makanan pedas. Masa sambal lalapan cenderung manis dibandingkan pedas. Dan manisnya jauh lebih manis dari masakan orang Jogja (Aku heran padahal di Jogja masakan yang manis cuma gudeg, tapi kenapa orang-orang bilang masakan jogja itu manis-manis -,- )

Dan untuk satu porsi nasi ayam seperti di foto diatas harganya 13 ribu rupiah. Dari situ aku benar-benar sadar bahwa ibuknya pemilik warung gado-gado benar-benar nggapleki telah menggetokku dengan harga yang super duper mahal, padahal tahu kalau sama-sama orang Blitar nya :D

Selain itu orang Banjar suka makan dengan tangan, alias muluk! Serius, di beberapa tempat mulai dari warung hingga rumahan hampir tersedia kobokan cuci tangan. Kata Kak Elis, orang Banjar memang suka makan pakai tangan. Pantesan mbak Nia menantangku untuk makan Ketupat Kandangan dengan tangan alias muluk!

Nasi orang Banjar juga berbeda dengan nasi yang biasa aku makan di Jawa. Tekstur nasinya ambyar, cocok banget kalau dimasak untuk nasi goreng. Hampir semua warung nasinya seperti itu, hanya di warung-warung jawa nasinya agak lengket.

Rumah Daerah Banjar

Sebagian besar rumah di daerah Banjar, terutama yang dekat Banjarmasin dan ke arah pedesaan itu selalu menggunakan pondasi kayu untuk menopang rumah. Mungkin karena tekstur tanah rawa-rawa membuat pondasi kayu jauh lebih efektif daripada beton. Jadi hampir setiap rumah itu memiliki kolong rumah. Kalau di Banjarbaru karena daerahnya tidak berawa, aku sangat jarang menemukan rumah dengan kolong.
Rumah daerah Banjar
Rumah daerah Banjar
Selain itu setiap rumah dengan kolong di bagian depan selalu memiliki banyak jendela kaca, bahkan bagian depannya di dominasi jendela. Entah ini merupakan sebuah feng shui ala kalimantan atau bagaimana, namun memang begitu adanya.

Di beberapa daerah di Banjar kita bisa dengan mudah menemukan makam yang terletak di halaman rumah. Di jawa, pemakaman terletak di suatu daerah, sedangkan di sini meski ada yang sama dengan yang di jawa, tapi masih banyak warga yang memakamkan di halaman rumah. Beneran lho ini.

Pemakaman di halaman rumah
Pemakaman di halaman rumah
Makam bukan lagi tempat yang menyeramkan seperti di daerah Jawa. Di Jawa kita bisa dengan mudah menemukan pemakaman yang disinyalir tempat berkumpulnya para hantu. Kalau di Banjar bukankah sulit untuk mengumpulkan para hantu di satu tempat kalau makamnya terpisah-pisah seperti diatas?

Mudahnya Mencari Indomie di Banjar

Entah kenapa setiap warung yang aku singgahi hampir menyediakan Indomie. Mie instant ini seakan-akan adalah makanan kedua penduduk sini. Mulai dari warung pinggiran jalan hingga tempat nonkrong semua menyediakan Indomie.

Aku sebagai salah satu penikmati indomie soto ketika hujan pun jatuh cinta dengan indomie soto banjar limau kuit. Rasanya benar-benar nendang banget. Sayangnya aku belum nemuin di Blitar. 
indomie soto banjar limau kuit
indomie soto banjar limau kuit
Harga rata-rata untuk satu porsi indomie di Banjar itu sekitar 5 ribu rupiah. Itu hanya indomie di masak biasa tanpa ada tambahan apapun.

Aku suka dengan suasana kota Banjarbaru, infrastrutktur yang cukup memadai. Sayangnya udara kota ini tidak senyaman Blitar. Kalau bisa bener-bener seperti Blitar aku bisa saja pengen pindah ke Banjar :D. 

Selain itu koneksi internet telkomsel juga agak labil sih, meski sinyalhnya sudah H+ namun tidak stabil. Masa aku main game clash royale selalu kehilangan koneksi di tengah-tengah main. Ini membuatku kalah berulang kali ketika bermain.

Kesan pertama dengan Banjarbaru cukup baik. Untuk destinasi dan tempat-tempat yang perlu dikunjungi ketika di daerah Banjar ini ada di tulisan selanjutnya yak :D.

You Might Also Like

0 comments

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Facebook

Subscribe