Kopi di Sore Hari

Sabtu, Agustus 20, 2016

“Akhirnya semuanya beres!” Ujarku pada diriku sendiri.
Aku baru saja merapikan rumah yang menyimpan kenangan masa kecil. Tak banyak memang, namun rumah mungil di ujung komplek perumahan ini menjadi saksi keutuhan keluargaku. Tidak terasa sudah hampir tiga belas tahun aku meninggalkan rumah ini. Aku tidak percaya bahwa di setiap jengkalnya masih tersisa memori-memori yang membuatku tersenyum ketika mengingatnya.

Di dapur aku ingat, kala itu bapak mengayunkan sapu kepadaku berkali-kali lantaran aku terlalu lama bermain playstation di salah satu rental dalam komplek perumahan. Di kamar mandi yang dulu terdapat sebuah timba dengan ikan wader di dalamnya pun tidak banyak berubah. Coretan tangan kreatifku dan sticker tiga belas tahun lalu masih ada di pintu kamarku.

Setelah tiga belas tahun akhirnya aku kembali pulang ke kota ini, sebuah kota dimana aku dilahirkan. Dan kini aku kembali dengan sebuah janji pada seorang kawan “Berbuatlah sesuatu yang bermanfaat untuk daerahmu”.
---
Meski lelah setelah seharian beres-beres rumah, namun rasa lelah tersebut tidak berhasil membuatku mengurungkan niat untuk pergi melihat beberapa tempat yang sering aku kunjungi dulu. Tempat-tempat yang dulu ku kunjungi telah menjelma menjadi semakin megah, meski beberapa telah lenyap dan berubah menjadi bentuk yang lain.

Setelah cukup lelah berkeliling dan melihat perubahan-perubahan yang terjadi di kota ini aku pun berhenti di salah satu kafe yang tidak terlalu ramai. Sebuah kafe klasik dengan perabotan baru yang membuatku berkesimpulan bahwa kafe ini belum lama buka.

“Mau pesan apa mas?” Ujar salah seorang pelayan yang menghampiriku dengan sebuah buku menu
“Kopi Gayo satu mas” Kataku setelah membolak-balik buku menu
“Mau pakai tubruk, drip, pour over atau aeropress ?” Tanyanya kepadaku
“Pour over” jawabku
“Ditunggu dulu ya mas pesanannya” ujar pelayan kafe tersebut sambil tersenyum

Aku memperhatikan sekeliling, masih banyak ruang kosong yang bisa dimanfaatkan. Bahkan untuk sekedar camilan teman minum kopi pun tidak tersedia.

Tak lama kemudian datang seorang pria melihat sekeliling cafe, meski masih banyak tempat duduk kosong, sepertinya ia tidak sedang mencari tempat duduk. Mungkin ia sedang membuat janji dengan temannya yang ternyata belum datang.
Dia masih berdiri di tempat yang sama dan mengeluarkan rokok kemudian menyulutnya. Sambil tetap berdiri memperhatikan sekitar ia menghembuskan asap rokok ke udara. Cukup lama aku memperhatikan pria yang tak kunjung duduk itu sampai tidak terasa pesanan kopiku datang.

“Ini ya mas kopinya” Ujar pelayan yang mengantarkan pesananku

Ternyata pour over kopi langsung dilakukan di meja pemesan. Daripada memperhatikan seorang pria terus nanti dibilang homo lebih baik aku ngobrol dengan masnya yang menyeduh kopi dengan teknik pour over.

“Kafenya masih baru ya mas?” Tanyaku
“Iya mas, baru buka seminggu. Baru sekali ini ke sini ya mas?” Tanyanya balik
“Iya mas, kok enggak ada camilan apa gitu? Kan nggak enak kalau ngopi enggak ada jajanannya” Tanyaku
“Maaf mas, sebenernya ada tapi biasanya datang jam enam an. Karena ramenya ngopi biasanya habis magrib” Balas masnya

Yang aku bicarakan dengan mas penyeduh kopi tersebut hanya formalitas belaka, biar enggak bosen karena enggak ada hal lain yang aku lakuin. Setelah selesai, masnya kembali ke belakang dan aku mulai mencoba menikmati secangkir kopi yang tersedia di mejaku.

“Ah, rasanya sama saja dengan kopi gayo yang biasanya aku nikmati diperantauan”

Aku menoleh lagi ke pria yang tadi, ternyata ia masih berdiri di tempat yang sama sambil berbicara dengan orang di seberang telepon genggamnya. Aku merasa ada yang aneh dengan pria ini, semakin lama aku perhatikan aku merasa semakin familiar dengan pria tersebut.

Dilihat dari bentuk wajahnya mengingatkanku kepada salah seorang teman ketika duduk di bangku sekolah dasar dulu. Mungkinkah dia temanku sekolah sewaktu SD dulu? Setelah cukup lama meyakinkan diri, akhirnya aku beranikan untuk menyapanya?

“Rofiq ?” Tanyaku setengah ragu

Pria itu menoleh kepadaku dengan wajah sedikit kebingungan mencoba untuk mengenaliku

“Siapa ya?” Tanyanya dengan nada keheranan

Ah, ternyata benar. Dia Rofiq temanku satu kelas ketika SD dulu.

“Duduk sini dulu, biar kamu ingat siapa aku” Ajakku
Sambil sedikit kebingungan akhirnya dia duduk bersamaku.

“Enggak pesen kopi?” Tanyaku sebelum memperkenalkan diri
“Nanti dulu pesennya, kamu siapa? Kok tahu namaku?” Tanyanya semakin penasaran
“Masa lupa? Kita dulu satu kelas waktu SD!” Jawabnya

Dia cukup lama mengernyitkan dahi dan berusaha mengingat teman-temannya ketika SD dan pada akhirnya dia menyerah tak mengenaliku sama sekali.

“Aku Aji” Jawabku pendek
“Hah? Serius?” Jawabnya setengah kaget

Aku hanya menjawab dengan senyuman

“Kamu benar-benar berubah, beda banget sama dulu yang item dan kurus. Meski itemnya masih tetep tapi kamu sekarang gemuk, aku sampai tidak tahu kalau itu kamu” Jawabnya mengingatkanku keadanku waktu kecil.

Akhirnya kami bercerita tentang kehidupannya masing-masing dan sedikit mengulas kejadian-kejadian menarik di masa lalu.

“Jangan terburu-buru pulang ya, aku kontak temen-temen lainnya biar dateng ke sini. Itung-itung reuni kecil-kecilan lah” Jawabnya untuk memastikanku agar tidak pulang terlebih dahulu

Aku memang belum ada keinginan untuk pulang ke rumah. Selain karena kopiku masih, kini ada seorang teman ngobrol.

“Enggak usah ajak temen-temen, ngrepotin mereka saja” Cegahku
“Udah enggakpapa, lagian banyak yang lagi nganggur di rumah. Mumpung mereka belum balik ke perantauan” Ujarnya meyakinkanku

Akhirnya teman-teman SDku dulu mulai berdatangan. Ada Raya, Dicky, Dani, Rio, Agung  dan Novi. Memang sebagian dari mereka tidak banyak berubah. Mereka benar-benar kaget dengan penampilanku saat ini. Padahal dulu aku tampak seperti tidak bisa gemuk, tapi sekarang kegemukanku bisa mengalahkan kegemukan mereka semua.
Ngopi Bersama Teman Teman
Ngopi Bersama Teman Teman

Tidak terasa kopi pertamaku sudah habis, akhirnya aku memesan kopi yang sama untuk kedua kalinya di malam itu sambil ngobrol bareng teman-teman SD yang sudah banyak berubah.
Raya sekarang sedang berusaha menyelesaikan skripsi yang terlalu lama molor, begitupun Dani yang juga sedang berusaha untuk menyelesaikan skripsinya. Dicky bekerja di salah satu bengkel mobil cukup besar di kota tetangga. Rio kini bekerja juga di salah satu perusahaan IT di ibukota. Sedangkan agung juga masih bingung mencari kerja karena baru saja keluar dari pekerjaan lamanya di salah satu perusahaan lokal. Sedangkan Novi memiliki sebuah usaha di pinggiran kota kecil ini.

Ketika aku bercerita tentang keinginanku kembali pulang untuk membuat sesuati di kota ini semua mata tertuju kepadaku.

“Akhirnya bakal ada temennya di Blitar” Ujar Raya
“Aku juga akan kembali ke Blitar setelah skripsiku selesai ini” Dani menimpali
“Akhirnya bakalan banyak temen-temen kembali pulang, jujur sejak temenku banyak yang nikah dan ikut suaminya, aku enggak punya temen lagi di sini. Kalau balik sini jangan cepet-cepet nikah ya biar aku ada temennya” Eka menyahut

Gelak tawa pecah di meja kami. Meski banyak mata yang memandang kami, kami tetap tidak peduli. Memang benar kata masnya, semakin malam suasana cafe mulai sedikit rame.

Entah kenapa, seduhan kopi kedua ini memiliki rasa yang jauh lebih nikmat dibanding seduhan pertama tadi. Padahal cara dan penyajiannya masih sama.  Mungkinkah kenikmatan ngopi itu bukan karena jenis maupun cara pengolahannya, tetapi dengan siapa ngopinya ?

Aku nggak pernah mengira sebelumnya bakal ketemu teman-teman SD, apalagi dengan cara yang seperti ini. Ya, gara-gara ngopi aku bisa ketemu temen-temen di hari pertama aku kembali pulang. Banyak ide-ide liar yang terlontar begitu saja malam itu.

Setidaknya ide-ide liar dari teman-teman tersebut membuatku memiliki gambaran tentang apa yang akan aku lakukan selama tinggal di kota kecil ini.

Malam semakin larut, ketika banyak dari temen-temen yang harus pulang karena adanya jam malam. Akhirnya kami pun bubar ketika jam menunjukkan pukul sebelas malam. Waktu dimana kota kecil ini bagaikan sebuah kota mati yang tak berpenghuni.

Ketika aku akan membayar pesasnan kami, ternyata pelayan menolak.

“Lho kok enggak usah bayar mas? Ada promo gratisan kah? “ Tanyaku kepada kasir kafe tersebut
“Enggak ada promo mas, tadi di peseni sama mas Rofiq kalau semua yang semeja di gratisin” Ujar kasirnya
“Ha? Digratisin? Kafe ini punya Rofiq mas?” Tanyaku setengah tidak percaya
“Iya mas, ini kafenya Mas Rofiq” Ujar kasir tersebut sambil tersenyum.

Aku segera hampiri Rofiq yang masih ada di depan bareng teman-teman yang mau pamitan

“Kafe ini punyamu Fiq?” Tanyaku masih bingung.
“Lho, kamu enggak tahu to Ji?” Tanya Dani menyahut
“Enggak, lha dari tadi ngobrol sama Rofiq dia enggak cerita sama sekali” Jawabku
“Udah lah, sekarang enggak perlu bayar. Itung-itung reuni kecil-kecilan. Tapi lain kali kalau ngopi ke sini lagi baru bayar” Kata Rofiq

Ternyata cuma aku yang enggak tahu kalau kafe ini punya Rofiq. Lainnya udah tahu. Sepulang dari kafe itu aku enggak bisa tidur dengan nyenak. Ini bukan karena pengaruh dari dua cangkir kopi, tetapi karena ide-ide liar dari obrolan santai di kafe kopi. Obrolan malam itu membuat tekatku semakin bulat bahwa aku tidak sendiri dalam bercita-cita kembali pulang ke tanah kelahiran untuk berbuat sesuatu

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

You Might Also Like

0 comments

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Facebook

Subscribe