31 Oktober 2017

Perjalanan Blitar - Jogja via Wonogiri Naik Motor Sendirian

Jam sudah menunjukkan pukul 4.30 ketika aku bangun pagi itu, sebenernya enggak ada rencana untuk berangkat pagi-pagi buta tapi karena cuaca yang seringkali tak bersahabat di kala sore, akhirnya aku putuskan untuk bersiap berangkat sepagi mungkin.

Jam 5 ketika semua sudah siap, aku pun membuka pintu rumah dan tanpa di komando air hujan datang bergerombol menyerang bumi. Hati yang tadinya riang gembira memulai perjalanan hari ini akhirnya jadi dongkol. Aku urung berangkat, pagi-pagi berangkat diguyur hujan kan males banget. haha

Sekitar pukul 6, hujan sudah mulai reda, tinggal gerimis tipis yang tampak akan segera berakhir. Namun naas, baru jalan beberapa kilometer dari rumah, hujan deras kembali turun. Akhirnya aku mampir ke rumah salah satu 'ibuku' menunggu hujan reda. Setidaknya dengan mampir dapat sarapan gratis :D.

Ternyata hujan masih turun hingga pukul 8. Aku udah hopeless, lihat info cuaca yang memperkirakan hujan reda sekitar pukul 10 pagi. Aku nggak pernah melihat perkiraan cuaca sebelumnya, gegara hujan aku pun jadi lihat dan memperkirakan kemungkinan hujan selama perjalanan.

Akhirnya jam setengah 10 aku tetep nekat berangkat meski masih gerimis. Hari itu aku melakukan perjalanan ke Yogyakarta untuk menghadiri Craft, Festival Animasi Tradisional tingkat Dunia. Rute yang kuambil melalui jalur tengah, yaitu Blitar - Tulungagung - Trenggalek - Ponorogo - Wonogiri - Klaten - Yogyakarta.

Ini perjalanan pertama naik motor ke Jogja start dari Blitar, enggak tahu kenapa aku pengen banget menikmati perjalanan naik motor kali ini. Berhubung tadinya niat berangkat berdua akhirnya berangkat sendiri di detik-detik terakhir, aku enggak terlalu banyak mengabadikan gambar selama perjalanan.

Blitar - Tulungagung - Trenggalek - Ponorogo

Perjalanan dari Blitar ke Ponorogo cukup nyaman dan mulus, secara keseluruhan jalan udah cukup nyaman. Hanya saja di deerah Tulungagung, tepatnya di sebelah barat terminal hingga pertigaan lampu merah kalangbret jalan beraspal dan bergelombang. Meski sudah mending lubang-lubang ditambal tetap saja bergelombang membuat perjalanan super duper enggak nyaman.
Pemandangan Trenggalek - Ponorogo
Pemandangan Trenggalek - Ponorogo
Sama dengan kondisi mendekati Ponorogo, terutama daerah sebelum masuk Jetis. Jalan cukup panjang dan kondisi jalan aspal dengan banyak tambalan yang cukup menyiksa pengguna motor sepertiku.

Aku belum pernah mencoba rute perjalanan dari Trenggalek ke Ponorogo, jalan berliku khas pegunungan dengan pemandangan alam memikat membuatku rindu dengan Pacitan. Namun di sepanjang jalan banyak aku temui tambang-tambang batu, selain itu ada banyak pickup yang membawa sapi namun super duper membahayakan. Masa iya kalau sapinya kencing langsung ke jalan, karena posisi sapinya malang di bak pickup.

Batas kota Ponorogo
Batas kota Ponorogo
Hanya ada satu titik yang longsor untuk rute Trenggalek - Ponorogo, tetapi enggak sampai menimbulkan kemacetan karena jalannya emang bener-bener sepi banget. Aku sampai di ponorogo sekitar pukul 12.00, berhenti bentar di pom bensin buat isi bensin dan ngelurusin kaki, sekitar pukul 12.40 aku melanjutkan perjalanan menuju ke Wonogiri.

Wonogiri - Klaten - Yogyakarta 

Ponorogo - Wonogiri merupakan perjalanan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, jadi pemandangan selama perjalanan dan akses jalan yang bener-bener enak membuatku bisa memacu kendaraan cukup kencang. Dari Ponorogo kota ke Wonogiri Kota ternyata cukup jauh, namun pemandangan alam yang disuguhkan benar-benar memikat.

Aku sempat berhenti untuk sekedar minum dan ambil foto, kadang juga memperlambat laju kendaraan karena pemandangan yang cukup indah dimata. Apalagi sawah lagi hijau-hijaunya, sehingga semuanya tampak begitu indah. 
Perjalanan ke Wonogiri
Perjalanan ke Wonogiri
Bahkan aku sempat kepikiran buat tinggal di kawasan Purwantoro, Wonogiri. Tapi akses kemana-mana jauh cuy :D. Enggak ada kereta api juga, jadi pikir-pikir deh. Tapi untuk suasana sekilas sih nyaman.

Perjalanan menuju ke Wonogiri cukup jauh, bahkan aku sempat beberapa kali berhenti cuma buat cek maps. Apakah aku masih berada di jalan yang benar? Ternyata memang jalannya aja yang super duper panjang, apalagi sendirian. Begitu masuk Kota Wonogiri, semuanya berubah jadi panas dan gerah.
Pemandangan di Wonogiri
Pemandangan di Wonogiri
Dari Kota Wonogiri, ambil kiri setelah terminal melewati jalur tengah sawah yang baru saja di cor. Sepertinya jalan ini merupakan jalan raya alternatif yang sedang dibangun untuk mempermudah akses menuju ke Klaten. Sepanjang jalan ini tidak begitu ramai, kondisi aspal juga masih cukup bagus dan tampak pembangunan beton untuk fondasi aspal sedang dikerjakan. Jadi tidak heran ketika menemukan beberapa pengalihan jalan.

Aku sempat berhenti dan beristirahat di salah satu pom bensin yang masih berada di wilayah Wonogiri, aku lupa tepatnya karena tidak berada di jalur utama. Papan informasi pun tak begitu aku perhatikan.

Agak bingung waktu melalui daerah Cawas sebelum masuk ke Klaten. Jalanan tak begitu luas dan sudah mulai rame. Petunjuk arah ke Klaten juga enggak ada, sehingga memanfaatkan gps untuk mengarahkan jalan. Karena udah enggak tampak lagi ada jalan utama, karena setiap percabangan sudah mirip sama jalur utama :D.

Begitu keluar ke jalan provinsi, ternyata sudah berada di dekat stasiun Klaten. Tinggal ngikutin aja jalan utama bisa sampai Jogja. Udah enggak perlu pakai GPS lagi kalau sudah sampai di Jalur Provinsi.

Sesampainya di kawasan candi Prambanan, hujan gerimis membasahi jalan. Bapak-bapak gojek berebutan untuk segera sampai ke tujuan secepatnya. Aku udah males buat berhenti pakai jas hujan, toh enggak jauh udah sampai di kawasan Gedong Kuning. Ternyata sampai depan bandara Adi Sucipto udah enggak ada hujan sama sekali. Beruntung aku tadi enggak pakai jas hujan :D.

Seporsi Sate Ayam di Kotagede

Tepat pukul 5 sore aku sudah duduk menunggu pesanan seporsi sate ayam 10 tusuk di Jl. Kemasan Kotegede. Tempat dimana dulu aku pernah tinggal selama satu tahun. Harga 10 tusuk sate ayam 10 ribu, dengan lontong 3 ribu dan es jeruk 3 ribu. Total seporsi makan 16 ribu sudah super duper  kenyang.

Cabe dan  brambang bisa bebas ambil sendiri, sayangnya aku enggak ngambil foto sama sekali karena udah terlalu lapar. Kalau mamu coba sih, silakan datang ke PKU Muhammadiyah di Jl. Kemasan Kotagede. Sate ayamnya berada di sebelah utara PKU Muhammadiyah barat jalan. Cuma warung tenda biasa. Parkir motor pun bayar 2 ribu ada kembalian seribu rupiah :D. 

Posting Komentar

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search