12 Maret 2018

Sarapan Nasi Tiwul dan Sayur Lompong di Gumuk Sapu Angin

Hari Minggu biasanya aku habiskan untuk bersantai di rumah, membayangkan untuk main ke tempat wisata itu udah bikin capek karena banyaknya pengunjung yang membludak. Namun berbeda untuk hari Minggu kemarin, aku bareng Pak Harry, Farid dan Sinsel nyoba main-main ke beberapa tempat wisata yang ada di kawasan Blitar Timur agak ke Utara. Yaitu daerah Gumuk Sapuangin dan Lereng Gogoniti.

Membutuhkan waktu kurang lebih satu jam perjalana dari Kota Blitar menuju Gumuk Sapu Angin yang secara administratif terletak di Dusun Purworejo, Desa Resapombo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar berada di perbukitan dengan ketinggian sekitar 800an mdpl. Sehingga meskipun cuaca panas, tetapi masih ada angin sejuk yang selalu berhembus.

Tidak tampak adanya pengunjung ketika kami sampai di lokasi sekitar pukul 9 pagi. Aku pun cukup kaget dengan fakta lapangan ini, bukannya di akhir pekan harusnya ada banyak pengunjung tempat wisata macam ini? Ternyata dugaanku salah, faktanya emang hari itu memang sedang sepi.

Tidak butuh waktu lama untuk bisa mencapai puncak gumuk sapu angin dengan berjalan kaki, meskipun nafas juga mulai ngos-ngosan gegara jarang berolahraga dengan baik, benar dan rutin. Sesampainya di puncak gumuk sapu angin ini aku merasa asing, karena enggak ada siapa-siapa diatas. Moment ini mengingatkanku ketika melakukan pendakian gunung buthak via sirah kencong yang juga tidak menemukan satu orang pun di puncaknya.

Banyak yang berubah dari Gumuk Sapu Angin ini, jika dibandingkan dulu waktu pertama aku main ke sini. Tentuya kebanyakan perubahan ini aku lihat sih positif.
 Gumuk Sapuangin di Siang Hari
Gumuk Sapuangin di Siang Hari

Beberapa spot foto ala perahu berbahan bambu juga masih bertahan, meski salah satunya mulai diganti menggunakan cor beton yang masih dalam tahap pembuatan. Mungkin karena faktor keamanan membuat pengelola mau nggak mau harus ngecor spot ini. Gunung kelud masih tampak megah dari spot foto andalan gumuk sapu angin.

Selain itu, warung yang berada di bagian puncak di relokasi berada di ujung sehingga puncak bukit ini menjadi semacam ruang kosong yang cukup luas, enak banget kalau boleh buat camping mengelilingi tempat ini sambil membuat api unggun di tengahnya.
Warung Tegalan di Gumuk Sapu Angin
Warung Tegalan di Gumuk Sapu Angin
Kamar mandi cukup bersih dengan air yang juga dingin, bunga yang berada di sekitar tempat ini juga bisa dibilang cukup terawat. Selain itu juga ada mushola yang bisa digunakan untuk beribadah. Di warung ndeso paling ujung, terdapat beragam sajian makanan khas pedesaan yang super duper enak.

Semakin siang, tampak beberapa orang mulai berdatangan ke lokasi ini, kami bercengkrama dengan pengelola kawasan ini yang merupakan milik perorangan yang dikelola bersama, karena berada di tanah milik perorangan.  Umumnya, pengunjung datang ke Gumuk Sapu Angin ini ketika siang menjelang sore, jadi wajar saja ketika masih pagi itu enggak banyak yang datang ke tempat ini seperti kami.

Sebelum kembali meninggalkan  gumuk sapu angin, kami menikmati sajian khas warung ndeso berupa Nasi Tiwul, Sayur Lompong dan Ikan Pindang. Meski ada pilihan ayam, tapi itu bukanlah sebuah pilihan yang tepat bagiku, karena ayam kurang cocok untuk disandingkan dengan sayur lompong. Entah kenapa sarapan seperti ini lebih menggugah selera buatku, enggak ada menu macam gini waktu backpackeran ke jepang karena emang Indonesia ini kaya akan segalanya sehingga segalanya bisa diolah menjadi sumber makanan yang enggak ada di daerah lain.
 Nasi Tiwul + Sayur Lompong dan Ikan Pindang
Nasi Tiwul + Sayur Lompong dan Ikan Pindang
Menikmati jangan lompong dengan suasana desa bersama orang-orang yang tinggal di desa memang jauh berbeda sensasinya jika dibandingkan makan makanan khas desa di restoran bintang lima. Kamu bisa membeli makanannya, tetapi rasa itu enggak akan bisa terbeli. Ibarat liat konser dangdut di TV akan beda rasanya dengan liat konser langsung secara  live.

Oh iya, sebelum pulang kami masih disuguhi dengan Degan hijau yang masih fresh baru dipetik dari pohonnya. Jadi sekitar pukul 12. siang kami melanjutkan ke 3 destinasi selanjutnya yang akan aku tulis dalam satu artikel sendiri setelah ini. Kalau mau datang ke gumuk sapu angin bisa baca rute menuju gumuk sapu angin yang sudah pernah aku tuliskan di halaman lain.

Posting Komentar

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search