22 Maret 2019

Minggu Pagi Njajan di Pasar Karetan Kendal dekat Semarang

njajan di pasar karetan
Hari Minggu sebelum kembali ke Blitar kami mampir ke Pasar Karetan yang berada di daerah Boja, Kendal. Meskipun begitu, aksesnya lebih mudah dan lebih dekat dari Semarang daripada Kendal. Perjalanan dari Semarang menuju ke daerah Mijen membutuhkan waktu kurang dari satu jam. Nah, seperti halnya di kampung jawi, bus pariwisata tidak bisa masuk hingga ke lokasi. Kami diminta untuk menunggu di Kantor Kecamatan Mijen yang jaraknya kurang lebih 5km dari pasar karetan. Ada tim dari pasar karetan yang akan menjemput naik odong-odong alias kereta kelinci.

15 menit menyusuri jalanan pedesaan di Boja menjadi perhatian masyarakat sekitar karena kereta yang biasanya dinaiki orang tua untuk ngemong anak-anaknya, kini berubah berisi orang-orang yang sudah setengah tua tanpa anak-anak. Kmi pun sampai di Radja Pendapa Camp yang beralamat di Rt 04, Rw 04 Meteseh, Boja - Kendal. Di sini lah lokasi Pasar Karetan yang digelar tiap minggunya.

Pasar Karetan, Pasar Tradisional Minggu dekat Perkebunan Karet

Pasar Karetan ini terletak di sekitar perkebunan karet yang disulap menjadi sebuah pasar minggu dengan aneka jajanan jadulnya. Uniknya, untuk bertransaksi di pasar karetan kita diharuskan untuk menukarkan uang terlebih dahulu uang rupiah menjadi girik yang dikelola oleh pengurus. Karena seluruh transaksi di pasar karetan ini menggunakan girik.
 Girik, uang di pasar karetan
Girik, uang di pasar karetan
Terdapat gubuk-gubuk yang tersebar di kawasan pasar karetan ini menawarkan aneka jajanan tradisional. Karena tadi sudah sarapan di Hotel Noorman, akhirnya aku putuskan untuk jalan-jalan terlebih dahulu sebelum mencoba aneka menu masakan kuliner yang tersedia. 

Yang unik, selain penjual memakai pakaian tradisional untuk membangun kesan jadul, penyajian aneka jajanannya pun menggunakan peralatan tradisional seperti daun, anyaman maupun tembikar. Jadi berasa dibawa ke jaman film angling dharma maupun mak lampir. Nggak tahu film itu? Mungkin kita sudah beda generasi.

panggung hiburan di pasar karetan

Terdapat panggung hiburan dengan tema-tema khusus setiap minggunya, bahkan buat pengunjung yang mau mengisi pun dipersilakan. Foto di atas, Salah satu rombongan dari Blitar ikut perform di panggung hiburan.

Setelah berkeliling, melihat spot foto dan lain sebagainya yang ternyata hanya aku video tanpa aku foto. Aku memutuskan untuk mencari tempat yang jual camilan yang nggak terlalu ramai. Kenapa? Karena pengen ngobrol sama penjualnya tanya-tanya tentang pasar karetan ini.

Seorang mbak penjaga gubuk dengan pakaian kebaya biru tosca yang manis duduk sendirian. Setelah aku dekati jebul jualan wedang tahu dan aneka jajan pasar lainnya. Aku pun duduk dan memesan satu porsi wedang jahe yang dibandrol dengan harga 10 ribu rupiah. Cocok dinikmati dengan klepon yang manis ketika digigit.

Pasar Karetan ini sudah berjalan kurang lebih satu tahun dengan pengunjung yang lumayan. Ketika tanggal muda, pengunjung bisa lebih banyak dibandingkan tanggal tua, begitu ujar mbaknya. Aku lupa kemarin dari mana, padahal udah tanya. Apalagi kalau ada informasi ada artis yang datang, bisa makin banyak yang datang.
 Salah satu penjual di pasar karetan
Salah satu penjual di pasar karetan
Untuk omset penjualan jajanan pasar juga lumayan, tapi kalau makanan berat sehari jualan bisa sampai UMR Blitar cuy! Bahkan bisa lebih kalau lagi rame-ramenya. Intinya ternyata berjualan di tempat semacam ini menguntungkan untuk mereka meski harus agak ribet dengan dandanannya. Worthed kok untuk diperjuangkan.

Penggunaan girik juga mempermudah untuk pembagian hasil antara pengelola dengan penjual. Karena selain menanggung biaya maintenance, pengelola juga menanggung biaya sewa odong-odong. Karena, parkiran kendaran itu nggak ada di pintu masuk pasar karetan, tetapi agak jauh, sekitar 800an meter dari lokasi yang diantar jemput sama odong-odong.
 Salah satu makanan khas Semarang
Salah satu makanan khas Semarang
Sebelum kembali pulang aku sempat ngobrol dengan salah satu pengurus yang aku lupakan namanya. Aku malah ditawarin makan semacam pecel namun sambelnya bercampur dengan parutan kelapa. Mengingatkanku dengan pecel bumbu pyur yang ada di Pacitan. Sudah bikin perut makin kenyang, nggak boleh bayar pula sama ibuknya yang jualan. Maka nikmat tuhan mana yang kau dustakan? Enak to?

Untuk teman-teman yang ingin berkunjung ke tempat ini, jangan datang sendirian, kurang seru! Datang bareng teman maupun keluarga bareng-bareng makin asyik. Jadi bisa sekalian piknik dengan suasana kebun karet nan syahdu di hari Minggu pagi.

Perlu diingat kalau pasar karetan ini hanya ada di hari Minggu pagi sampai dengan jam 12an siang. Biasanya kalau sudah lebih dari jam tersebut penjualnya sudah pada buyar. Nanti kalau videonya udah kelar, bakal aku tuliskan di sini.
Loading...
Temukan aku di Facebook, Instagram , Twitter!
Kalau artikelnya nggak muncul, coba deh matikan adblocknya ;)

Posting Komentar

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search