Nasi Pecel Pandean, Wlingi Lebih dari Sekadar Rasa

Last Updated on 6 months by panduaji

Nasi pecel di daerah Pandean Wlingi mungkin nggak lebih dari sekadar warung nasi pecel pada umumnya, karena aku malah baru tahu dari Niswa yang sudah menjadi pelanggan di warung ini sejak masih kecil. Sebagai ganti karena batal sarapan nasi pecel setelah mencari titik nol kilometer Blitar, aku membayarnya dengan menemani sarapan di warung nasi pecel.

Udah setahun lebih dia enggak pulang, sekalinya pulang enggak makan pecel kan sayang yak. Padahal kalau mau, bisa kok beli sambel pecel Blitar online yang bisa dinikmati di Jakarta :)). Padahal sebenarnya bukan masalah nasi pecelnya, tapi emang ada yang kurang sih kalau ke Blitar enggak makan nasi pecel

Nasi Pecel Pandean Wlingi menjadi pilihan tepat buat melepas rindu. Selain rasanya yang istimewa, kenangan merupakan bumbu rahasia yang membuat rasa semakin enak.

Nggak percaya? Coba aja tengok berbagai tempat makan legendaris yang ada di berbagai penjuru kota. Terkadang rasanya biasa saja, tetapi menurut teman-teman yang merekomendasikan rasanya super duper enak. Mereka memiliki kenangan sebagai penyedap rasa tambahan yang nggak kita dapatkan.

Seperti halnya makan bakso atau indomie godok ketika hujan, membuat makanan semakin enak bukan?

Nasi Pecel dan Es Dawet

Pagi yang mendung diiringi sedikit gerimis tipis-tipis romantis memang enak untuk sarapan dengan nasi hangat yang masih kemebul. Nggak peduli apapun lauknya.

Warungnya bisa dibilang cukup sempit, namun memanjang. Bahkan apabila ada mobil yang berhenti di depannya, warung nggak akan kelihatan. Uniknya tembok dari warung ini memiliki tampilan yang nggak kalah sama kafe kekinian. Gambar grafis di temboknya diselesaikan dengan cukup apik

Berhubung sudah jauh-jauh ke Pandean, Wlingi di pagi hari dan kegerimisan aku pun memesan paket menu komplit seperti yang ada di gambar temboknya.

Nasi Pecel Pandean, Wlingi
Nasi Pecel Pandean, Wlingi

Nasi pecel dengan lauk tahu, tempe, perkedel, rempeyek dan telur dibandrol dengan harga sepuluh ribu. Kalau paket standard tanpa telur dibandrol dengan harga tujuh ribu rupiah saja.

Es Dawet di Blitar
Es Dawet seharga 3 ribu rupiah

Sedangkan seporsi es dawet yang hanya dibandrol tiga ribu rupiah berisikan cendol, bubur sunsum, semacam agar-agar dengan kuah santan dan gula merah cair. Murah kan? Makanya enak tinggal di kota kecil macam Blitar :))

Nggak ada yang bisa dikomplain untuk rasa pecelnya selain sambel yang kurang pedas menurut takaran lidahku. Karena setiap orang memang memiliki kemampuan untuk menakar rasa pedasnya masing-masing. Sedangkan dawetnya juga terlalu manis menurut standard lidahku yang sudah mulai terbiasa nggak mengkonsumsi gula.

Seporsi nasi pecel dengan tambahan dawet bener-bener membuat kenyang tak terkira untuk aku yang sudah mulai mengurangi porsi makan. Tapi ya gimana lagi, udah jauh-jauh ke sini masa iya enggak nyobain.

Kata Niswa, yang bikin seneng makan di sini itu bukan masakannya. Karena emang masih ada beberapa warung yang lebih enak dibandingkan warung pecel Pandean Wlingi ini. Tapi kenangan ketika kecil sering makan disini enggak bisa digantikan sama sekali.

Mungkin kamu juga punya rekomendasi tempat makan memberikan banyak kenangan dan nggak terlupa sampai sekarang? Coba tulis di kolom komentar, mungkin next time pengen nyobain tempat-tempat makan yang memiliki cerita :))

Previous

Mencari Titik Nol Kilometer Kota Blitar

Pantai Bakung dan Pantai Dung Dowo, Dua Pantai Perawan di Blitar Selatan

Next

Saya juga ada di Instagram facebook Twitter dan Youtube Suka menulis tentang blogging di panduaji.com

Leave a Comment