Kembali Menggunakan SE G502

Senin, Februari 24, 2014

SE G502
Sony Ericsson merupakan salah satu produsen ponsel yang kini sudah berpisah. Meski sudah resmi bercerai, ponsel yang saya gunakan saat tetap bernama Sony Ericsson. Saya ingat membeli ponsel ini bersama teman saya Burek yang memiliki nama asli +Firdaus pada Surabaya Shoping Festival tahun 2008 seharga 1.4 Juta.

SE G502 merupakan salah satu ponsel pintar / smartphone di jamannya lengkap dengan dukungan koneksi internet HSDPA / 3G. Ponsel ini merupakan ponsel 3G termurah saat itu. Saya juga ingat presentasi produk saat mata pelajaran kewirausahaan, ponsel ini yang saya presentasikan seolah-olah saya adalah tim marketing. Gara-gara saya menggunakan ponsel ini, ada beberapa teman yang ikut membeli ponsel sejenis :D

Setelah lebih dari 5 tahun saya memiliki ponsel ini, ternyata sampai saat ini semua fitur yang ada dalam hp jadul ini masih berfungsi dengan normal. Saya menggunakan ponsel ini lagi setelah menjual hp smartfren andromax-i dengan alasan bosan dengan smartphone.

Ada beberapa alasan yang membuat saya meninggalkan smartphone dan kembali menggunakan jadulphone. Saya akan coba ulas pada postingan kali ini.

Baterai Boros

Saya benci kalau sedang butuh ponsel untuk sekedar sms dan telepon ternyata baterai ponsel habis. Kalau hanya sekedar say hello sih gak masalah, tapi kalau keadaan sedang genting dan darurat? Lama-lama malas juga diperbudak oleh smartphone yang mengharuskan dekat dengan arus listrik karena borosnya baterai dan membawa powerbank sebagai alternatif.

Dengan ponse jadul SE G502, saya bisa hemat baterai. Untuk pemakaian normal sms dan telepon, saya hanya cas 2 - 3 hari sekali. Toh fitur utama hp juga untuk sms dan telepon. Berikut perbandingan antara smartphone dan jadulphone yang saya ambil dari 9gag.


Harus Lihat Layar

Smartphone saat ini kebanyakan mengusung touchscreen yang mengharuskan kita untuk melihat layar dalam melakukan berbagai macam aktifitas. Untuk voice command pun belum dapat digunakan oleh banyak orang termasuk saya.

Terlalu sering melihat layar smartphone terkadang membuat saya pusing, apalagi kalau sedang tidak enak badan. Bisa membuat semakin sakit. Saya sudah pernah mencobanya. Mungkin radiasi yang lebih besar karena layar smartphone sekarang lebih besar daripada hp jadul :D.

Apalagi kalau menggunakan touchscreen untuk smsan, harus bener-bener lihat layar. Lihat layar aja masih sering typo apalagi yang gak lihat layar? Dulu bsia mengetik tanpa harus melihat layar, setidaknya dengan begini mengurangi radiasi yang dihasilkan oleh layar smartphone.

Sejak saya menggunakan hp jadul lagi, banyak teman saya yang komentar kok sekarang bales smsnya lebih cepet dibanding dulu? Ya iya lah, kan pake hape jadul tanpa perlu lihat layar :D.

Fitur yang Tidak Perlu

Menurut saya pribadi, ada banyak sekali fitur yang enggak cocok untuk saya. Salah satunya mencatat di smartphone. Ribet banget deh kalau mau mencatat sesuatu dengan smartphone apalagi kalau sedang mobile. Saya lebih nyaman mencatat saat mobile dengan kertas dan bolpen yang hampir selalu saya bawa di saku. Itulah salah satu alasan kenapa saya kemana-mana lebih sering menggunakan celana dengan banyak saku yang besar, supaya muat dimasukin buku catatan dan bolpen.

Untuk email-emailan mungkin emang enak dengan smartphone apalagi kalau kirim-kiriman dokumen. Namun saya lebih suka menggunakan laptop karena lebih besar dan lebih nyaman saja membaca menggunakan laptop. Saya tidak nyaman membaca di smartphone. Selain itu, semua file dokumen untuk kirim mengirim juga di laptop, smartphone biasanya cuma untuk lihat saja.

Ukuran Gede

Perkembangan gadget serasa flashback, dimana dulu telepon bentuknya gede, sekarang memang sih tipis tapi tetap aja lebar. Sehingga kalau dimasukkan saku celana tidak nyaman. Saya gak telaten kalau harus membawa berbagai macam tas untuk ini itu. Pengennya masukin saku dan beres.

Dengan hape jadul candy bar SE G502 lebih mudah mengetahui jika tiba-tiba ada sms dan telepon, kan kerasa getarannya di saku, meski lebih sering gak kerasanya :D. Paling tidak lebih mudah dalam mobile karena ukurannya lebih mungil dibanding smartphone yang ada.

Banyak Maunya


Ribet banget punya smartphone, banyak maunya. Minta case macem-macem, screenguard, power bank dan masih banyak lagi. Ribet banget punya smartphone. Enggak fleksibel menurut saya. Kecuali kalau sudah pakai gorila glass, sayangnya smartphone dengan kaca gorila harganya mahal :D.

Selain itu saya sudah berlangganan internet untuk modem, namun dengan smartphone harus langganan lagi untuk smartphone supaya bisa dipake dengan smartphone. Sebenarnya ada sih router, tapi masa kemana-mana mau bawa router hanya untuk berbagai jaringan internet hp dan laptop? Ribet banget.

Penyakit Phubbing

Pengguna smartphone rentan dengan penyakit baru yang bernama phubbing, sebenarnya apa itu phubbing? Mungkin banyak yang belum tahu tentang penyakit jenis baru ini. Phubbing adalah salah satu jenis penyakit sosial baru yang menjangkit banyak orang lantaran mereka acuh dengan kondisi sekitar dan lebih fokus pada gadget yang sedang digunakannya entah untuk apa.

Misal, ketika kamu sedang berada di sebuah cafe bersama teman-temanmu. Coba lihat sekitarmu, temukan banyak orang yang sedang menggunakan handphone ketika sedang bersama teman-temannya. Jadi mereka berkumpul di sebuah tempat hanya untuk bertemu secara fisik, sedangkan masing-masing dari mereka lebih fokus pada gadget yang mereka miliki / gunakan.

Saya suka dengan salah satu quote dari gerakan stophubbing yang bunyinya kurang lebih seperti berikut
Jangan Ngetweet, Jangan Facebookan, Jangan Instragaman, Jangan Foursquarean, Jangan mengetik.  Hargai makanan, musik dan orang-orang yang bersamamu
 versi bahasa inggrisnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini
Beberapa waktu lalu ketika bersama teman-teman nongkron di sebuah cafe. Kita bikin campaign setelah mengumpulkan semua gadget yang dibawa. Siapa yang mengambil gadgetnya harus membelikan seporsi kentang goreng untuk dinikmati bersama. Berlaku kelipatannya :D

Dari acara kumpul-kumpul tanpa gadget tersebut banyak cerita yang tidak terduga sebelumnya. Seakan kembali ke masa kanak-kanak yang bercerita segala macam hal tanpa adanya teknologi. Cerita horor jaman dulu dan masih banyak lagi. Saya benar-benar menikmati moment tersebut.

Kesimpulan

Saya pribadi lebih nyaman menggunakan hp jadul daripada smartphone yang menurut saya terlalu ribet. Kejam sekali kalau menamakannya hp jadul, supaya keren dikit dikasih nama wisephone saja. Meski kegiatan saya sehari-hari tidak lepas dari yang namanya internet, saya lebih suka berkomunikasi di internet menggunakan laptop daripada smartphone. Oleh karena itu saya bisa 3 jam sehari di depan laptop, bahkan bisa lebih.

Tulian ini merupakan opini saya pribadi tentang alasan saya kembali menggunakan ponsel lama saya setelah menggunakan smartphone selama satu tahun. Karena meski ponsel sudah berusia 6 tahun, namun masih dapat menjalankan semua fungsi dasar yang saya butuhkan. Itu sudah lebih dari cukup untuk saya yang saat ini menjadi mahasiswa dan berbisnis online di internet.

Salam

You Might Also Like

6 comments

  1. Mantep gan, ane juga pake ngalamin perbedaannya, nice info. (o)

    BalasHapus
  2. Yang paling ditakutkan penyakit pubbing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju! phubbing bagi saya adalah penyakit yang serem.

      Hapus
  3. Saya saja ndak punya smartphone, sampai sekarang masih pakai wisephone...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama! saya sudah bosan dengan smartphone, setahun menggunakannya saja sudah cukup

      Hapus

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Facebook

Subscribe