Uneg-Uneg Lebaran 2014

Kamis, Juli 31, 2014

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap hari raya Idul Fitri saya selalu berkunjung ke rumah nenek yang berada di ujung selatan paling barat provinsi Jawa Timur yaitu Pacitan. Banyak yang mengira bahwa Pacitan sudah masuk provinsi Jawa Tengah, namun itu salah :D. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi sedikit cerita dan uneg-uneg selama mudik lebaran tahun ini, mumpung masih anget.

Perjalanan Mudik

Daerah Trenggalek
Daerah Puncak Trenggalek
Rute mudik saya lebaran kemarin adalah Surabaya - Blitar - Pacitan. Untuk perjalanan Surabaya - Blitar bisa dibilang cukup lancar meski volume kendaraan sudah naik. Saya berangkat Sabtu pagi sekitar pukul 06.00 dari Surabaya dan sampai di Blitar pada pukul 10.00. Biasanya bisa ditempuh dalam waktu 3 jam, namun karena jalanan bisa dibilang ramai dan padat alhasil cukup molor.

Sedangkan untuk perjalanan Blitar - Pacitan saya melalui Tulungagung - Trenggalek via Panggul - Ngadirojo. Karena tujuan akhir memang kecamatan Ngadirojo Kab. Pacitan yang berada sekitar 40 km di sebelah timur Pacitan kota.

Bisa dibilang perjalanan Trenggalek - Ngadirojo ini merupakan perjalanan ternyaman dari tahun-tahun sebelumnya. Jalanan yang menghubungkan Trenggalek - Ngadirojo sejauh 84km sudah sepenuhnya diperlebar, yang tadinya hanya muat untuk berpapasan dua kendaraan, kini bisa lebih.

Selain itu, hampir semua jalan sudah diaspal, hanya tersisa sekitar 2km yang belum diaspal. Akses jalan yang semakin mudah ini sudah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat menurut saya. Kondisi pemukiman warga di sekitar jalan sudah jauh lebih "makmur" secara ekonomi daripada dahulu. Ini tampak dari bangunan beton yang kokoh dan baru.

Meski sempat terguyur hujan selama perjalanan, namun saya cukup menikmati perjalanan mudik kali ini. Tampak juga PLTU di daerah Sudimoro yang kini sudah beroperasi juga memiliki pengaruh yang cukup besar bagi penduduk sekitar. Karena selain menjadi matapencaharian baru, akhirnya di daerah tersebut kini sudah tersedia menu makanan Nasi Padang :D.

Kondisi Desa Saat Ini

Perjalanan mudik diatas bisa dibilang sebuah intermzeo, karena pada tulisan ini sebenanrya saya mau berbagi cerita keluh kesah beberapa penduduk yang mengobrol dengan saya selama mudik beberapa hari :D

Sulit Cari Tenaga Kerja

Desa memang identik dengan hasil pertanian, salah satu hasil pertanian yang cukup 'menghasilkan' adalah cengkeh. Kemarin pak lek cerita bahwa sekarang sulit cari buruh cengkeh. Meskipun bayaran buruh cengkeh saat ini di sana sudah tergolong besar namun karena memang sudah susah mencari tenaga kerja di  desa. Bahkan tidak jarang pekerja didatangkan dari daerah yang cukup jauh.

Bayangkan, di daerah pegunungan dengan komoditas cenkgeh melimpah petani harus mengeluarkan uang sebesar 100 ribu / buruh / harinya. Selain itu juga masih harus menyediakan makan serta rokok untuk buruh tersebut. Kalau di daerah dataran rendah tarif buruh masih relatif murah, sekitar 70 ribuan perhari untuk per orang. Ditambah makan dan rokok.

Hal ini dikarenakan pemuda lebih memilih bekerja dikota daripada di desa, sehingga yang tinggal di desa saat ini mayoritas adalah orang tua dan anak-anak. Usia-usia produktif kerja memilih pergi ke kota. Memang, di daerah nenek saya, banyak usia produktif bekerja di kota, selain bekerja di kota sebagian memilih menjadi pegawai negeri dengan penghasilan dengan alasan, pendapatan yang terjamin

Virus Gadget

Virus gadget sekarang sudah melanda daerah manapun, bahkan daerah terpencil yang baru terjamah beberapa operator seluler. Gak kebanyang nanti bagaimana jadinya daerah ini ketika smartfren dengan berbagai macam paket internet yang lumayan murah sudah masuk. Penyakit phubbing pun akan menular dengan cepatnya

Meski beberapa hari lalu saya melihat olahraga volly di kampung saya sudah mulai bergeliat, namun tidak se ramai dulu. Selain itu, tampak beberapa anak di area lapangan volly juga sedang asyik dengan gadget masing-masing. Permainan ini yang dulu didominasi para pemuda kini lebih di dominasi para anak-anak. Hanya tampak 2 - 3 orang pemain lama yang bisa dibilang sudah tidak muda lagi.

Virus gadget ini juga telah memisahkan pergaulan antara pemuda dengan golongan tua. Tidak tampak adanya keakraban antara orang-orang muda dengan para orang tua seperti di jamanku. Terutama remaja yang masih duduk di bangku sekolah.

Kehidupan Anak Sekolah Tidak Seru (Lagi)

Setelah ngobrol dengan beberapa orang juga sudah tidak ada lagi budaya adus kali seperti dulu, mungkin karena sungai yang dulunya sering dibuat mandi sudah tidak aman lantaran arus terlalu besar atau memang anak-anak sekarang nyalinya sudah tidak senekat dulu? Padahal ketika saya tengok tempat saya dulu berlatih renang setiap sore, masih menarik untuk dibuat berenang :D

Jembatan Ngancar
Jembatan Ngancar
Saya saja dulu bingung mau ngapain setelah pulang sekolah, kalau dengar cerita penduduk sekitar yang seperti itu, terus ngapain aja anak-anak sekolah saat ini di sana? Saya beruntung sempat menikmati keseruan tinggal di desa. Menjelajah hutan demi mencari pohon serut yang dulu sedang musim, menikmati kelapa muda dengan sensasi sprite yang jauh lebih enak, menikmati enaknya buah mentega di kebonan, dan masih banyak lagi.

Mungkin itu dulu saja yang bisa saya bagikan pada tulisan kali ini, anggap saja ini tulisan curhat selama mudik, karena memang tidak dibahas terlalu serius lantaran memang obrolan santai. Meski sebenarnya ada salah satu topik yang menurut saya cukup panjang apabila dibahas, sepertinya lebih cocok jika saya tuliskan dalam sebuah postingan tersendiri

Mohon maaf apabila ada banyak salah selama ini ya :D

Salam


You Might Also Like

0 comments

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Facebook

Subscribe