no
5/Jalan-jalan/slider
wisata di blitar

Niatnya sih Lihat Sunset di Pura Agung

Tidak ada komentar
Niatnya sih Lihat Sunset di Pura Agung
Senja yang murung di Pura Agung merupakan lanjutan cerita sebelumnya, masih di hari yang sama dengan perjalanan dalam pencarian Sumber Dandang di area Rambut Monte. Sore itu diajak Mas Andi untuk ikut menikmati sunset di Pura Agung,

Mumpung ada rombongan HMPI yang dia antarkan, sekalian bisa nebeng buat masuk pura. Enggak enak kalau sendirian ke Pura cuma niatnya foto-foto, apalagi kalau ada orang ibadah di dalamnya. Pekewuh kalau pinjem istilahnya orang jawa.

Aku enggak begitu tahu nama sebenarnya Pura Agung yang aku tuju ini, yang jelas aku cuma manut katanya nama pura ini adalah Pura Agung. Dari Rambut monte lokasinya enggak terlalu jauh, sekitar 1 - 3 km saja dengan jalanan yang agak naik.

Pemandangan di bawah pura ini keren, area persawahan yang ditata sedemikian rupa mengikuti kontur tanah. Biasanya orang menyebut model tatanan seperti ini adalah terasiring. Sesampainya di pertigaan bawah pura, ternyata para mahasiswa yang jumlahnya hampir 60 orang itu dinaikkan bak truk :D

Hamparan Terasiring di Kaki Gunung Kelud

Setelah naik sedikit, ternyata bener-bener keren lho pemandangannya. Hamparan terasiring yang terbentang begitu luas dengan latar belakang Gunung Kelud yang menjulang tinggi. Awesome lah pokoknya!

Terasiring di Kaki Gunung Kelud
Terasiring di Kaki Gunung Kelud

Setelah cukup puas di spot pertama ini, aku lanjut naik keatas untuk masuk di kawasan pura yang lebih tinggi dari spot pertama. Ornamen budaya khas hindu yang identik dengan Bali tampak menghiasi gerbang. 

Ornamen khas di Gerbang / Gapura
Ornamen khas di Gerbang / Gapura
Setelah masuk lagi, akhirnya aku menemukan sebuah tanah yang cukup lapang dan sebuah pintu gerbang lagi dimana tempat orang sembayang. 

Puncak Tertinggi Pura
Puncak Tertinggi Pura
Aku enggak seberapa paham dengan model bangunan pura, jadi enggak mau komentar banyak takut salah. Cuma mau berbagi foto yang menurutku keren aja sih di pura agung ini. Saat itu ada orang yang sedang sembayang, aroma khas dari dupa cukup wangi semerbak. Meski si Jihan merasa pusing dengan bau tersebut, tapi enggak buatku :D. 

Setelah itu turun ke pintu gerbang lagi untuk menikmati sunset yang bakal keren. Sayangnya sore itu matahari enggan menampakkan dirinya, sehingga enggak dapet deh sunset keren di tempat ini. Padahal gunung kelud sudah begitu machonya untuk aku ambil gambarnya.

Gunung Kelud dari Pura
Gunung Kelud dari Pura
Meski Mas Andi dan para mahasiswanya masih menunggu sunset, karena jam sudah menujukkan pukul 05.30 akhirnya kuputuskan untuk segera balik, karena habis magrib kudu pergi ke Penataran. Sebenernya sih ini udah molor banget dari itenary yang kurancang siang tidak, tapi ya gak masalah sih. Enjoy aja buat jalan-jalan :D.

Habis ini blogpostnya bakal bahas tentang sebuah event rutin sekian bulanan di Blitar yang bernama Purnama Seruling Penataran. Kenapa sekian bulanan? Karena jadwalnya sampai saat ini juga belum tahu kapan ada lagi.

Mencari Sumber Dandang di Kawasan Rambut Monte

4 komentar
Mencari Sumber Dandang di Kawasan Rambut Monte
Sebenarnya ini perjalanan yang kulakukan sekitar 2 minggu yang lalu, karena banyaknya pending post jadi dicicil deh nulisnya. Baru kesampean nulis sekarang. Perjalanan kali ini aku enggak sendirian seperti biasanya, ada seorang teman dari Surabaya yang kebetulan main ke Blitar dalam rangka Purnama Seruling Penataran (PSP). Perjalanan kali ini mencari sumberdandang di area Rambut Monte yang kelihatan keren di foto :D.

Karena acara PSP berlangsung malam, aku ajak aja main ke area Rambut Monte terlebih dahulu. Alasan ngajak kesana sebenarnya penasaran juga nyari tempat semacam bendungan yang ada di kawasan ini. Lihat fotonya aja kelihatannya keren :D.

Main ke Rambut Monte

Rambut Monte merupakan salah satu cagar budaya yang terletak di desa Krisik kecamatan Gandusari Kab. Blitar. Cagar budaya ini terdiri dari Candi dan Telaga kecil, namun telaganya lebih dominan dan iconic daripada candi yang sudah tak begitu nampak. Sehingga Rambut Monte di identik dengan sebuah telaga.

Untuk menuju daerah ini bisa lewat wlingi keutara menuju arah Batu. Nanti bakal melewati desa Semen, Tulungrejo baru desa Krisik. Akses menuju tempat ini gampang kok, karena ada papan petunjuk arah yang memudahkan perjalanan.

Aku sudah lama sekali enggak main ke tempat ini, terakhir ke Rambut Monte itu tahun 2010 kalau gak salah, ini foto telaga rambut monte waktu aku pertama kali ke tempat itu.

Telaga rambut monte
Telaga rambut monte
Hijau dan asri, benar-benar asyik banget tempatnya. Aku sekalian cari foto dan bahan tulisan buat bikin destinasi wisata di blitar yang sedang kugarap. Dari kota Blitar membutuhkan waktu sekitar 40 menitan. 

Kebetulan tulisan tentang wisata candi rambut monte sudah kutulis, untuk yang tahu detailnya buka aja postingan destinasi wisata Blitar rambut monte. Lengkap dengan peta lokasi yang bisa di kamu track kalau malu tanya sama orang akses menuju lokasi.

Berikut retribusi masuk kawasan Rambut Monte yang dipajang di gapura masuk. Enggak mahal kan?

Retribusi Rambut Monte
Retribusi Rambut Monte
Begitu parkir motor, aku dan temenku Jihan langsung turun untuk kembali mengenang memori masa lalu. Ternyata yang kudapati di bawah tak seindah dulu. Aku jadi sadar kalau terjebak romantisme masa lalu #eaaaaa. Bangunan kayu nan klasik kini berubah menjadi bangunan beton yang megah dan enggak menyatu dengan lingkungannya. Eman tenan!

Rambut Monte sekarang
Rambut Monte sekarang
Kalau kamu, suka yang dulu apa sekarang?
 Jadi enggak terlalu tertarik mengabadikan moment di tempat ini. Akhirnya kuputuskan untuk mencari yang namanya sumberdandang. Katanya sih enggak jauh dari Rambut Monte. Mungkin di bagian bawah. Akhirnya kuberanikan bertanya tentang sebuah bendungan di area rambut monte ini kepada salah seorang ibu yang sedang ngarit. Akhirnya ibu tersebut menyuruh saya untuk mengikuti aliran sungai ini ke bawah, karena sungai enggak mengalir keatas seperti sanyo!

Pemandangan di aliran air rambut monte
Pemandangan di aliran air rambut monte
Sebenernya pemandangan di area bawah sana cukup bagus, namun sayangnya aku enggak ambil fotonya dan ambil video yang akhirnya aku hapus karena sebuah sebab :D. Kapan kapan deh jalan ke situ lagi khusus buat ngambil fotonya. Setelah jalan cukup jauh naik turun terasiring yang tanahnya masih empuk akhirnya tiba di sebuah jembatan dari bambu.

jembatan kecil dari bambu
jembatan kecil dari bambu
Disitu ada sebuah pipa PDAM yang besar, dan sepertinya tidak ada tanda tanda bendungan air yang kumaksud. Akhirnya aku bertanya pada seorang bapak yang sedang ngarit juga, dari situ akhirnya kutemukan jawaban bahwa lokasinya di sebelah timur Rambut Monte yang berarti ada di atas rambut monte. Ceritanya ini tadi salah jalan :D.
(post-ads)
Akhirnya naik lagi keatas dan berjalan ke timur, ternyata jalan ke atas itu tembusnya di sebelah barat pintu masuk! YES! Jadi tahu jalan ke Rambut Monte yang enggak bayar :p.

Jalan Menuju Sumber Dandang yang Menawan

Aku kembali ke Rambut Monte dan bertanya pada rumput yang bergoyang penjaga parkir lokasi yang kumaksud dengan menunjukkan foto yang ada di instagram. Setelah mendapat arahan akhirnya kami bedua menuju arah yang dimaksud, dengan menyusuri telaga rambut monte dan terus ke barat. Tidak jauh dari telaga sudah tampak bendungan yang kumaksud, sayangya enggak ada jalan karena terpisah sungai yang cukup lebar, dan enggak bisa dilompati :D. Setidaknya aku udah nemuin dimana lokasi yang kumaksud.

Akhirnya kembali dan mencari jalan, ternyata dekat Telaga Rambut Monte ada jalan naik melalui rumah warga yang bisa langsung digunakan untuk menuju Sumber Dandang lho! Setelah berjalan tidak terlalu jauh akhirnya sampai juga di Sumber Dandang :D

Sumber Dandang Rambut Monte
Sumber Dandang Rambut Monte
Air yang ada di bendungan / kolam penampungan air benar-benar bersih! Jernih banget! Warnanya enggak kalah sama yang ada di Rambut Monte lho! Jadi pengen nyebur sayangnya enggak bawa baju ganti.

Kebetulan waktu itu ada 3 pemuda yang sedang asyik ciblon di situ. Ciblon bisa diartikan dengan mandi di kali. Iseng aja tanya kedalaman berapa di tempat itu, salah satu pemuda tersebut yang bertato menjawab,

neng etan jerune mung 1.5 meteran mas, lek sing kulon kene sekitar 3 - 3.5 meter.

menerjemahkan .....

di sebelah timur kedalaman airnya sekitar 1.5 meter saja mas, kalau di bagian barat ini sekitar 3 - 3.5 meter.

Cukup dalam kan? Akhirnya aku berjalan ke barat untuk mengambil foto di bagian barat. Ternyata di bagian barat ada 2 cewek yang juga ciblon lho :D. Selain itu juga tampak ada 1 ekor ikan yang berwarna emas. Entah ikan apa itu.

2 cewek mandi di sungai
2 cewek mandi di sungai

Setelah dirasa cukup, kami berdua jalan kembali ke kawasan telaga Rambut Monte. Mas Andi temenku kontak via wasap kalau sedang menuju Rambut Monte bersama romobongan Himpunan Mahasiswa Pariwisata Indonesia Regional Jatim yang kebetulan sedang rapat rapat gitu di rumah mas Andi.

Biar sah saat main-main, narsis dulu meski lensa kamera sedang gak beres. Katanya sih gini lensanya ngefog / berkabut yang disebabkan karena perpindahan suhu udara sehingga mengembun gitu. Katanya.

Rambut Monte
Rambut Monte
Setelah sukses dengan foto-foto, kami pun menunggu Mas Andi sambil njajan di warung tepi telaga. Sepiring Rujak petis cuma di bandrol 4 ribu rupiah coy! Murah banget kan? Padahal masuk kawasan wisata lho. Langgananku deket rumah aja di bandrol 5 ribu rupiah. Meski enggak seenak langgananku, tapi porsinya lebih banyak :D.

Sayangnya enggak sempat moto menunya karena keburu dateng Mas Andi dan rombongan mahasiswa pariwisata. Biar gak kelihatan alay, masa makanan aja di foto :p.

Dari situ akhirnya ditawarin Mas Andi buat join melanjutkan perjalanan ke Pura Agung untuk menikmati Sunset. Tunggu di tulisan selanjutnya yak :D

Jalan Jalan ke Monumen Trisula, Air Terjun Tirto Galuh / Kedung Malang dan Pantai Pangi

4 komentar
Jalan Jalan ke Monumen Trisula, Air Terjun Tirto Galuh / Kedung Malang dan Pantai Pangi
Beberapa minggu yang lalu aku melakukan perjalanan bersama adik temenku ke Selatan Blitar. Biar di rumah enggak terlihat nganggur dan buat cari bahan tulisan tentang wisata di Blitar untuk blog yang sedang kubuat.

Adapun rute yang sudah kurencanakan untuk sore itu antara lain dimulai dari Monumen Trisula - Air Terjun Tirto Galuh / Kedung Malang dan yang terakhir adalah Pantai Pangi. Sepertinya belum ada paket wisata yang menawarkan rute tersebut :D. wkwkwkwk Langsung aja ya ceritanya.

Perjalanan Nan Panas Menuju Monumen Trisula

Jujur aku belum pernah menjelajahi daerah ini, apalagi adik temenku yang masih duduk di bangku SMP kelas 3. Sama-sama belum tahu. Berpatokan dari katanya orang akhirnya kuberanikan untuk berangkat. Karena kalau nunggu temen kelamaan, lagian sudah kehabisan bahan tulisan untuk blog mblitar.net yang sedang kubuat.

Perjalanan aku mulai sekitar pukul 13.30 setelah adik temenku pulang sekolah dan beristirahat sejenak. Panjang banget ya buat mendeskripsikan dia, panggil saja namanya Rizky. Biar enggak panjang-panjang banget nulisnya.

Rute perjalananku dimulai dari Blitar Kota - Kademangan - Gawang - Monumen Trisula. Perempatan gawang ini pasti kamu lewati kalau kamu main ke pantai tambak rejo. Di perempatan ini kamu bisa tahu tempat-tempat menarik di sekitar situ. Untuk menuju Monumen Trisula aku harus belok kanan dan menempuh perjalanan sekitar 8 km.

Gak tanggung-tanggun lho petunjuk arah yang ada di perempatan ini. Ada 3 petunjuk arah yang menegaskan masing-masing tujuan perempatan itu. Enggak percaya? Lihat aja gambar petunjuk arah yang jumlahnya 4 buah di tempat ini untuk memastikan kamu enggak nyasar ke tempat yang enggak kamu inginkan. Kalau masih nyasar ya mungkin kamu sudah terlalu lelah untuk melakukan perjalanan ini.

Perempatan Gawang
Perempatan Gawang

Banyak petunjuk arahnya bukan? Nah dari situ belok kanan sekitar 8 - 10 km nanti monumen trisula ada di sebelah kiri jalan dengan jalanan yang agak menanjak. Kalau laper di depan monumen ini ada warung kok. Jadi enggak usah takut kelaparan. Selain itu jalan aspal untuk menuju monumen ini cukup baik.

Monumen Trisula di Blitar Selatan
Monumen Trisula di Blitar Selatan

Konon monumen ini dibangun untuk memperingati penumpasan pemberontakan PKI yang ada di Blitar selatan. Ada beberapa nama warga yang menjadi korban saat itu tertulis di monumen ini. Menurutku bangunannya sih lumayan keren, sayang di sekitar tempat ini enggak ada tempat menarik lainnya. Sehingga selain foto-foto di monumen enggak tahu mau ngapain lagi. Kita bisa naik keatas lho kalau mau selfie bareng patung-patung yang gagah itu.

Atau mungkin karena aku datang enggak waktu weekend ya? Sehingga enggak ada kegiatan apapun yang menarik disitu. Sekedar informasi juga sih, katanya di sini ada event tahunan napak tilas jalan kaki yang biasa diikuti oleh orang banyak. Acara ini berlangsung sekitar bulan Agustus.

Aku enggak terlalu lama di tempat ini, karena selain panas hari juga semakin sore. Biar nuntuti perjalanan yang masih cukup jauh.

Kecewa di Air Terjun Tirto Galuh / Kedung Malang

Perjalanan aku lanjutkan tidak jauh dari monumen Trisula ada pertigaan denga pos kampling yang mana dipertigaan tersebut ada petunjuk arah bahwa Air Terjun Tirtogaluh cuma sekitar 500 meteran saja. Enggak terlalu jauh kan? Berarti aku enggak nyasar. Ini foto petunjuk arah plus pos kampling yang ada di pertigaan tersebut

Pertigaan dengan petunjuk arah ke air terjun
Pertigaan dengan petunjuk arah ke air terjun
Ternyata benar, tidak jauh dari tempat itu ada sebuah rumah dengan banyak kendaraan terparkir dan ada banner air terjun Tirto Galuh (Kedung Malang) komplit dengan permainan flying fox nya :D. Ini lokasi parkir kendaraan pengunjung

Parkir kendaraan air terjun tirto galuh
Parkir kendaraan air terjun tirto galuh
Ternyata banner tersebut sudah dipasang sejak lama namun belum hanya sebatas rencana. Jadi jangan harap bakal nemuin flying fox di sini sekarang. Entah beberapa bulan / tahun lagi mungkin sudah ada. Dari tempat parkir masih butuh  jalan kaki sejauh 300 - 500 an meter. Tenang aja, jalannya turun kok cuma agak becek kalau habis hujan

Jalan Menuju Kedung Malang
Jalan Menuju Kedung Malang
Apesnya setelah jauh-jauh datang ke sini ternyata ada beberapa anak yang sudah menguasai tempat ini duluan. Apes banget deh gak bisa dapet spot bagus yang sepi, fotonya ketutupan rombongan yang enggak mau gantian -_- . Karena hidup di negara demokrasi dimana suara terbanyak menjadi pemenangnya aku pun kudu legowo dan ngalah buat dapet foto bagus.

Akhirnya aku jalan jalan naik keatas buat moto lokasi ini, sebenernya keren sayangnya aku datang di waktu yang tidak tepat. Itu aja, mungkin lain kali bakal ke sini lagi buat menikmati sekaligus nyemplung. Kemarin enggak bawa ganti waktu mau nyemplung :D

Air Terjun Tirto Galuh / Kedung Malang
Air Terjun Tirto Galuh / Kedung Malang
Paling cuma setengah jam aku di sana, karena ada rombongan lain yang datang dan bakalan lebih rame lagi. Aku pilih balik dan segera melanjutkan perjalanan ke Pantai Pangi.

Saat itu belum ada apapun yang dijual deket air terjun Tirto Galuh, kalau mau aman mending bawa bekal sendiri aja. Meski bapaknya baik hati menawarkan kedondong yang udah masak, tapi aku males buat makan kedondong yang banyak slilitnya :D. Akhirnya setelah bertanya aku lanjut ke pantai pangi.

Jatuh Cinta dengan Pantai Pangi

Bermodal kenekatan cuma ngikuti jalan aja akhirnya ketemu juga arah goa embultuk dan menemukan gapura goa embultuk. Katanya sih untuk ke pantai pangi bisa lewat sini, untuk memastikan kebenaran katanya  aku coba tanya yang punya toko di depat gapura goa embul tuk. Sama ibu penjaga toko malah di saranin enggak lewat goa embultuk, karena jalannya rusak. "mending masnya lurus terus sampai ada kantor desa terus belok kanan, jalannya enak lewat sana mas". 

Akhirnya kuputuskan untuk mengikuti apa kata warga yang sudah jelas-jelas jualan disitu. Aku pun mengikuti jalan terus sambil mencari kantor desa. Ternyata jaraknya lumayan jauh juga sih dari gapura goa embultuk. Setelah sampai perempatan kantor desa aku belok ke kanan dan lhadalah dalane rusak. Aku jadi kebayang jalan kalau lewat goa embul tuk. Lha wong lewat sini aja rusaknya seperti ini apalagi di lewat sana?

Anggapanku salah, jalan rusaknya enggak terlalu jauh. Setelah itu aspal desa seperti kalau mau ke pantai gesing di gunung kidul (belum pernah ya :D ?) beberapa berlubang tapi masih mending daripada jalan bebatuan kalau mau ke air terjun sirah kencong.

Setelah cukup lama menyusuri jalan akhirnya nemu yang namanya parkiran kendaraan. Berarti sudah enggak terlalu jauh dari pantai, tapi kok pantainya enggak kelihatan ya? Sambil beli es marimas di warung situ karena udah ngempet dari di kedung malang tadi, akhirnya dapat jawaban kalau harus jalan untuk menuju pantai. Jalannya enggak jauh kok, sekitar 300 - 500 an meter dari parkiran. 

Akhirnya jalan kaki deh turun dan nyebrangin sungai yang cukup keren menurutku. Airnya jernih dan super asik pokoknya. No Pic Hoax? Nih aku kasih liat foto sungai kecilnya yang sudah dibuatkan jalan untuk menyebrang :D.

Sungai di dekat pantai pangi
Sungai di dekat pantai pangi
Ternyata pantai pangi lokasinya enggak jauh dari tempat itu tadi. Dan wow! sepi, hanya tampak beberapa orang yang mainan air di muara sungai. Ini lebih keren dari pantai tambak rejo yang pernah kulihat. Nyaman banget waktu aku di sini sama Rizky. Tidak lupa untuk selfie di pantai pangi yang masih asri ini

Seflie di Pantai Pangi
Seflie di Pantai Pangi
Kalau dilihat dari fasilitas yang ada di pantai pangi ini bisa dibilang cukup untuk pengunjung yang sedikit seperti sekarang ini. Ada sumber air bersih ada juga satu warung di pinggir pantai yang kebetulan enggak buka waktu aku kesana. Ada tempat yang bisa digunakan untuk ibadah sholat juga.

Di sebelah timur pantai ini terdapat sungai dengan air yang jernih. Aku kurang tahu masalah asin enggaknya karena enggak ngrasain sih. Cuma airnya tenang dan cukup jernih. Bisa digunakan untuk mandi juga. Ini penampakan sungai yang ada di timur pantai pangi

Sungai di pantai pangi
Sungai di pantai pangi
Kebetulan waktu itu aku sempat ngobrol sama 'juru kunci' yang cerita bahwa banyak yang sudah tahu pantai pangi. Biasanya mahasiswa-mahasiswa gitu yang camping di tempat ini. Tidak jarang rombongan naik elf datang ke pantai ini. Mungkin sudah banyak yang jenuh dengan pantai tambak rejo sehingga pangi merupakan salah satu alternatif wisata pantai deket tambak rejo yang cukup keren dan cocok untuk yang meyukai kesunyian.

Setelah cukup lama ngobrol akhirnya aku putuskan untuk segera pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 17++ dan aku bawa anak orang jadi kudu segera pulang deh. Ketika perjalanan pulang datang rombongan orang yang mau camp di tempat ini. Ada banyak buanget 20 motor lebih. Kalau di lihat dari plat nomornya kebanyakan motor dengan plat AG dan N, meski ada beberapa yang plat W.

Aku pulang melewati jalan utama ke pantai tambak rejo, jadi enggak balik kucing lewat air terjun tirto galuh dan monumen trisula. Itulah ceritaku waktu jalan-jalan ke monumen trisula, air terjun tirto galuh / kedung malang dan pantai pangi. Semoga bisa membantu temen-temen yang punya rencana buat main ke sana :D
Pemuda yang lagi suka perjalanan dan keindahan. Sedang mencoba mengenal dunia traveling setelah sebelumnya mengenali dunia animasi dan web. [Pandu Aji Wirawan] (https://scontent-sin.xx.fbcdn.net/hphotos-prn2/v/t1.0-9/1422446_10201815776974926_990516580_n.jpg?oh=075dc9b6a1229b3b2b28fa58402f8b5e&oe=558CADD9)