Dua Puluh Empat

Enggak kerasa sekarang usiaku sudah mendekati dua puluh empat tahun! Banyak terjadi perubahan dalam satu tahun terakhir ini, apalagi sejak dinyatakan lulus dari salah satu perguruan tinggi tempat mengenyam pendidikan formal.

Hidup benar-benar berubah total dalam setahun terakhir ini. Awalnya sempat galau-galau gitu mau ngapain sehabis lulus kuliah. Karena untuk mencari pekerjaan pun aku sama sekali enggak tertarik. Jadi sampai sekarang aku belum pernah melamar pekerjaan, bahkan ijazah D3 yang aku miliki sekarang tergolek tak berdaya dengan dokumen-dokumen lain yang aku miliki.

Beberapa waktu lalu aku sempat bantu kakak yang memulai usaha kimi kimi fruit dessert di Surabaya. Sebuah kedai dessert yang kata beberapa orang nge-hits banget di Surabaya belakangan. Kini aku sudah enggak terlalu ngikutin bagaimana perkembangannya karena sudah tidak berdomisili di Surabaya.

Mulai Suka dengan Jalan Jalan

Suka Jalan Jalan
Suka Jalan Jalan

Setelah lulus kuliah, aku mulai suka jalan-jalan entah kemana gitu. Mungkin ini merupakan salah satu bentuk balas dendam karena semasa kecil aku memang bisa dibilang sangat jarang buanget jalan-jalan. Hingga akhirnya semua cerita perjalananku aku tulis dalam kategori jalan-jalan di blog ini. Bahkan tulisan-tulisan kini cenderung ke arah cerita perjalanan, enggak seperti dulu yang suka menulis tentang teknis.

Cerita perjalanan backpacker di Karimunjawa tahun lalu bisa jadi merupakan salah satu tulisan cerita perjalananku yang lumayan rame. Ketika aku re-write di kompasiana pun ndelalah kok ya menang dalam lomba jadi sebuah handphone android yang ketika aku jual dalam kondisi baru enggak laku-laku. Akhirnya kini hape tersebut dipakai oleh adik untuk jualan. Mungkin memang sengaja enggak laku biar manfaat buat adek :D.

Snorkling di Karimunjawa
Snorkling di Karimunjawa

Selain Karimunjawa aku juga sempat pergi ke Bali bareng teman-teman kuliah, namun entah kenapa mau nulisin di blog ini males banget. Aku enggak terlalu suka dengan Bali. Kemarin ikut ke Bali cuma gegara pengen tahu. Tidak lebih. Bisa jadi Bali merupakan salah satu destinasi wajib untuk warga negara Indonesia.

Bahkan dalam setahun terakhir aku sudah dua kali ke Karimunjawa, untuk yang kedua aku berangkat sendiri dan pulang nyobain pesawat perintis yang baru dibuka. Selain itu aku juga sempat main ke Bawean bareng teman-teman baru yang aku yakin enggak kebetulan juga dipertemukan di sini :D.

Bahkan beberapa waktu lalu aku sempat sakit gegara kebanyakan piknik. Mungkin kamu bisa baca tulisanku yang berjudul jangan kebanyakan piknik, ntar tipes. Apapun itu, bahkan sebaik apapun itu kalau berlebihan itu enggak baik.

Kembali Pulang ke Kampung Halaman

Setelah beberapa bulan tanpa pekerjaan yang jelas di Surabaya, akhirnya kuputuskan untuk kembali pulang ke kampung halaman, sebuah kota kecil dimana aku dilahirkan hingga mengenyam pendidikan sekolah dasar yaitu BLITAR.

Mungkin ini juga salah satu bentuk tanggung jawabku tentang visi misi yang beberapa tahun lalu berjanji untuk kembali ke Blitar dan mengembangkan sesuatu di tempat ini. Akhirnya tepat di bulan Desember, proses pindahan dari Surabaya ke Blitar mulai di cicil.

Makam Bung Karno
Makam Bung Karno di Blitar


Alhasil keturutan deh Tahun baru, Kota baru, Rumah baru. Sayangnya belum ada pendamping yang baru :D . Saat itu pun aku juga enggak tau mau ngapain di Blitar. Gegara mulai suka jalan-jalan akhirnya kuputuskan untuk membuat sebuah website wisata di Blitar yang bisa diakses di alamat https://mblitar.net

Dari web tersebut aku mulai deh jualan oleh-oleh khas Blitar seperti Sambel Pecel dan Bubuk Coklat. Hingga saat ini yang paling banyak laku itu Sambel pecel khas Blitar. Bahkan beberapa orang sudah repeat order :D.

Selain jualan, aku sekarang juga sesekali pergi ke tempat-tempat menarik yang ada di Blitar untuk mendokumentasikannya. Namun beberapa tempat tersebut kini mulai rusak gegara anak-anak gawl yang juga datang kesana. Meski belum tentu bersalah, aku pun merasa berkontribusi dalam mendatangkan anak-anak gawl tersebut. Jadi mulai mau sedikit selektif memilih tempat-tempat yang aku publikasikan.

Mulai Suka Jualan

Dari yang awalnya jualan oleh-oleh khas Blitar, kini aku juga berjualan dagangan lain. Yaitu jualan busana muslim. Hasil jualan busana muslim ini lumayan juga sih bisa buat bayar internet setiap bulan di rumah. Dari jualan ini aku jadi banyak tahu sifat ibu-ibu yang membeli secara online :D.

Apalagi menjelang lebaran kemarin, penjualan busana muslim benar-benar banyak sampai kewalahan padahal baru bikin toko onlinenya beberapa bulan. Selain itu aku juga mencari beberapa pekerja lepas untuk bantu input produk yang jumlahnya seribu lebih.

Toko busana muslim
Toko busana muslim


Sempat kepikiran untuk mengembangkan bisnis ini, namun nyatanya belum menemukan orang yang benar-benar cocok untuk diajak kerjasama. Mungkin nanti ketika sudah saatnya akan dipertemukan dengan orang yang pas, bahkan enggak nutup kemungkinan kalau itu juga jodoh :p

(Mungkin) Mulai Bertemu Dream Team Idaman 

Dream team yang tampak menjanjikan tahun lalu ternyata tidak bisa diharapkan. Pupus sudah mindmap tentang proyek besar kala itu. Namun aku percaya bahwa itu bukan akhir segalanya.

Sekarang aku juga sudah mulai bertemu dengan orang-orang yang sepertinya bakal jadi dream team dengan proyek baru yang lebih menarik dibanding yang kuharapkan tahun lalu. Biarkanlah saja berjalan, semoga ini benar-benar dream team idaman yang pernah aku impikan :D.

Mungkin emang susah ngajak orang-orang yang sebenernya potensial, namun setelah tak pikir-pikir mending nyari orang yang sama-sama gilanya untuk bikin hal gila bareng. Jadi yang potensial pun biarlah dulu sambil tetap jaga komunikasi. Aku lebih milih untuk fokus sama orang-orang yang sama gilanya. Meski sekarang sudah ada dua orang gila yang siap berkolaborasi :D.

Ide sebenarnya ada banyak, namun belum ada sumber daya yang memadai lebih baik disimpan dulu saja. Siapa tahu nanti dipertemukan dengan jodohnya. Sehingga ide tersebut dikeluarkan pada waktu yang tepat dan orang yang tepat.

Masih Suka Kerja Serabutan

Selain jual busana muslim dan oleh-oleh khas Blitar, aku juga masih suka kerja serabutan seperti bikin web, bikin modeling 3D dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Namun aku pun memutsukan beberapa minggu terakhir untuk menghentikan jasa pembuatan website.

Aku jadi sadar kenapa perusahaan-perusahaan itu mematok harga yang cukup tinggi untuk pembuatan website. Karena kesalahan sebagai seorang freelancer amatiran seperti aku dulu itu enggak pernah mikirin after salesnya. Support untuk perawatan web dan lain sebagainya itu bener-bener ribet banget deh.

website petground
website petground


Kalau dana webnya gede sih, aku enggak nolak buat ikutan. Kalau dananya kecil aku memilih untuk enggak ambil bagian. Karena males sama capeknya. Apalagi sekarang sudah ada teman yang bisa diajak untuk bekerja sama menyelesaikan web-web semacam ini.

Selain itu untuk masalah modeling 3D dan animasi 3D meski enggak pernah promo masih aja dicari beberapa orang untuk membantu. Beruntung aku punya seorang teman di Blitar yang hobi bermain di dunia 3D. Meski bukan dijadikan sebagai pekerjaan utama, setidaknya mas nya mau bantu aku kalau ada kerjaan freelance. Ini benar-benar sangat membantu.

Dipertemukan dengan Orang-Orang di Masa Lalu

Aku tinggal di Blitar ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Jadi pergaulan anak SD di jaman dahulu juga enggak terlalu gimana gitu. Kini ketika ku sudah mulai beranjak dewasa, aku dipertemukan lagi dengan orang-orang yang pernah ada dalam kehidupan masa lalu.

Aku enggan menyebut nama mereka di sini, karena mereka pun belum tentu mau kusebutkan di sini meski cuma sekedar namanya. Yang pasti, mereka membuatku benar-benar nyaman. Aku merasa jadi bagian dari keluarga mereka juga saat ini. 

Aku yakin, enggak kebetulan aku dipertemukan dengan mereka saat ini. Pasti ada maksud tertentu dipertemukan dengan mereka. Biar waktu yang menjawab pertanyaanku ini, meski beberapa sudah mulai menampakkan diri kenapa aku dipertemukan lagi dengan mereka.

Bertemu Orang-Orang Baru

Sudah pasti dalam waktu kurang dari setahun ini aku bertemu banyak banget orang-orang baru di Blitar dan daerah lain. Karena sudah sekitar 10 tahun lebih aku meninggalkan Blitar dan kini ku kembali dalam wujud yang baru.

Orang orang baru
Bertemu orang orang baru


Dengan cerita yang ruwet tiba-tiba aku bisa masuk dalam sebuah organisasi tingkat provinsi yang baru saja di sahkan oleh kemendagri beberapa waktu lalu. It's magic! Selain itu juga ketemu pemuda-pemudi di sekitaran Blitar yang juga suka jalan-jalan.

Aku pun iseng bikin akun instagram jelajahblitar, dan dari keisengan itu pun jadi kenal dedek cantik :D. Bahkan baru kemarin aku buka PO kaos jelajahblitar dan enggak nyangka kalau yang pesen bisa tembus 125 kaos. 

Rencananya keuntungan dari penjualan kaos ini akan dibuat untuk produksi video dokumentasi beberapa destinasi wisata di Blitar. Nah, kebetulan salah satu orang yang aku sebut gila bakal bantuin di project ini :D.

Pentingnya Sebuah Niat

Belakangan ini aku sering mikir tentang pentingnya sebuah niat. Cak Danny merupakan salah satu teman diskusi yang cukup asyik tentang berbagai macam hal. Dengan guyonan khas janda yang belakangan enggak pernah aku dengar ini sedikit banyak bikin aku mikir juga sih.

Ketika melakukan sesuatu, selalu niatkan untuk MEMBANTU. Misal kamu jualan barang, meski sudah jelas kamu mencari keuntungan dari jualan tersebut namun jangan niatkan usahamu untuk mencari keuntungan. Niatkan saja untuk membantu orang yang membutuhkan barang yang kamu jual.

Studi kasusnya aku sendiri yang sekarang jualan sambel pecel khas Blitar. Nah, jualan sambel pecel sekarang niatnya bukan hanya tentang untung rugi saja. Tapi aku ubah niat untuk membantu orang yang pengen makan pecel tapi enggak bisa bikin / enggak ada waktu buat bikin / enggak ada waktu buat beli maupun orang yang enggak mau ribet. 

Dengan niat membantu itu kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang membutuhkan bantuanku. Hingga terjadilah transaksi jual beli yang sudah pasti memberi keuntungan buat aku. Jadi keuntungan itu bukan tujuan utama karena ketika kita membantu orang lain, secara otomatis kita akan mendapatkan keuntungan. Cuma sedikit merubah mindset aja sih.

Selain konsep membantu itu aku juga punya sebuah quote dari seorang "teman" yang bener-bener keren buatku sesuai dengan kepentingan sebuah niat. Mungkin ini juga bakal jadi keren menurutmnu.

Perbaiki niat sebelum, ketika melakukan dan sesudah melakukan sesuatu
Kenapa aku bilang keren? Karena niat yang sudah kita atur dari awal terkadang itu berubah ketika kita sedang melakukannya. Seperti yang aku rasakan beberapa hari belakangan ini. Aku mulai iseng membuat video dokumentasi tentang destinasi maupun suasana Blitar di akun youtube. Kamu bisa follow jelajah blitar di youtube.

Awalnya niatku membuat video semacam ini adalah untuk mengobati rasa rindu para warga Blitar yang berada jauh di rantau. Selain itu juga membantu orang-orang Blitar untuk mengetahui keindahan daerahnya sendiri. Jujur meskipun sama-sama di Blitar banyak yang belum tahu tentang kawasannya sendiri. Niat ini yang awalnya aku pegang untuk memulai project ini.

Ketika project sudah mulai berjalan, ternyata orientasi terhadap niatku ini berubah. Aku jadi niat gimana caranya mendapatkan penghasilan dari membuat video ini. Perubahan niat ini biasanya tidak langsung kita sadari, namun lama-lama akan terasa. Sekarang pun aku berusaha untuk meluruskan niat lagi tentang membuat video project ini. Sehingga bisa memperoleh manfaat yang lebih.

Konsep niat tentang membantu ini sebenarnya hanyalah mindset tentang melakukan sesuatu. Ambil jarak sehingga kita enggak hanya melihat apa yang kita lakukan sebatas untuk mendapatkan keuntungan pribadi, tetapi tentang apa manfaat yang kita lakukan terhadap orang lain.

Mungkin itu saja sih catatan untuk setahun terakhir. Emang sih, enggak bisa mewakili berbagai macam hal dalam setahun namun garis besarnya sudah mulai tampak. Untuk setahun kedepan juga sudah mulai ada berbagai rencana-rencana yang bakal aku ulas tahun depan, semoga masih bisa konsisten nulis ginian setiap usia bertambah.

Apa yang kamu pikirkan ketika usiamu sudah menginjak dua puluh empat tahun ?

Pendakian Pertama di Gunung Kelud

Gunung Kelud sampai tulisan ini aku tulis masih jadi rebutan antara pemerintah kabupaten Kediri dan pemerintah kabupaten Blitar. Permasalahan ini terjadi sejak beberapa tahun terakhir setelah Gubernur mengeluarkan SK tentang kepemilikan Gn. Kelud menjadi Kediri, kemudian beberapa bulan lalu SK dicabut dan mengembalikan Gn. Kelud ke Blitar dan belum lama ini keputusan tersebut dicabut lagi sehingga SK masih berlaku. Entah aku sendiri enggak begitu paham sama yang begituan. Mungkin memang bukan urusan saya.
Gunung Kelud
Gunung Kelud yang Tertukar


Lepas dari rebutan itu semua, beberapa waktu lalu aku mendaki Gunung Kelud yang hanya memiliki ketinggian 1731 Mdpl. Memang sih enggak terlalu tinggi untuk sebuah pendakian. Enggak se-keren gunung-gunung lain yang ketinggiannya lebih dari 2000 Mdpl bahkan lebih dari 3000 pun banyak. Tapi, lagi-lagi bukan urusan saya.

Pada kesempatan ini aku mau berbagi sedikit cerita bahkan video tentang perjalanan naik ke puncak gunung kelud beberapa waktu yang lalu. Makanya, baca sampai habis!

Pendakian Gunung Kelud via Ds. Tulungrejo

Persiapan pendakian gunung kelud
Persiapan pendakian gunung kelud

Mungkin banyak yang meremehkan gunung kelud, karena untuk ke gunung ini sebenarnya cukup mudah apabila mau melewati Wates, Kediri. Sepeda motor bisa sampai dekat banget dengan puncak. Namun, apabila lewat Wates, Kediri kamu enggak bisa mendekati kawah. Sehingga cuma sampai batas pagar. Banyak kok yang foto-foto spot pagar perbatasan gunung Kelud ini :D.

Beberapa waktu lalu aku diajak oleh teman untuk ikut dalam pendakian ke Gunung Kelud melalui desa Tulungrejo. Sebuah desa di Kec. Gandusari yang berada di lereng gunung kelud. Sekitar 45 menit perjalanan dari Kota Blitar. 

Pendakian ini sebenarnya dilakukan dalam rangka menyambut ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke 70. Jadi selain cuma pendakian ada rencana juga untuk melakukan upcara di puncak gunung kelud.

Rombongan kami berangkat dengan jumlah sepuluh orang dengan berbagai macam usia mulai dari anak SD, SMP hingga yang sudah bapak-bapak. Berhubung jauh dari mata air, harus bawa persediaan air yang cukup dari bawah sehingga tidak kehabisan air di atas. Karena Air merupakan salah satu perbekalan yang sangat penting.
 Pos Pendakian Gunung Kelud
Pos Pendakian Gunung Kelud

Sebelum berangkat naik ke gunung kelud, kami berhenti di rumah Bapak Dasuki terlebih dahulu, untuk mengisi buku tamu dan mendata orang-orang yang naik gunung Kelud via ds. Tulungrejo. Setelah mengisi buku tamu, selanjutnya kendaraan diparkir di rumah beliau dengan tarif 5 ribu rupiah untuk 1 motor. Selain itu tidak ada biaya lain yang harus dikeluarkan.

Saranku sih minta nomor HP Pak Dasuki untuk berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan selama perjalanan. Setelah perijinan dan menitipkan kendaraan, selanjutnya adalah memulai perjalanan ke Gunung Kelud.

Oh iya, untuk yang belum tahu rute menuju pos pendakian ini bisa ikuti arah berikut ini
  • Dari daerah Wlingi ikuti arah ke Gandusari
  • Kemudian dari Gandusari ikuti arah ke Batu
  • Nanti kamu bakalan lewat kebun teh bantaran ikutin terus jalannya hingga masuk di kawasan Desa Tulungrejo.
  • Sesampainya desa ini ikuti jalan terus sampai notok ada pertigaan.
  • Pertigaan ini apabila belok ke kanan merupakan jalan aspal yang bagus dengan tujuan rambut monte, sumber dandang, dan Batu sedangkan ke kiri jalan aspal kampung.
  • Belok ke kiri.
  • Setelah itu ada pertigaan lagi, belok ke kanan dan tinggal lurus hingga rumah terakhir merupakan pos perijinan pendakian ke gunung kelud.
Mudah bukan untuk menemukan lokasinya? Kalau ragu enggak perlu takut untuk bertanya dengan warga sekitar.

Pendakian ke Gunung Kelud

Karena selama pendakian kami juga ingin mengabadikan dalam bentuk vide, akhirnya aku dan Mas Duval merekam beberapa footage video selama perjalanan ini. Supaya bisa jadi kenang-kenangan yang tak ternilai kelak.

Setidaknya terdapat 3 pos yang dilewati selama pendakian ini. Pos pertama meski jalannya hampir naik terus namun masih relatif enak. Tidak ada semak belukar. Perjalanan dari pos perijinan menuju pos pertama ini memakan waktu mungkin sekitar 1 jam.
Pos Pendakian Pertama
Pos Pendakian Pertama
Dari pos satu perjalanan dilanjutkan ke pos 2. Ada dua jalur yang bisa dilewati untuk menuju pos 2. Setelah naik dari pos satu ambil kiri jalan yang turun menuju sungai (yang kebetulan waktu itu kering kerontang) atau bisa ambil kanan dengan jalanan yang juga menanjak. Kedua jalur ini bisa dipilih sesuai dengan keinginan.

Kami mengambil jalur kiri turun melewati sungai kemudian naik menanjak. Jalan ini cukup rimbun pepohonannya. Jalan juga tidak terlalu terlihat karena jarang sekali dilalui orang. Sedang apabila lewat jalur yang ke kanan sudah jelas jalannya. Keduanya sama-sama punya trek menanjak dan tingkat kesulitan sendiri-sendiri.

Bisa dikatakan 80% perjalanan dari pos 1 ke pos 2 ini adalah jalan yang menanjak terus. Cukup capek melewati jalur ini karena enggak ada tanjakan yang agak selow gitu. Nanjak e lumayan bikin ngos-ngosan untuk pendaki pemula.

Berbeda dengan pos 1, di pos 2 tidak ada bangunan sama sekali. Hanya sebidang tanah landai yang bisa dimanfaatkan untuk beristirahat karena pada bidang datar. Dari pos 2 menuju pos 3 membutuhkan waktu yang lumayan lama sih menurutku. Sekitar 60 - 90 menitan lah. Agak lupa karena enggak memperhatikan jam juga :D.

Akhirnya setelah jalanan menanjak yang lumayan jauh sampai juga di pos 3. Pos dimana kita bisa mendirikan tenda dan bisa melihat gunung kelud yang menjulang megah seperti foto pertama postingan ini.

Bermalam di Pos 3 Gunung Kelud

Sampai di pos 3 sekitar pukul 15.30 sore. Udah lumayan sore. Selain itu juga sudah tampak beberapa tenda yang berdiri entah siapa aku juga kurang tahu. Tampak juga beberapa anak SD dari desa Tulungrejo yang pulang dari Kawah. Dikirannya upacara bendera dilakukan hari itu. Anak SD berangkat dari pagi dan langsung pulang sorenya. Mereka cuma bawa bekal aja dari rumah. Enggak ada niatan buat bermalam.

Pos 3 Gunung Kelud
Pos 3 Gunung Kelud
Malam itu beberapa teman briefing untuk upacara keesokan harinya. Karena sudah terlalu lelah, aku pun langsung mlungker di dalam tenda. Beruntung malam itu hawa di pos 3 ini tidak terlalu dingin. Sehingga tidak mengalami kedinginan yang begitu berarti. 

Menuju Puncak Kelud, Upacara dan Bersantai di Kawah

Keesokan paginya, cuaca cukup bersahabat. Hangatnya sinar mentari pagi itu menggoda kami untuk segera bergegas menuju puncak. Setelah menikmati secangkir kopi di pagi hari, kami bergegas untuk menuju puncak. Supaya tidak terlalu siang ketika sampai puncak.

Sunrise di Gn. Kelud
Sunrise di Gn. Kelud
Setelah menikmati secangkir kopi dan sunrise yang cukup cakep, perjalanan dilanjutkan menuju puncak. Jalanan ke puncak cukup melelahkan. Jalanan naiknya jan ora umum! Turunnya udah bikin males bayangin gimana capeknya waktu pulang nanti.

Tracknya itu dari pos 3 turun cukup terjal kemudian jalanan naik turun yang cukup landai dan lumayan mengerikan juga. Lihat garis putih pada foto di bawah ini. Kurang lebih seperti itu lah track untuk summit ke puncak gunung kelud.
Track ke puncak gunung kelud
Track ke puncak gunung kelud
Setelah melakukan perjalnan selama satu jam, akhirnya tiba di penghujung jalnan landai. Kini sampai di kawasan bebatuan yang cukup tinggi untuk dinaiki. Kalau mau naik ini kamu kudu berhati-hati. Jangan sampai salah jalan karena jalannya benar-benar sulit dan lumayan berbahaya. Karena ini benar-benar batu semua.

Jalanan Berbatu
Jalanan Berbatu
Sesampainya diatas persiapan upacara segera dilaksanakan dengan warga sekitar dan orang-orang yang sudah ada di puncak. Supaya tidak kesiangan. Akhirnya upacara bendera dalam rangka ulang tahun kemerdekaan Indonesia ini dilaksanakan pada pukul 8 pagi. Merah putih di puncak gunung kelud terus berkibar selama upacara berlangsung. Ada puluhan orang yang mengikuti upacara pada hari tersebut.

Persiapan upacara di gunung kelud
Persiapan upacara di gunung kelud

Menikmati Keindahan Kawah Gunung Kelud

Selesai upacara, akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju kawah gunung kelud yang tidak terlalu jauh dari tempat kami upacara. Membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menuju kawah gunung kelud. Kawah itu kini menganga begitu lebar, memang tidak tampak adanya lava maupun magma yang menyala, namun tampak kepulan asap di beberapa titik.

Kawah Gunung Kelud Pasca Erupsi
Kawah Gunung Kelud Pasca Erupsi
Kalau mau tau luas kawahnya, silakan hitung sendiri ya :D. Setelah menikmati keindahan kawah ini akhirnya kami putuskan untuk kembali ke tenda. Menuju tenda pun membtuuhkan tenaga yang lumayan sih, karena ada tanjakan yang bener-bener tinggi.

Sesampainya di tenda kami segera mengisi perut dan beres-beres membersihkan sampah-sampah pada sebuah wadah plastik untuk dibawa turun lagi. Gunung kelud ini masih bersih, jadi jangan tinggalkan sampah apapun terutama yang tidak bisa diurai oleh bakteri seperti plastik.

Perjalanan pulang tidak begitu lama, kurang dari 2 jam kami sudah bisa mencapai pos perijinan. Mungkin lain kali bakal jalan jalan ke kawah kelud lagi. Pengalaman naik gunung pertama yang enggak terlupakan :D.

Sebenernya mau nerusin nulis, tapi ternyata udah panjang baget paling kamu juga males bacanya kan? Oleh karena itu mending lihat video dokumentasi perjalanan ini. Berikut video dokumentasi perjalanan mengibarkan merah putih di puncak gunung kelud. Sekian dan terima kasih sudah mampir di panduaji.net semoga bermanfaat dan sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya :D.

Video Dokumentasi Perjalanan Ke Puncak Kelud





Piknik di Pantai Ngandong Gunung Kidul

Setiap main ke rumah Mas +Hiza  di Jogja, entah kenapa kok rasanya kurang lengkap kalau enggak mampir ke Gunung Kidul. Jadi seperti biasa menjelang pulang sempat mampir dan nginep di gunung kidul. Jadi ceritanya setelah makan sate klatak pak untung di Imogiri kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Kidul. Sebenarnya ada agenda yang tak tertulis ketika main ke Gn. Kidul, yaitu mantai alias main-main di pantai. Meski belum ada tujuan khusus mau ke pantai mana, yang penting main ke Pantai.

Meski lokasi rumah tidak terlalu jauh dari pantai Gesing, akhirnya siang itu kami bersiap menuju ke pantai Sadranan. Salah satu pantai favorit yang dulu sempat kami nikmati secara private.

Sebelum pergi ke pantai
Sebelum pergi ke pantai 
Dari tempat kami menuju pantai sadranan membutuhkan waktu sekitar 60 menit perjalanan. Kurang lebih satu jam lah. Nah, selama perjalanan ada sedikit gangguan yang lumayan, karena sedang ada proses pembangunan jalur lintas selatan yang rencananya akan menghubungkan Banyuwangi sampai Banten. Entah tepatnya dimana. Jadi nikmatin aja perjalanan yang penuh debu ini.

Aku baru tahu kalau sekarang ada loket di jalur lintas selatan. Loket dengan harga tiket 10 ribu untuk satu orang ini lokasinya bukan di pintu masuk pantai, tapi ada di jalan raya yang sepertinya masih masuk jalur lintas selatan. Lha terus kalau kaya gini, apa yang cuma sekdar lewat juga harus membayar? Aku juga kurang tahu sih.

Pindah ke Pantai Ngandong

Sesampainya di kawasan pantai sadranan aku pun cukup kaget karena sudah super duper rame gak kaya dulu lagi. Banyak persewaan alat snorkling, gazebo dan masih banyak jenis usaha lainnya. Well, bukan ini yang aku harapkan. Akhirnya kami berjalan menyusuri pantai hingga sampai di sebuah pantai yang lebih sepi dibandingkan pantai Sadranan, orang biasa menyebut pantai ini sebagai pantai Ngandong.

Pantai Ngandong Gn Kidul Jogja
Pantai Ngandong Gn Kidul Jogja
Panatai ini tidak begitu ramai, meski ada bebrapa wisatawan tapi jauh lebih mending dibandingkan dengan pantai sadranan yang berada di barat pantai ini. Kemarin kami nongkrong di salah satu warung dengan spot yang lumayan bagus dan harga makanan enggak begitu mahal. Maaf, aku lupa berapa harga makanan ikan bakarnya :D. 

Ikan Bakar di Pantai
Ikan Bakar di Pantai
Pas banget setelah capek mainan air bisa langsung makan ikan bakar dengan harga yang masih wajar. Aku enggak begitu ingat pasnya berapa. Pokoknya berlima enggak sampai 150ribu kok. 

Fasilitas umum di kawasan pantai ini lumayan lengkap kok, cocok buat piknik keluarga. Selain itu kalau sudah sore kamu juga bisa lihat sunset yang lumayan bagus. Kemarin kami pulang ketika menjelang malam, jadi pas dapet sunset.

Meski kamera hp enggak bisa menangkap sunset seperti yang ditangkap mata, tetapi bisa lah mewakili sunset bulan Agustus di pantai ini. Siapa tahu bisa jadi referensi buat kamu yang bingung milih pantai mana yang bakalan kamu datengin di Gunung Kidul.