no
5/Jalan-jalan/slider

Menikmati Pagi dalam Sunyi

Tidak ada komentar
Menikmati Pagi dalam Sunyi
Jam menunjukkan pukul 05.30, ketika mentari mulai tampak berseri. Entah kenapa aku ingin menikmati pagi dalam sunyi. Gunung Duwur, merupakan satu-satunya tempat yang ingin aku datangi pagi itu hanya untuk menyepi. Aku pun bergegas datang ke tempat yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah nenek.

Aku parkir kendaraan di rumah terakhir di kaki bukit yang tak lain adalah rumah salah seorang teman baikku. Perlahan kutapaki anak tangga untuk menuju puncak kesunyian pagi itu. Cukup nyaman sebenarnya suasana kesunyian pagi itu.

Jalan ke Puncak
Jalan ke Puncak
Tidak begitu jauh aku menapakkan kaki ini, hingga akhirnya sampai di kawasan yang tak begitu asing. Tempatku dulu bermain mencari mente yang berjatuhan. Udara pagi itu benar-benar sejuk dan menyegarkan. Semua beban begitu saja hilang. Kulihat ketimur bukit, mentari mulai tinggi dengan nuansa kabut tipis-tipis yang begitu romantis.

Mentari dalam Sunyi
Mentari dalam Sunyi
Memang tidak ada orang lain yang tampak pagi itu diatas bukit. Mungkin karena masih terlalu pagi seperti kata ayah temanku. Tapi aku memang benar-benar ingin menikmati pagi itu di tempat ini. Setelah cukup lama berdiam diri menikmati pagi dalam sunyi, kuputuskan untuk segera bergegas.

Tahukah kamu tentang bukit yang kusinggahi untuk menikmati pagi yang sunyi itu? Seperti yang sudah kusebutkan diawal bahwa tempat ini disebut dengan nama Gunung Nduwur. Sebuah bukit di dusun kami yang digunakan sebagai tempat pemakaman umum untuk warga sekitar dusun Barak.

Meskipun bukit ini menyimpan banyak misteri, namun aku dan teman-teman masa kecilku sering menghabiskan waktu di tempat ini untuk bermain. Meski ada beberapa teman yang seringkali takut untuk naik, aku sudah terbiasa naik ke tempat ini sendirian hanya untuk berdiam diri di salah satu makam yang kini usianya sudah lebih dari sewindu.

Keindahan Pagi dalam sunyi
Keindahan Pagi dalam sunyi
Sepi terkadang memang memberikan arti tersendiri bagiku. Sebuah tempat dimana aku bisa menikmati kesendirian tanpa harus terganggu apapun. Mungkin kamu punya cerita sunyi sendiri di suatu tempat :)

Bercengkrama dengan Kawan Lama

Tidak ada komentar
Bercengkrama dengan Kawan Lama
Selepas lulus sekolah menengah pertama di Pacitan, aku melanjutkan ke sekolah menengah kejuruan di Surabaya. Meski cuma tinggal di Pacitan selama 3 tahun, aku dapat banyak sekali pelajaran berharga selama tinggal di desa. Seenggaknya aku sudah pernah merasakan benar-benar menjadi anak desa dengan kehidupan yang seru.

Tahun ini tepat sewindu aku meninggalkan desa ini. Aku sempat bertemu dengan beberapa teman dan bener-bener ngobrol agak serius. Bahkan dengan seorang kawan yang terkenal selengekan di jamannya. Nggak nyangka lho, ternyata dia sering baca blogku. Ini yang bikin speechless, karena orang yang cukup dekat denganku aja belum tentu baca. Oh iya, nama panggilannya dulu Ayok.

Dari Ayok kudapatkan alamat seorang kawan yang cukup unik di sekolah dulu. Ayok cerita cukup banyak tentang Nur yang terkenal unik dulu. Karena penasaran, aku pun berjanji pada diri sendiri #ea untuk datang dan langsung ngobrol dengan si Nur.

Menikmati JLS

Meski sudah beberapa kali melalui JLS, enggak ada bosennya sih main ke JLS. Pagi itu aku iseng aja sih, pakai helm untuk menikmati pagi di kawasan pantai JLS. Karena udah pakai helm, akhirnya kuputuskan untuk lanjut ke Pacitan Kota dan pulangnya lewat jalur Tulakan.

Enggak ada sesuatu istimewa ketika lewat JLS, pagi itu masih sangat sepi banget. Mungkin efek puasa dan liburan sekolah. Perjalanan santai dari Ngadirojo ke Pacitan melalui JLS membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Kalau mau ngebut sih, 30 menit bisa sampai.

Sebenarnya cukup kecewa perjalanan pagi itu, karena sekarang enggak musim tanam padi. Sawah-sawah tampak gersang enggak terlalu bagus untuk dilihat, termasuk terasiring yang biasanya kelihatan epic. Mungkin nanti kalau mau jalan-jalan kudu pas musim tanam.

Sesampainya di Pacitan, aku enggak tau mau kudu main kemana, akhirnya kuputuskan untuk menikmati pagi di sekitar aloon-aloon kota Pacitan. Jalanan cukup padat sebelum melintasi jembatan, karena memang ada pasar. 

Jembatan Sungai Grindulu
Jembatan Sungai Grindulu
Sesampainya di Aloon-aloon, ternyata keadaan benar-benar sepi. Tidak ada aktivitas apapun. Hanya tampak beberapa orang yang berolahraga. Jumlahnya pun bisa dihitung dengan jari. Padahal jam sudah menunjukkan sekitar pukul 07.00 pagi lho.

Aloon Aloon Pacitan
Aloon Aloon Pacitan
Setelah bosen karena enggak ada orang yang bisa diajak ngobrol, akhirnya kuputuskan untuk keliling kota sambil ngapalin jalan. Karena selama 3 tahun tinggal di sini, enggak pernah keliling kota Pacitan. Bahkan pergi ke Pacitan kota cuma 3 kali saja.

Pulang Melewati Jalur Tulakan

Karena cukup bosan dengan JLS, akhirnya kuputuskan untuk kembali melalui jalur lama, yaitu Tulakan. Sekalian aku mau mampir tempat seorang kawan lama yang kudapatkan dari Ayok. Ternyata jalur Tulakan pun sudah dilebarkan dan diperbaiki. Cukup mudah untuk dilewati dan sudah banyak rumah di tepi jalan. Aku pun bisa melihat kegiatan warga yang mulai beraktivitas. Kupacu kendaraan di kecepatan 60km/jam untuk menikmati suasana pagi di jalanan berkelok yang luas dan sepi.

Jalanan berkelok di Pacitan
Jalanan berkelok di Pacitan
Setelah hampir setengah jam, ternyata aku sudah dekat dengan kawasan Nur. Akhirnya kuputuskan untuk mampir sekalian ngobrol bentar. Akhirnya kutemukan sebuah kios di pinggir jalan yang dimaksud oleh Ayok. Aku pun berhenti dan melihat seorang pemuda yang seumuran sedang duduk berkutat dengan buku catatanya.

Ketika kusebut namanya, dia tampak kebingungan karena memang benar-benar enggak ingat aku :D. Aku pun langsung sok misterius.

Cerita Tentang Sebuah Pilihan

Bertemu Kawan Lama
Bertemu Kawan Lama

Ada sebuah moment yang membuatnya ingat padaku, Momen tersebut tidak lain adalah ketika aku memberikannya contekan saat Ujian dulu :D. Mungkin memang tidak heran banyak yang tak mengenali aku. Dulu aku seorang anak kecil kerempeng sekarang menjadi sosok yang agak chubby :D.

Aku teringat jawaban dari Nur ini ketika Bu Ida, guru Bahasa Indonesia di kelas VII C bertanya kepada siswa. Apa cita-citamu?

"Kondektur Bis" Jawabnya tanpa ragu.

Sontak, anak-anak di kelas yang tertawa termasuk aku. Nur pun cuma senyum-senyum tanpa dosa. Mungkin ini jawaban yang juga tidak diharapkan oleh seorang guru Bahasa Indonesia. Aku lupa ada percakapan apa setelah itu.

Setelah lulus SMP pun, Nur tidak melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Ia pun langsung meraih cita-citanya. Ya, dia bekerja sebagai kondektur Bis jurusan Lorok - Pacitan setelah lulus SMP. Setidaknya itu cerita yang kudengar beberapa tahun lalu, Nur berhasil meraih cita-citanya.

Kini Nur sudah punya kios sendiri di pinggir jalan raya. Toko kelontong dengan banyak hal yang dijiual, terutama kebutuhan sehari-hari. Aku makin penasaran bagaimana ia bisa membuka toko kelonotong ini. Akhirnya aku pun dapat cerita langsung dari dirinya.

Ketika lulus SMP, ia memang menjadi kondektur bis jurusan Lorok - Pacitan. Dia memutuskan untuk menjadi kondektur bukan karena paksaan, kepepat atau alasan yang lain, tetapi karena ia memang benar-benar suka dengan pekerjaan itu.

Setelah menjalani selama 1.5 tahun, akhirnya dia pun memutuskan berhenti menjadi kondektur bis. Karena sudah tidak mendapatkan lagi kesenangan seperti yang ia alami awalnya. Semenjak itu ia pun akhirnya membuka kios kecil-kecilan di pinggir jalan raya yang berkembang seperti sekarang ini.

Menikah tahun 2012 dan dikaruniai seorang anak membuatnya menjadi seorang ayah. Dia pun tidak punya kegiatan lain selain menjaga toko, melayani pembeli dan kulakan berbagai macam barang yang ia jual di kiosnya.

Aku pun ingat jalan cerita yang ada di film UP. Ketika kamu sudah berhasil meraih mimpimu, selanjutnya apa? Akankah kamu mengejar mimpi yang lain atau hanya menikmatinya saja? Karena memang hidup adalah pilihan.

Karena semakin banyak pembeli yang datang dan pergi, akhirnya kuputuskan untuk berpamitan. Enggak enak kalau ngobrol dipotong-potong terus. Akhirnya aku pulang dengan hati yang cukup senang. Selain telah berhasil menepati janjiku untuk datang bertemu langsung, aku punya cerita untuk kurenungi.

Selamat Pagi Soge, Kowang, dan Watu Bale di Pacitan

Tidak ada komentar
Selamat Pagi Soge, Kowang, dan Watu Bale di Pacitan
Beberapa waktu lalu aku mudik ke Pacitan dan stay selama satu minggu, karena bertepatan dengan peringatan 100 hariannya nenek nenek. Sekaligus menunggu momen lebaran di Pacitan yang mungkin tahun depan enggak aku rasakan lagi.

Selama seminggu di Pacitan, aku sempatkan untuk jalan-jalan di daerah sana. Memang sih enggak banyak yang aku kunjungi karena kalau puasa bawaannya males aja. Kebetulan JLS enggak terlalu jauh dari rumah, jadi setelah sahur aku memutuskan untuk menikmati sunrise di kawasan JLS.

Mentari diantara Kabut

Udara diluar sangatlah dingin, aku berangkat dari rumah menuju JLS sekitar pukul 5 pagi. Suasana juga masih bisa dibilang cukup gelap. Setelah mekaukan perjalanan sekitar 10 menit, akhirnya tiba di JLS dengan pemandangan pantai soge yang berada tidak jauh dari jalan raya.

Ternyata cuaca tak begitu mendukung untuk menikmati sunrise pagi itu. Selain kabut yang cukup tebal, awan mendung menyembunyikan sang mentari yang samar-samar terlihat. Karena pemandangan tidak begitu bagus pagi itu, akhirnya kuputuskan untuk menikmati di jembatan soge yang menjadi tempat nongkrong para pemuda. Pemandangannya lumayan juga sih. 

Sunrise diantara Kabut
Sunrise diantara Kabut
Setelah menikmati sunrise yang tak kunjung cerah akhirnya kuputuskan untuk kembali ke rumah. Ketika perjalanan cuaca mulai cerah akhirnya kuputuskan untuk putar balik lagi mencari posisi yang sekiranya mendapatkan view yang lumayan keren. Akhirnya kuabadikan momen ketika matahari mulai tinggi diantara kabut pantai yang memikat. Epic!

Sunrise berkabut di pantai soge
Sunrise berkabut di pantai soge
Setelah kuperhatikan, ternyata munculnya matahari tidak sama dengan bulan Februari lalu. Coba deh baca ceritaku tentang berburu sunrise di JLS Pacitan. Setelah cukup puas menikmati pagi dengan kabut tipis-tipis yang romantis. Aku minta sepupuku untuk menunjukkan jalan destinasi yang keren. Siapa tahu menarik tuk dikunjungi. Karena pulang terlalu pagi itu kurang pantes :D.

Menghangatkan Diri di Pantai Kowang dan Watu Bale

Akhirnya sepupuku menunjukkan jalan ke pantai yang tidak jauh dari pantai Soge. Orang sekitar menyebutnya pantai kowang yang satu lokasi dengan Watu Bale. Jalan menuju pantai ini tidak jauh berbeda dengan pantai umbul waru Blitar yang lumayan. Namun masih lebih gampang dan tidak terlalu jauh dari jalan Raya. Tapi kalau mobil sih, susah buat turun ke bawah.

Matahari sudah mulai tinggi ketika aku sampai di pantai kowang ini. Sebuah pantai yang tidak terlalu luas dan terdapat beberapa perahu nelayan namun ini bukan pantai nelayan. Entah lah. Aku sendiri kurang tahu karena pagi itu tak kutemui seorang pun di sana. 

Sunrise di Pantai Kowang
Sunrise di Pantai Kowang
Setelah cukup hangat, lanjut jalan kaki ke Watu Bale. Watu bale ini seperti semenanjung yang menyuguhkan pemandangan batu karang di laut yang tampak keren ketika terkena ombak besar. Sayangnya, aku enggak berhasil dapat moment ketika ombak besar menerjang karang tersebut. Akhirnya berjemur deh di semenanjung ini supaya enggak kedinginan lagi.

Watu Bale Pacitan
Watu Bale Pacitan
Setelah badan cukup hangat dan matahari sudah mulai tinggi. Sekitar jam delapan pagi aku memutuskan untuk mengajak sepupuku yang masih mengantuk untuk kembali pulang melanjutkan tidurnya yang tertunda gegara aku ajak untuk jalan-jalan :D.
Pemuda yang lagi suka perjalanan dan keindahan. Sedang mencoba mengenal dunia traveling setelah sebelumnya mengenali dunia animasi dan web. [Pandu Aji Wirawan] (https://scontent-sin.xx.fbcdn.net/hphotos-prn2/v/t1.0-9/1422446_10201815776974926_990516580_n.jpg?oh=075dc9b6a1229b3b2b28fa58402f8b5e&oe=558CADD9)