Mbah, ayo dolan! ajakan seorang gadis yang bernama Niswa ketika tahun baru cina beberapa waktu lalu. Entah kenapa kok aku dipanggil mbah masih menjadi misteri sampai saat ini. Niswa pun datang bersama Mbak Samantha yang super duper keren, seorang gadis wanita tangguh yang naik sepeda ke beberapa daerah bahkan lintas negara. Mungkin lain kali aku bakal adakan wawancara khusus buat sosok unik satu ini. Kemarin sempat wawancara tapi belom ada niatan buat nulisnya :D.

Akhirnya siang itu setelah pulang dari manten teman aku pun pergi berempat bareng Niswa, Mbak Sam dan Iput. Rencana awalnya sih mau main ke tempat yang enggak terlalu jauh dari rumah, akhirnya kuputuskan untuk main ke Candi Gambar Wetan yang menurutku cukup eksotis untuk para gadis yang penasaran sama masa lalu Blitar yang cukup keren.

Kesalahan terbesar sebelum kesana adalah mampir ke Warung Mbah Martumi yang cukup fenomenal! Sebuah warung yang terletak di daerah Ngoran, Nglegok. Begitu tiba disana rumahnya enggak tampak seperti warung, malah lebih mirip seperti rumah biasa tapi tampak beberapa mobil terparkir rapi di halamannya yang cukup luas.

Mbah Martumi dengan Aneka Makanan Khas Desanya

Dapur Warung Mbah Martumi
Dapur Warung Mbah Martumi
Foto diatas adalah dapur di warung mbah martumi. Meskipun disajikan secara prasmanan, kamu enggak tersedia tempat khusus layaknya menu prasmanan di warung-warung biasa. Kamu cuma perlu ambil piring, nasi, lauk di ruangan yang bersebelahan dengan dapur. Anggap aja warung ini rumah sendiri atau rumah nenek di desa. 

Ada beragam menu tersedia di warung ini, antara lain sayur tewel, sayur bung, ayam lodho, lele, menjeng dan masih banyak menu pilihan lainnya. Akhirnya kami putuskan buat makan dengan lauk menjes dan ayam lodho. Kalau kamu cari menu iwak kali, kamu bisa coba dateng ke warung Ndesonya Mak Ti di Blitar 

Rasanya Bikin Lupa sama Perut

Sambil nunggu ayamnya disiapkan kami nyamil menjeng yang rasanya beneran enak. Ora ngapusi ! Begitu ayam datang kami pun kaget, lha kok disajikan dalam porsi super duper gede atau bisa dibilang ini satu ayam kampung khusus disajikan buat kita.
Kuliner Mbah Martumi Blitar
Ayam Lodho, Sayur Tewel di Mbah Martumi
Beneran kan? ayam lodhonya komplit banget. Semua bagian dari ayam tersedia dalam beberapa potong dan kita bisa pilih. Enggak perlu takut sama porsinya dan harganya. Karena kita cuma bayar yang kita makan, asal enggak dimakan semuanya aja kita enggak akan kegetok harga mahal kok. Karena emang ayam kampungnya beneran bukan abal-abal.

Begitu mencicipi bumbu lodohnya, Masya Allah. Super duper enak! Bisa dibilang ini adalah makanan surga yang tercecer di dunia selain indomie goreng dan rendang. Bikin nagih pake banget. 

Padahal beberapa waktu terakhir disibukkan dengan olahraga yang mengurangi perut yang buncit gegara warung mbah martumi ini jadi lupa sama si perut. Padahal tadi di manten temen juga udah makan prasmanan.

Padahal enak banget tapi mbak Samantha membuat kesalahan sebelum berangkat dari rumah, makan dengan porsi yang banyak sehingga enggak nafsu makan lagi ketika tiba di warung mbah martumi ini meski akhirnya nyobain dikit juga sih :D. Total makan bertiga dengan sayur komplit, menjeng goreng lebih dari 10 potong dan potongan ayam terbesar plus minum habis 85 ribu rupiah.

Habis kenyang terbitlah ngantuk! Itu yang aku rasakan setelah makan cukup banyak (lagi) di warung ini. Karena ini masih awal perjalana dan langit tampak mendung. Akhirnya kami pun bergegas untuk menuju candi gambar wetan yang masih cukup jauh dari warung Mbah Martumi.

Warung Mbah Martumi di Blitar

Buat kamu yang mau dateng ke warung ini bisa langsung ikuti peta di bawah ini yak. Peta di bawah ini komplit dengan rute ke warung mbah martumi dari Aloon Aloon Kota Blitar.

Aku enggak nolak kok kalau dibayarin buat makan di warungnya mbah Martumi ini :D. Maaf foto yang terselamatkan cuma sedikit gegara file gambar banyak yang korup di memori card.


Continue Reading...
 
Beberapa bulan lalu aku main ke sirah kencong bareng temen-temen kelas inspirasi Blitar dalam rangka hari inspirasi dimana bareng temen-temen bercerita bareng adik adik sekolah dasar yang ada di perkebunan tentang pekerjaan sehari-hari.

Beberapa hari lalu, tepatnya hari sabtu aku bareng temen-temen kelas inspirasi blitar juga main ke kebun teh sirah kencong lagi buat melanjutkan perjuangan sebelumnya meski dengan acara yang berbeda. Entah kenapa akhir-akhir ini aku agak tertarik untuk ikut kegiatan semacam ini.

Acara lanjutan ini dinamakan hari membaca, dimana temen-temen mengajak adik adik di sekolah dasar untuk belajar membaca dan bercerita. Karena cukup miris melihat beberapa anak sekolah dasar sudah menginjak kelas 5 namun belum bisa membaca dengan lancar.

Buat yang pengen dateng ke sini bisa baca rute ke sirah kencong

Gerimis Romantis Mengiringi Perjalanan ke Sirah Kencong

Perjalanan dimulai dari Blitar kota pada pukul 05.30 pagi, kami berkumpul di kawedanan wlingi untuk bersama-sama berangkat ke sirah kencong. Bahkan Pak Parno dan Bu Susi dari Kediri pun bersedia menyisihkan waktunya untuk ikut bergabung dengan kami datang lagi ke Sirah Kencong.

Di luar dugaaan, ternyata selama perjalanan yang gerimis itu memberikan keindahan tersendiri buatku. Pemandangan diatas pegunungan tampak begitu cantik, berkabut, dan memikat meski udara begitu dingin.
Pemandangan Sirah Kencong di Pagi Hari
Pemandangan di Perjalanan Menuju Sirah Kencong di Pagi Hari
Kondisi jalan memang enggak begitu bagus, namun tidak terlalu sulit. Cukup lebih hati-hati saja saat melakukan perjalanan. Dalam perjalanan kali ini tidak ada tragedi ban bocor seperti waktu kelas inspirasi sehari di sirah kencong beberapa waktu lalu.

Belajar Bareng Adik SDN Ngadirenggo 4

Begitu sampai di sekolah dasar ini, ternyata mereka masih ingat dengan aku bukan hanya mengenali wajah tetapi nama pun mereka masih ingat. Ini membuatku terenyuh, seenggaknya pertemuan singkat beberapa bulan lalu masih membekas meski cuma sekedar nama. 
Siswa SDN Ngadirenggo 4
Siswa SDN Ngadirenggo 4
Dalam kegiatan tersebut kelas dibagi menjadi dua, dimana kelas pertama terdiri dari siswa kelas 1 - 3 yang dijadikan dalam satu kelas untuk belajar membaca bersama, sedangkan untuk kelas kedua berisi siswa kelas 4 - 6 dengan kegiatan belajar bercerita.

Berbeda dengan ketika kami datang untuk pertama kalinya, pada kegiatan kedua ini mereka cenderung lebih nurut dan benar-benar mengikuti apa yang di insrtuksikan meski sesekali terdengar celotehan mereka yang bisa dianggap masih wajar.
Salah satu siswi SDN Ngadirenggo 4 Bercerita di depan
Salah satu siswi SDN Ngadirenggo 4 Bercerita di depan
Meski sempat malu-malu, mereka pun bisa bercerita dengan cukup baik. Mereka tidak menganggap kami sebagai seorang guru tapi tampak seperti kelakuan adik ke kakak yang mencari perhatian. Mungkin ini yang membuat mereka tampak senang ketika kami ada di sana. Mungkin kami seperti kakak yang bepergian dan sedang pulang tuk menjenguk mereka.

Meski kami cuma berbagi sedikit waktu bersama mereka dengan kegiatan-kegiatan sederhana semacam ini, namun mereka benar-benar tampak begitu menikmati setiap waktu bersama kami. Bahkan tak terdengar suara-suara protes yang lapar dan minta untuk pulang seperti biasa. Meski sebenarnya jam kami di sana lebih lama sedikit daripada waktu mereka biasanya.
Pulang Sekolah di SDN Ngadirenggo 4
Pulang Sekolah di SDN Ngadirenggo 4

Menikmati Suasana di Perkebunan Teh Sirah Kencong

Setelah acara selesai dan para siswa sudah pulang, kami pun jalan-jalan di sekitar daerah sirah kencong. Setidaknya selain kebun teh juga terdapat air terjun yang sudah cukup terawat jika dibandingkan dulu.

Jarak dari SD ke air terjun kurang dari 1km dengan jalan kaki sejauh sekitar 700 meter. Tempatnya sudah mulai kotor sejak ramai. Bahkan ketika tahun baru ada sekitar 1000 orang lebih yang menghabiskan waktu di lawasan kebun teh cantik di Blitar ini.
piknik liburan Air Terjun Sirah Kencong Blitar
Air Terjun Sirah Kencong Blitar
Setelah menikmati kesegaran air terjun, kami beristirahat lagi di dekat pintu masuk dan mencoba naik untuk menikmati keindahan perkebunan teh dari ketinggian. Pemandangannya benar-benar memuaskan! Meski ada 1 pohon yang menjulang tinggi berada ditengah-tengah pemandangan cukup mengganggu tapi bisa dimaafkan lah.
Suasana Kawasan Perkebunan Teh Sirah Kencong Blitar
Suasana Kawasan Perkebunan Teh Sirah Kencong Blitar
Entah kenapa di tempat seperti ini bener-bener bisa menikmati waktu yang aku punya. Ngobrol ngalor ngidul bareng temen-temen yang sebelumnya enggak pernah ngobrolin macem-macem. Bahkan sempat kepikiran buat mainan boneka di kebun teh ala-ala si unyil bareng Mas Rama.
Winnie The Pooh and Friends
Winnie The Pooh and Friends
Saat ini suasana di perkebunan ini bener-bener membuatku nyaman, aku bakal balik ke sini suatu hari nanti. Bahkan mungkin bakalan sering nyepi ke sini meninggalkan semua perangkat yang terhubung ke seluruh dunia melalui media digital yang terkadang notifikasinya bener-bener ngganggu. 

Pengen rasanya pakai sony erricson g502 punyaku yang masih ada, sayangnya chargernya kalau enggak colokannya enggak beres. Jadi sedih deh enggak bisa di cas, padahal fungsi lainnya masih lancar jaya.
Continue Reading...
 
Sudah beberapa bulan terakhir ini punya kegiatan baru di pagi hari, yaitu sepedahan keliling Kota Blitar. Sepedahan pagi itu enak, selain untuk diet olahraga juga bisa digunakan untuk mengenali daerahmu.

Serius, gegara sepedahan ini aku jadi agak hafal sama tempat-tempat orang jualan macem-macem. Mulai dari susu sapi di area aloon-aloon, nasi kuning di pelataran toko dan masih banyak lagi tempat-tempat menarik lainnya.

Salah satu penjual yang menarik di pagi hari adalah penjual Gandos. Gandos memiliki nama populer di daerah lain yaitu Rangin di Surabaya dan di Jakarta sana dikenal dengan sebutan kue Pancong. Gandos ini merupakan jajanan tradisional yang terbuat dari campuran kelapa muda serut atau parut, tepung beras, sedikit sagu dan air.

Gandos / Rangin Masih Diminati

Penjual Rangin di depan Istana Gebang
Penjual Rangin di depan Istana Gebang.
Dokumentasi Pribadi
Gandos / Rangin yang menarik perhatianku adalah yang berjualan di depan Istana Gebang Blitar. Pernah suatu kali aku mampir sebentar untuk membeli rangin buat teman ngopi di pagi hari. Namun, pagi itu aku ditolak sama bapaknya, "Nanti siang saja mas kesini lagi, ini pesanan orang-orang yang lagi di dalem". 

Emang sih waktu itu lagi banyak tamu di Istana gebang dan bapaknya sedang membuatkan rangin untuk mereka. Karena banyaknya pesanan akhirnya aku urungkan dan pulang dengan tangan hampa. 

Padahal tadi udah sengaja lewat Istana Gebang buat beli malah di tolak. Tau gitu enggak lewat situ, karena kalau lewat situ dan mau pulang jalannya nanjak bangeeeet. Aku jadi heran, padahal dulu kalau pulang sekolah waktu SD juga lewat situ enggak protes, sekarang udah gede kok malah protes.

Keturutan Ngopi Bareng Gandos / Rangin

Pada suatu ketika akhirnya aku tiba-tiba pengen ngopi bareng gandos / rangin, akhirnya habis sepedahan aku putuskan untuk kembali lewat depan Istana Gebang. Sebelum berhenti aku  tengok Istana Gebang dan ternyata sepi. Aku pun berhenti untuk membeli Gandos atau Rangin ini.

Akhirnya keturutan buat beli dan sambil ngobrol ngalor-ngidul tapi lupa enggak tanya nama. Bapak ini sudah berjualan sejak 20 tahun yang lalu. Emang bener sih, waktu aku masih SD dulu pernah liat bapak ini keliling di sekitar kawasan sekolahanku yang hanya beberapa ratus meter Istana Gebang.

Rumah bapak ini di daerah Kanigoro yang berjarak sekitar 6km dari Istana gebang. Setiap pagi bapaknya berangkat sekitar jam 6 bareng tukang becak yang mangkal di Istana Gebang dan pulang sekitar jam 2 siang bareng tukang becak yang sama. "Habis nggak habis kalau tukang becaknya pulang ya ikut pulang Mas. Kalau dagangan habis tapi tukang becaknya belum pulang ya nungguin".

Tiap hari lho masih banyak juga mas yang beli, alhamdulillah lebih sering habisnya daripada enggaknya. Mungkin karena harganya yang murah meriah cuma 500an rupiah. 

Emang sih, untuk 1 slicenya kita hanya perlu mengeluarkan uang sebesar 500 rupiah. Jadi satu deret isinya 10 slice hanya 5000. 

"Ditaburi gula Mas? Soalnya orang sekarang banyak yang kurang suka gula makanya setiap yang beli saya tawari dulu" Akhir dari percakapan ngalor-ngidul. 

Hari udah mulai siang dan aku males kalau ngayuh sepedah saat panas. Akhirnya aku pun pamitan dan pulang sambil membawa rangin dengan sedikit taburan gula.
Kue Gandos / Rangin / Kue Pancong
Dokumentasi Pribadi
Sesampainya di rumah aku ambil telenan dan mulai menata gandos untuk difoto, setelah itu langsung dibuat sarapan dengan segelas kopi yang enggak sempat aku foto.
Continue Reading...
Previous PostPosting Lama Beranda