no
5/Jalan-jalan/slider

Goa Cina untuk Tidur dan Pantai 3 Warna yang Batal

Tidak ada komentar
Goa Cina untuk Tidur dan Pantai 3 Warna yang Batal
Masih inget tulisan yang naik pesawat terbang ke Karimunjawa beberapa waktu lalu? Kalau lupa baca dulu aja, karena tulisan ini merupakan lanjutan perjalanan itu. Sampai di Surabaya masih pagi, masih sekitar jam 9an. Tetapi gara-gara ada kesalahan teknis, baru bisa keluar bandara sekitar jam 10. Aku langsung naik bis damri menuju bungurasih. Karena Latip, temenku udah siap buat njemput di terminal. Pertimbangan minta tolong jemput, itu cuma enggak mau nyusahin orang lain di dalam angkot, soalnya barang bawaan yang gede dan angkotnya kecil.

Tiket bus damri dari bandara ke terminal adalah 25 ribu rupiah. Perjalananya enggak begitu lancar dan agak macet. Aku baru sampai di terminal bungurasih sekitar jam 11 an siang. Dari terminal langsung menuju Kebonsari sebelum diantar pulang kerumah sama Latip. Di kebonsari mampir di Kantor Pos tempat biasanya ngambil wesel dari google, mampir bukan karena mau ambil duit. Tapi mau sarapan, karena ada warung yang murah dan lumayan enak dengan porsi yang banyak :D.

Perjalanan Panjang ke Goa Cina

Aku udah bikin janji sama +Fauziah untuk dijemput jam 12an. Iya, dia berangkat dari rumahnya di ujung utara Surabaya jam 12. Kami akan pergi ke Goa Cina untuk pindah tidur semalam dengan meeting point di Rumah Rojak. Ternyata setelah nyasar, Ucik baru sampai sekitar jam 1. Padahal udah beberapa kali dateng masih sempet nyasar -_-.

Enggak pakai lama lagi, langsung berangkat menuju meeting point di rumah Rojak. Sesampainya dirumah rojak ternyata seperti biasa, belum banyak yang datang. Akhirnya bisa leyeh-leyeh dulu sampai kebablasan rumpik, karena emang ada Ucik yang ratu rumpik.

Kami jadi berangkat ke Goa Cina sekitar jam 4 sore! Udah molor 2 jam lebih buat mau berangkat. Total rombongan kami jadi 13 orang dengan membawa 2 mobil menuju ke selatan. 

Ketika adzan Magrib berkumandang, kami masih di daerah Malang, bahkan belum masuk kota Malangnya. Setelah berhenti sejenak di salah satu pom bensin akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Malang. Karena Edwin kudu njemput adiknya yang katanya mau ikutan. 

Entah apa yang terjadi. aku enggak mau berasumsi. Adik Edwin batal ikut. Karena udah malam dan untuk mencapai ke Pantai cukup jauh, akhirnya belok buat mampir ke warung belut langganan anak-anak kalau lagi di Malang, tepatnya di daerah Blimbing yang namanya Belut Simpang Grajakan.

Meski bawa bekal, kalau nunggu sampai di Goa Cina udah keburu laper. Setelah itu perjalanan kembali dilanjutkan ke selatan. Aku udah enggak begitu ingat perjalanan kala itu, tau-tau udah nyampek di Mesjid yang lumayan besar ketika jam menunjukkan sekitar jam 9an malam.

Udah malam tapi mesjidnya masih rame lho, ada beberapa cowok dan cewek. Selain itu juga ada beberapa celana yang tersampir di sudut-sudut mesjid -_- . Sepertinya mereka juga niat ke pantai selatan buat camping tapi kehujanan di jalan dan belok di Mesjid. 

Bosen ya? Enggak ada gambarnya sama sekali. Waktu berangkat udah gelap emang males buat moto macem-macem :D.

Awalnya sempet bingung dan takut nyasar, karena sekitar setahun lalu ke Goa Cina jalannya bagus dan enggak kaya sekarang yang aspalnya hilang. Bahkan cenderung tampak jalan yang rusak dan bakalan di garap. Namun setelah tetap meneruskan perjalanan, ternyata jalannya memang bener, tapi kondisinya sangat rusak, beda jauh dengan dulu waktu kesana.

Aku lupa tiket masuk untuk 1 orang berapa, harga untuk 1 mobil itu berapa. Pokoknya 2 mobil dengan 13 orang enggak sampai 150ribu kok. Banyak kok yang camp di Goa Cina, jadi enggak perlu takut kalau mau bikin tenda di sini :D.

Bermalam di Goa Cina

Begitunya sampai di Goa Cina kami langsung memasang tenda. Agak rumit karena banyak alatnya yang enggak beres lagi. Pokoknya bisa terpasang dan bisa jadi tempat bersembunyi udah cukup. Setelah dua tenda terpasang, selanjutnya mulai deh mbukak bekal yang dibawa dari Surabaya. Padahal tadi udah makan belut, tapi juga masih pada doyan buat makan lagi :D.

Habis makan-makan, beberapa leyeh-leyeh di tenda. Beberapa nggelar kresek yang disobek di tepi pantai sambil tiduran liatin bulan yang kebetulan lagi bagus. Ngobrol ngalor ngidul curhat kegiatan saat ini di kerjaan dengan background suara deburan ombak pantai selatan. Suasana semacam ini memang jarang bisa didapatkan. Memang kudu ngeluangin waktu buat menciptakan suasana macam ini.

Aku enggak dapat tempat tidur malam itu, tenda udah penuh dengan bada Rozak yang bener-bener extra. Akhirnya aku nyusul Edwin buat tidur di dalam mobil :D. Lumayan enak sih di dalem mobil, anget, enggak ada angin yang dingin sama sekali.

Menikmati Pagi di Goa Cina Malang

Suasana Pagi di Goa Cina
Suasana Pagi di Goa Cina
Akhirnya pagi tiba, kami menikmati suasana pagi bersama di pantai ini. Ada yang udah mulai masak Mie, bikin kopi untuk sarapan. Dan akhirnya kami putuskan untuk enggak mainan air di pantai ini, karena kami berencana untuk melanjutkan perjalanan ke pantai 3 warna di Malang dan mainan air di sana.

Kesibukan menjelang sarapan :D

Setelah sarapan, kami langsung membereskan tenda terlebih dahulu dan merapikannya. Pengalaman camp di Pantai Papuma Jember, kalau tenda dan macem-macemnya belum dirapiin, pasti ada tumbal yang jaga tenda sedangkan yang lain asyik jalan-jalan di pantainya.

Karena durasi, kami enggak lama di pantai goa cina ini. Kami segera bergegas untuk menuju ke sendang biru. Rencana kami naik kapal ke pantai 3 warna. Karena kalau jalan kaki, butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan. Kan lumayan, apalagi Rozak.

Batal ke 3 Warna Belok ke Waru-Waru

Sesampainya di pelabuhan nelayan yang jadi satu dengan tempat pelelangan ikan. Kami bertanya bisa enggak kapal menuju pantai 3 warna. Ternyata kapal enggak bisa menuju pantai 3 warna. Kami kudu jalan kaki kalau mau ke 3 warna. Lagi-lagi karena urusan durasi, akhirnya kami mencari alternatif pantai lain yang enggak terlalu jauh dari lokasi kami berada.

Bapaknya nyaranin untuk ke pantai waru-waru yang ada di pulau sebrang. Akhirnya kami pun langsung naik kapal untuk nyebrang ke pulau sebrang. Kami bertigabelas dengan 1 kapal yang lumayan gede menyebrang ke pulau sebrang.

Menyebrang ke Pulau
Menyebrang ke Pulau
Pantai waru-waru memiliki pohon yang menjorok ke air. Sehingga bisa dijadikan tempat lompat ke pantai. Namun karena posisi pantainya yang tidak lebar dan banyak orang akhirnya kami begeser ke pantai yang lokasinya enggak terlalu jauh. Entah apa namanya. Di pantai yang cukup luas ini hanya ada 1 rombongan, namun karena  pantainya luas kami bisa tetap leluasa bermain air :D. Selain itu juga ada kapal karam di pantai ini.

Jadi tempat yang cocok kalau cuma buat foto bareng temen-temen. Seenggaknya biar ada variasi ketika foto di pantai. Masa iya cuma batu, air dan pasir aja? Sesekali ada kapal karamnya kek :D

Pantai dengan Kapal Karam
Pantai dengan Kapal Karam

Setelah jam menunjukkan pukul 11, kami pun menghubungi bapak yang mengantarkan kami ke pantai ini untuk menjemput. Tidak sampai  30menit bapaknya sudah sampai di pantai untuk menjemput kami. Setelah itu pun kami langsung kembali ke pelabuhan dan segera mandi.

Biaya yang kudu dikeluarin buat mandi ternyata enggak mahal, cuma 2 ribu rupiah. Kalau disurabaya 2 ribu cuma buat buang air. Kalau mandi bisa di bandrol sampai 10 ribu deh.

Kembali ke Surabaya

Setelah semua sudah mandi, kami bergegas kembali ke Surabaya. Sebelum kembali ke Surabaya, mampir bentar ke daerah polinema. Bukan untuk cari gadis idaman, tapi untuk cari bakso pengganjal perut karena udah lapar. Kalau liburan kaya gini bawaannya lapar terus...

Perjalanan ke Surabaya akhirnya harus terhenti di Sidoarjo, tepatnya dirumah Rojak. Karena meeting point memang ada dirumah Rojak. Mobil sewaan udah kena overtime 3 jam jadi Rp 75.000. Lumayan lah, uang patungan masih sisa banyak e :D. Untuk detail pengeluarannya aku enggak terlalu tahu, yang jelas masih sisa dan buat tabungan untuk piknik kapan-kapan :D

Mungkin itu cerita singkat khusus buat Om yang request cerita ini untuk ditulis :D.

Harga untuk Sebuah Pertemanan

4 komentar
Harga untuk Sebuah Pertemanan
Pernah jualan barang / jasa ke teman? Buat yang belum pernah, coba deh kamu jualan. Karena dalam postingan ini aku mau berbagi pengalaman menjadi seorang penjual sekaligus pembeli.

Ketika ada teman yang jualan, pernahkah kamu langsung menodong dengan harga teman? Pasti pernah kan? Aku pun juga pernah. Tapi setelah membaca tulisan ini sampai selesai, ada baiknya segera hentikan kebiasaan burukmu itu.

Teman, Bukan Pelanggan yang Baik (?)

Ketika berjualan ke teman dekat dan keluarga, berapapun yang Anda jual ke mereka, mereka akan selalu berpikir, Anda sedang mencari untung dari uang mereka. Dan semurah apapun Anda jual ke mereka, mereka tetap tidak menghargainya - Jack Ma CEO AliBaba.com
Pernah kamu membeli produk ke temenmu? Pernah mbayangin bagaimana usaha temenmu dalam memperjuangkan barang dagangan yang kemudian kamu beli? Bisa saja mereka datang ke toko-toko yang jauh jaraknya, tidak menutup kemungkinan dia selama di perjalanan ban motornya bocor, dan masih banyak kemungkinan lain tentang usaha temanmu untuk bisa menjual produk ke kamu. Dan ketika barang yang kamu butuhkan dijual dengan harga yang selisih sedikit dengan toko lain tempat kamu biasa mendapatknya kamu dengan entengnya ngomong "harga teman ya bro".

Tega sama temen sendiri ?
Tega sama temen sendiri ?

Orang ini temenmu sendiri lho, serius. Sebegitu teganya kah kamu ke temenmu sendiri? Sama sekali enggak menghargain usaha mereka. Mungkin teman yang kamu tawar rasanya mirip dengan ketika kamu ngerjain tugas kelompok kemudian temenmu yang gak ikut ngerjain sama sekali dengan gampangnya ngomong, ini kurang bla bla bla dsb :D

Mental Orang Kaya

Aku jadi inget dengan kata Cak Danny, seorang bapak-bapak yang kukenal setahun belakangan ini. Dia pernah bilang ke aku
Kalau ada orang yang jual barang, usahakan enggak nawar! Bayar sesuai dengan harga yang mereka tawarkan
Ini salah satu bentuk latihan mental jadi orang kaya. Kecuali kalau harganya kebacut, baru deh ditawar. Kaya yang aku maksud di sini bukan kaya secara materiil lho...
Mereka yang membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya. Tapi karena mereka lebih menghargai hubungan daripada uang.
Sebagai orang yang juga jualan kadang aku enggak tega kasih harga normal ke temen-temen deket. Biasanya aku kasih "harga teman" meski mereka enggak minta. Malah teman-teman dekat cenderung enggak mau dikasih harga teman dan milih untuk bayar penuh karena mereka tahu dan benar-benar menghargai usaha kita.

Kalau ada orang yang minta "harga teman ya bro" dan kebacut. Langsung aja bales "Dateng aja ke sini, ntar tak kasih tahu tempat aku ngambil barangnya. Dateng aja sendiri ke sana."

Harga Sebuah Pertemanan yang Mahal

Ilustrasi hubungan pertemanan 

Aku spechless mau nulis apa lagi enggak tahu. Tapi memang perlu direnungin harga sebuah pertemanan yang bener-bener mahal. Sejauh mana kamu menghargai sebuah hubungan pertemanan. Apakah akan kandas dalam selisih ribuan?

Sekarang mau nyalahin salah satu (yang jual dan yang beli) itu ya gimana, soalnya serba salah. Kalau dalam posisi yang jualan pengen kasih harga khusus ke temen baik. Tapi kalau lagi di posisi orang yang mau beli kok enggak tega mbayar dengan harga teman.

Silakan dipikirkan dan direnungkan sendiri aja deh. Tiap orang punya pengalaman kehidupan yang berbeda, namun ada baiknya tetap menghargai harga yang sudah dipatok dari teman. Enggak perlu nawar, toh teman baik juga enggak ngasih harga yang mahal-mahal banget.

Kecuali kalau usaha temen udah sukses, enggak perlu ditungguin. Kamu enggak perlu minta juga bakal dikasih gratisan :D 

Naik Pesawat Perintis Susi Air Karimunjawa - Surabaya

8 komentar
Naik Pesawat Perintis Susi Air Karimunjawa - Surabaya
Seperti yang udah aku tulis di bagian awal cerita perjalnan solo trip ke Karimunjawa, aku enggak bakal nulis kegiatan selama di Karimunjawa. Kenapa? Karena aku bukan dalam rangka liburan, tetapi dalam rangka membuat usaha tour travel di Karimunjawa bersama penduduk lokal.

Pada tulisan ini aku mau cerita sedikit tentang perjalanan naik pesawat dari Karimunjawa ke Surabaya. Sebelumnya aku enggak tahu kalau ada rute penerbangan ini, tapi karena ketika di Jepara aku lihat ada informasi ini, enggak ada salahnya aku coba sekalian nulis di blog. Karena belum banyak yang nulis tentang naik pesawat terbang ke Karimunjawa. Gimana mau nulis, lha wong penerbangan perdananya aja baru tanggal 2 Mei kemarin, dan aku naik pada penerbangan ketiganya.

Pesawat Perintis Susi Air Semarang - Karimunjawa - Surabaya PP

Berikut informasi jadwal, rute dan harga tiket pesawat dari Semarang dan Surabaya  ke Karimunjawa. Oh iya, denger-denger sih jadwalnya sudah berubah, ntar aku update lagi kalau sudah mendapatkan konfirmasi jadwal terbarunya. Berikut jadwal terbarunya

Jadwal dan Harga Tiket Pesawat Karimunjawa
Jadwal dan Harga Tiket Pesawat


Buat kamu yang pengen nyoba sensasi naik pesawat terbang ke Karimunjawa bisa coba alternatif ini, namun sangat tidak di sarankan untuk yang mau backpacker ke karimunjawa. Karena lokasi bandaranya terletak di sebelah utara Karimunjawa. Membutuhkan waktu 30 menit ++ dari bandara untuk sampai ke pusat kota Karimunjawa dimana kamu bisa menemukan berbagai macam penginapan.

Kemarin karena petugas bandaranya merupakan tetangga dari temen di Karimunjawa, aku enggak perlu booking by phone, langsung datang ke rumahnya untuk booking. Ternyata harga yang harus dibayar tidak sama dengan yang ada pada gambar diatas. Untuk tiket Karimunjawa - Surabaya aku dikenakan biaya Rp. 406.000 padahal di selebaran yang ada harganya cuma Rp. 349.000 . Nominal tersebut ditulis di tiket yang diberikan.

Tiket Pesawat Susi Air
Tiket Pesawat Susi Air
Dengan harga segitu aku enggak perlu bayar airpot tax dll. Jadi tinggal berangkat, kecuali bayar bagasi yang over 3 kg dengan biaya charge 20ribu / kg. Lumayan kan? Gara-gara tas besar berisi laptop super berat kena charge bagasi deh. Padahal masing-masing penumpang dapat jatah bagasi 10kg. 

Cara Menuju Bandara Karimunjawa

Perjalanan Menuju Bandara Karimunjawa
Perjalanan Menuju Bandara Karimunjawa
Pesawat berangkat dari Bandara Dewandaru Karimunjawa pada pukul 06.55 WIB, oleh karena itu buat cari aman aku berangkat jam 05.30. Aku diantar Mas Teguh dan Mas Tono menuju bandara sambil menikmati sunrise di perjalanan. Setidaknya membutuhkan waktu sekitar 30 menitan untuk mencapai bandara, karena banyak jalan yang kondisinya rusak. Selain itu tidak adanya angkutan umum menuju bandara juga menjadi kendala sendiri untuk para backpacker :D.

Menunggu Pesawat Delay di Bandara Dewandaru Karimunjawa


Akhinrya sekitar pukul 06.00 aku tiba di bandara Dewandaru Karimunjawa. Bandara di Karimunjawa sudah ada bangungannya, berbeda dengan ketika aku share cost backpacker ke Bawean yang sudah punya landasan udara namun belum ada bangunan dan lahannya dimanfaatkan untuk menggembala sapi.

Kondisi bandara yang kecil ini benar-benar asri, ada pohon dewandaru di bagian depan. Sebuah pohon asli Karimunjawa yang katanya sih enggak ada di tempat lain. Kira-kira ada sekitar 8 orang yang akan terbang ke Surabaya.

Mereka memilih terbang ke Surabaya karena kapal menuju Jepara tidak berlayar. Sehingga mereka memutuskan untuk terbang ke Surabaya kemudian lanjut terbang ke Jakarta dan Bandung untuk kembali ke kota asalnya. Daripada terus terjebak di Karimunjawa tentu bakal menghabiskan lebih banyak uang jika dibandingkan naik pesawat ke Surabaya.

Pesawat Perintis di Karimunjawa
Pesawat Perintis di Karimunjawa
Setelah menunggu cukup lama, ternyata pesawat baru datang sekitar pukul 07.30 pagi. Dengan pilot capt. Jullian dan co-pilot yang kulupakan namanya. Keduanya ternyata bule lho :D. Pesawat datang dari Semarang ini juga membawa beberapa penumpang yang sudah dijemput oleh beberapa guide lokal yang menunggu.

Pengalaman Pertama Naik Pesawat Perintis

Meski di tiket tercantum tempat duduknya, para penumpang tampaknya cuek dan langsung memilih posisinya sendiri-sendiri. Aku pun juga langsung milih duduk di belakang pilot, biar tau bagaimana sih pilot itu bekerja. Karena enggak ada pembatas apapun dari kursi penumpang dan pilot. Sambil nunggu pesawat berangkat, aku makan deh camilan yang di dapat setelah check in tadi. 

Snack di perjalanan udara Karimunjawa
Snack di perjalanan udara Karimunjawa
Tidak berapa lama, pilot sudah masuk ke pesawat dan minta maaf karena pesawat delay, dan sekarang masih menunggu co pilot yang masih buang air di toilet. Meskipun bule, bahasa Indonesianya bisa dibilang lumayan lancar dengan aksennya yang khas. 

Capt. Jullian baru pertama kali menerbangkan pesawat dengan rute Karimunjawa. Rute penerbangannya pagi itu dari Semarang - Karimunjawa - Surabaya - Sumenep - Jember - Surabaya - Karimunjawa - Semarang. Rute yang lumayan jauh untuk ditempuh dalam waktu 1 hari lho. Sambil nunggu co-pilot, pilotnya tak suruh foto selfie :D. wkwkwkwk

Pilot Selfie
Pilot Selfie
Setelah co-pilot yang juga bule kembali dari kamar kecil, pesawat mulai di starter dan siap melanjutkan penerbangan ke Surabaya dengan lama perjalanan sekitar 75 menit. Sensasi terbang dengan pesawat perintis memang beda. Take off pesawat ini lebih nyaman dibandingkan pesawat komersial yang pernah aku naiki sebelumnya.

Akhirnya bisa melihat Karimunjawa dari ketinggian. Di dalam pesawat saling bercerita dengan penumpang lain. Karena pilot enggak bisa diganggu gugat :D. Ternyata untuk pesawat Cesna dengan kapasitas 8 orang yang biasa digunakan tamu kura-kura resort di bandrol sekitar $250 untuk sekali terbang dari Semarang. Mahal banget kan? Untung ada pesawat ini ujar salah satu penumpang yang akan langsung cari penerbangan ke Surabaya begitu sampai di Juanda.

Kondisi dalam pesawat perintis kapasitas 10 orang
Kondisi dalam pesawat perintis kapasitas 10 orang

Selain itu juga ada salah satu petugas dari kementrian yang ikut penerbangan tersebut seharian penuh. Start dari Semarang tadi pagi dan akan kembali ke Semarang nanti malem. Padahal beliau orang Mojokerto. Enggak bisa mampir pulang deh. Pesawat ini berasa seperti nyarter deh, sayangnya enggak ada mbak pramugari yang cantik :D.

Pesawat Perintis
Pesawat Perintis

Perjalanan sekitar 70 menit dari Karimunjawa ke Surabaya benar-benar cepet ya, biasanya 70 menit masih terombang-ambing di tengah laut jawa naik kapal. Ini sudah sampai Surabaya :D. Pemandangan dari udara memang cukup bagus. Pesawat ini tidak terbang terlalu tinggi, sehingga bisa meinkmati keindahan daratan di bawah yang dilewati.
Pemandangan kota dari Udara
Pemandangan kota dari Udara

Insiden di Bandara Juanda Surabaya

Pendaratan di Bandara Juanda Surabaya juga mulus, dan lebih nyaman dibandingkan pesawat terbang komersial yang besar. Selain itu di landasan saat itu aku melihat ada seekor nyambik yang tersesat :D. Mudah-mudahan enggak ngganggu penerbangan. Akhinya setelah parkir di tempat yang agak jauh, kami diantar naik elf ke pintu masuk bandara untuk menunggu bagasi.

Kami menunggu hampir 40 menit bagasi kok enggak keluar. Untung salah satu masnya tadi nyimpen nomor orang kementrian yang bakal ikut ke Sumenep. Ternyata pesawat masih delay dan ternyata bagasi kami masih di pesawat. Belum di turunkan. Untung aja delay, kalau enggak delay baru bisa ambil barangnya ntar sore waktu penerbangan ke Surabaya. Akhirnya petugas Susi Air mengantarkan bagasi langsung ke pintu dan meminta maaf karena lupa tidak mengeluarkan bagasi. Semoga hal semacam ini tidak terjadi lagi. Capek boo nunggu hampir  40 menit -_-.

Keluar dari Bandara aku langsung nyari damri tujuan Bungurasih, karena Latif sudah siap menjemputku di Bungurasih. Aku sengaja enggak naik bemo untuk menuju rumah karena barang bawaan yang besar dan takut mengganggu penumpang yang lain apabila memaksakan naik bemo / angkutan umum. Untung temenku Latip lagi nganggur dan bisa jemput. 

Itulah pengalaman pertama naik pesawat perintis dari Karimunjawa ke Surabaya. Harganya relatif murah jika dibandingkan perjalanan darat. Apalagi waktu yang dihemat benar-benar banyak banget lho.
Pemuda yang lagi suka perjalanan dan keindahan. Sedang mencoba mengenal dunia traveling setelah sebelumnya mengenali dunia animasi dan web. [Pandu Aji Wirawan] (https://scontent-sin.xx.fbcdn.net/hphotos-prn2/v/t1.0-9/1422446_10201815776974926_990516580_n.jpg?oh=075dc9b6a1229b3b2b28fa58402f8b5e&oe=558CADD9)