Mas, Kerja Itu Jangan Buat Cari Rejeki

Senin, Agustus 22, 2016

Tadi pagi aku bingung mau sarapan pakai apa, akhirnya setelah dari kantor pos aku berkeliling enggak jelas dan entah kenapa aku akhirnya memutuskan untuk berhenti di salah satu penjual soto yang cukup enak menurutku. Sebuah warung sederhana di trotoar jalan yang tak terpakai. 

Ketika aku datang, ada empat orang lain yang juga sedang menikmati soto. Sekilas tidak ada yang spesial dengan semua orang tersebut. Ritual sarapan juga seperti biasa, tidak ada yang spesial. Hingga akhirnya di dalam warung tersebut hanya ada aku, seorang bapak paruh baya yang baru datang dan sepasang suami istri yang kemudian pamit.

Ternyata suami istri yang sedang makan tersebut bukanlah orang Blitar, mereka berdua orang Magetan yang kebetulan sedang lewat Blitar. Mereka singgah di warung ini juga bukan sebuah kebetulan, karena setiap lewat Blitar, mereka selalu menyempatkan makan di warung tersebut. Pantas saja, bapaknya hafal.

Begitu suami istri tersebut pamitan ke bapaknya untuk melanjutkan perjalanan ke Magetan.

"Mas, ya begini lho. Kerja itu jangan buat cari rejeki. Tapi buat Ibadah. Rejeki itu urusannya Gusti Allah" Ucapnya tiba-tiba setelah kedua suami istri tersebut meninggalkan warung.

"Nggeh pak, Kerja dan Rejeki itu urusan yang berbeda" Sahut bapaknya paruh baya yang duduk tidak jauh dari tempatku.

Aku sedikit terhenyak dengan pernyataan kedua orang tua tersebut.
Ilustrasi seseorang yang sedang bekerja
Ilustrasi seseorang yang sedang bekerja
"Banyak yang bekerja ngoyo, tapi hasile enggak ada kan? Nah, itu gara-gara kerja cari rejeki. Padahal rejeki itu urusannya Gusti Allah" Ucap pemilik warung.

"Itu tadi pelanggan saya yang rumahnya Magetan, setiap lewat Blitar sering mampir. Mereka datang ke warungku bukan karena aku bekerja, tapi karena rejekiku dititipkan melalui mereka berdua. Masa aku bisa minta rejeki dan langsung di turuti? Kan ya enggak"

Aku hanya mantuk-mantuk mengiyakan bapak pemilik warung yang usianya sudah 70 tahunan itu. Delapan ribu rupiah untuk seporsi soto dan segelas teh ini benar-benar murah jika dibandingkan cara Allah mengingatkanku tentang sesuatu yang penting.

Apakah sebuah mindset adalah evolusi dari niat? Karena niat perlu diperbaiki terus menerus seperti kata seseorang mantan, sedangkan mindset tak akan berubah dengan begitu mudahnya seperti sebuah niat?

You Might Also Like

0 comments

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Facebook

Subscribe