4 Januari 2019

Jelajahi Tempat Wisata dan Kuliner di Cirebon

rekomendasi wisata dan kuliner cirebon
Cirebon, sebuah kota yang sebelumnya nggak pernah masuk dalam wishlist cita-cita untuk dikunjungi. Aku nggak banyak tahu tentang kota yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan naik kereta api gajayana dari Jakarta ini. Berhubung ada ajakan dari Om Re dan Mas Dito di Surabaya untuk ikut meramaikan Festival TIK di Cirebon, akhirnya aku pun berangkat.

Ada beberapa tempat wisata dan kuliner di Cirebon yang aku kunjungi selama tiga hari di sana. Berikut daftar Kuliner di Cirebon yang sempat aku jelajahi bersama teman-teman blogger lain yang juga ikut seperti Mas Dito, Mbak Yuni, Ria, dan Bu Mita.

    Nasi Lengko, Makanan Khas Cirebon Jaman Perang

    Satu-satunya hal yang aku ketahui dari Cirebon adalah Nasi Lengko. Kuliner asli Cirebon ini pertama kali aku rasakan ketika sarapan di warung kecil sekitar Universitas Brawijaya, Malang yang murah-meriah. Karena penasaran dengan rasanya, makanan ini masuk dalam list yang pertama harus aku kunjungi.
     Nasi Lengko H Barno Cirebon
    Nasi Lengko H Barno Cirebon
    Setelah mencari referensi dari teman Mas Dito, ternyata warung nasi lengko yang populer itu adalah punya H. Barno. Siang itu pun kami bergegas untuk segera menuju ke warung nasi H. Barno yang terletak di salah satu pojok lampu merah perempatan Cirebon.

     Nasi Lengko di Cirebon
    Nasi Lengko di Cirebon
    Sembari melayani pesanan kami berlima, kami ngobrol dengan bapaknya tentang asal-usul nasi lengko. Aku baru tahu kalau lengko itu memiliki arti tidak ada, jadi nasi lengko adalah nasi yang nggak ada nasinya. Bingung kan? 

    Bapaknya cerita kalau nasi lengko itu nasinya sedikit, lauk-pauknya yang banyak. Dulu dibuat makan para pejuang perang di kawasan Cirebon. Oleh karena itu makannya diaduk jadi satu. Dalam seporsi nasi lengko ini ada nasi, tahu dan tempe dengan toping kecambah, kucai, timun dan bawang goreng. Tidak lupa kecap dan sambel kacang untuk yang suka pedas. Oh iya, jangan lupa dicampur sebelum dimakan, begitu saran bapaknya. Tapi sebelum di campur aduk, ada baiknya untuk di foto dulu biar kaya travel blogger :D.
     Seporsi nasi lengko di Cirebon
    Seporsi nasi lengko di Cirebon
    Setelah ritual mencampur aduk nasi lengko, kesan pertama yang aku rasakan sih biasa aja. Nggak waaah seperti ekspektasiku. Entah kenapa, atau mungkin karena ini ternyata merupakan warung cabangnya? Namun jujur nggak sesuai dengan ekspektasiku. Aku lebih suka yang di Malang jika dibandingkan yang ini, atau mungkin lidah jawa timurku yak? Sambel kacangnya pedes, untuk yang nggak suka jangan banyak-banyak ntar nggak kuat. Biar aku aja :D.

    Harga seporsi nasi lengko di warung ini dibandrol dengan harga Rp. 15.000, sedangkan untuk stengah porsinya Rp. 10.000. Segelas es jeruk dibandrol dengan harga Rp. 10.000

    Oh iya, untuk yang membawa kendaraan pribadi agak susah parkir di sini. Selain lokasinya yang berada di pojokan lampu merah warung ini nggak ada tempat parkirnya. Jadi mending parkir depan ATM BCA.

    Setelah kenyang dengan makan nasi lengko khas cirebon, siang itu kami menuju ke keraton kasepuhan yang sedikit lebih sejuk meski panas ngentang-ngentang. 

    Keraton Kasepuhan Cirebon

    Keraton Kasepuhan CIrebon
    Keraton Kasepuhan CIrebon
    Keraton kasepuhan merupakan salah satu pilihan paling tepat yang bisa kamu pilih ketika ingin jalan-jalan di Cirebon ketika matahari sedang berada diubun-ubun. Karena, kata orang-orang yang kami tanyai, masih banyak pepohonan teduh yang membuat suasana lebih adem. Jadi Mcqueen Yaqueen untuk menuju ke Keraton Kasepuhan Cirebon

    Cuma butuh waktu 10 menit dari warung nasi lengko menuju ke Keraton Kasepuhan Cirebon dengan mengendarai kendaraan roda empat. Ada sebuah tanah lapang di depan keraton dengan pepohonan besar yang mengelilinginya, tampak seperti sebuah aloon-aloon.

    Jam buka keraton kasepuhan Cirebon ini mulai dari pukul 08.00 pagi sampai dengan pukul 18.00 WIB. Itu menurut yang tercantum di google maps sih, tetapi biasanya tempat wisata macam ini buka sampai pukul 17.00 WIB. saja. Jadi ada baiknya jangan coba-coba buat berkunjung setelah jam 5 sore.

    Sebenarnya ada jalan utama dengan gapura kecil bertuliskan Keraton Kasepuhan Cirebon, namun siang itu tampak tertutup dan sebuah bis besar parkir di depannya. Sepertinya pintu utama ini hanya dibuka ketika ada acara seremonial tertentu saja. Sedangkan pengunjung biasa sepertiku bisa masuk setelah membeli tiket di pintu sebelah timur.
     Loket masuk Keraton Kasepuhan Cirebon
    Loket masuk Keraton Kasepuhan Cirebon
    Adapun harga tiket masuk ke Keraton Kasepuhan Cirebon adalah sebagai berikut ini
    • Pelajar Rp. 10.000
    • Umum Rp. 15.000
    • Mancanegara Rp. 20.000
    Setelah membeli tiket, seorang pemandu langsung mengikuti kita tanpa konfirmasi dulu. Dan nantinya kita diharuskan membayar seikhlasnya.  Jadi kalau memang tidak ingin membayar guide, ketika mulai diikuti langsung ditolak saja dengan halus. Salah satu keuntungan ditemani guide adalah mengetahui cerita dan seluk beluk dari keraton. Berapa biaya guide di keraton ini? Kisaran Rp. 25.000 untuk sekali tour. 

    Dibagian depan terdapat sebuah tembok bata merah yang mirip dengan candi, di beberapa bagiannya terdapat keramik sebagai hiasan. Sedangkan di dalamnya terdapat beberapa sebuah bangunan dengan dua belas pilar / soko dan batu di bagian tengahnya. Kalau nggak salah ini yang dinamakan dengan Pancaratna. Berikut penampakannya.
    Bangunan Depan Keraton Kasepuhan Cirebon
    Salah satu bangunan bagian depan keraton kasepuhan cirebon
    Masuk ke bagian dalam terdapat museum pusaka keraton kasepuhan Cirebon yang bisa dikunjungi dengan membayar Rp. 25.000. Di dalam museum ini tidak diperkenankan untuk mengambil foto. Begini penampakan bagian depannya.

     Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon
    Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon
    Disebelah barat dari Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon ini terdapat mushola Tajug Agung. Mushola dengan nuansa jadul ini benar-benar menentramkan, terutama untuk yang mengambil jeda sholat dhuhur maupun ashar.

    Meski suasanya cenderung sunyi, namun memberikan ketenangan dan kenyamanan tersendiri. Bahkan konon lebih aman dibandingkan sholat di sebelah barat aloon-aloon yang katanya banyak pencopet.
     Mushola di Keraton Kasepuhan Cirebon
    Mushola di Keraton Kasepuhan Cirebon 
    Selanjutnya masuk ke bagian utama Keraton Kasepuhan Cirebon yang memiliki Taman Dewandaru, Museum Benda Kuno, Museum Kereta, Tugu Manunggal, Lunjuk, Sri Manganti dan Bangunan Induk keraton. Semua tertulis di papan petunjuk arahnya.
     Kawasan utama Keraton Kasepuhan Cirebon
    Kawasan utama Keraton Kasepuhan Cirebon
    Bangunan induk keraton berada di bagian ini, hanya bagian bale depan saja yang terbuka. Sedangkan pintu masuknya ditutup. Pintu ini hanya dibuka saat ada kegiatan tertentu saja. Jadi pengunjung cuma bisa nginceng dari jendela kaca yang ada pada pintu bale..
     Bangunan induk keraton kasepuhan cirebon
    Bangunan induk keraton kasepuhan cirebon
    Bagian bale bangunan induk ini di dominasi warna hijau dengan empat pilarnya. Di beberapa titik dindingnya terdapat porselen. Aksesoris warna emas juga tampak menghiasi pilar dan ornamen-ornamen dalam bangunan ini, bahkan daun pintu pun juga demikian.

     Bale Bangunan Induk Keraton Kasepuhan Cirebon
    Bale Bangunan Induk Keraton Kasepuhan Cirebon
    Setelah puas berkeliling keraton kasepuhan, kami pun bergegas untuk pulang dan melanjutkan ke destinasi selanjutnya, yaitu Makam Sunan Gunung Jati.

    Makam Sunan Gunung Jati

     Makam Sunan Gunung Jati
    Makam Sunan Gunung Jati
    Dari Keraton Kasepuhan Cirebon menuju ke Makam Sunan Gunung Jati bisa ditempuh menggunakan ojek online favoritmu! Kemarin berlima naik mobil cuma habis Rp. 27.000. Perjalanan juga tak terlalu lama, sekitar 20 menitan. 

    Salah satu hal yang aku benci ketika datang ke Makam Sunan Gunung Jati ini, begitu turun dari mobil ada seorang bapak-bapak yang menggunakan sorban langsung memepet dan mengajak masuk. Karena risih, kami melipir dulu ke pasarnya dan makan gorengan.

    Setelah menikmati gorengan, aku jadi males buat masuk ke makam sunan gunung jati, jadi diem di warung sambil nyamil gorengan. Sedangkan para wanita pun tetap melanjutkan perjalanan masuk ke makam sunan gunung jati.

    Ternyata kawasan ini benar-benar kacau, banyak orang meminta-minta yang bahkan memaksa. Ada beberapa pintu yang harus dilewati untuk bisa benar-benar mencapai makam Sunan Gunung Jati, namun di hari biasa hanya dibuka sampai pintu ke lima (kalau nggak salah). Sedangkan untuk menuju ke pintu utama memang harus di saat-saat tertentu. Dan tidak murah untuk bisa mencapainya.
    Makan Gorengan di Pasar
    Aku hanya bisa geleng-geleng sambil makan tahu goreng mendengar apa yang diceritakan oleh para wanita yang baru saja masuk ke sana. Setelah sesi bercerita selesai, kami bergegas menuju ke penginapan untuk bersantai. Sudah nggak punya tujuan kemana-mana hari itu.

    Goa Sunyaragi

    Keesokan harinya, punya niat untuk mengunjungi Goa Sunyaragi ketika masih pagi jebul baru bisa datang ketika sudah siang, bener-bener panas! Goa Sunyaragi ini berada di daerah koata Cirebon, tepatnya berada di keluarahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi. Berada di pinggir jalan utama, akses menuju ke Goa Sunyaragi ini sangat mudah.

    Goa Sunyaragi ini buka dari pukul 08.00 WIB - 17.00 WIB dengan harga tiket masuk sebesar Rp. 10.000. Berhubung kami kemarin berlima, Mas Dito langsung nyelonong masuk duluan meninggalkan kami berempat. Jebul di bagian loket ada tulisannya, rombongan 5 orang wajib menggunakan guide yang tandanya harus bayar lagi :D. Karena apabila nambah tour guide itu sekali trip 50 ribu cuy! Mayan kan bisa buat jajan berlima :D.
     Goa Sunyaragi
    Goa Sunyaragi
    Begitu memasuki pintu masuk, kita akan mendapatkan petunjuk arah yang bisa memberi gambaran kemana kaki harus melangkah. Meskipun tak tampak adanya pepohonan sama sekali di bagian tengah. Wajar, jika tidak direkomendasikan ketika siang hari, apalagi ketika panasnya lagi ugal-ugalan seperti ketika aku datang kemarin.
     Wisata Goa Sunyaragi Cirebon
    Wisata Goa Sunyaragi Cirebon
    Coba deh lihat foto di atas, panas banget kan? Bahkan ada yang sampai bawa payung untuk menikmati perjalanan di Goa Sunyaragi ini. Setelah berjalan belasan meter kita akan sampai di bangunan utama goa sunyaragi. Aku agak bingung karena bagian goa ini menggunakan batu karang yang biasanya ada di laut.

    Goa Sunyaragi ini berasal dari bahasa sansakerta yaitu Sunya yang berarti sepi dan ragi yang berarti raga. Goa ini sejatinya digunakan untuk menyepi dan bersemedi. Ada banyak bagian goa ini yang tidak terlalu aku perhatikan. Entah kenapa aku nggak bisa fokus ketika kepanasan.

    Dari berbagai macam bangunan yang ada, tampaknya Arga Jumut ini merupakan yang paling iconic dibanding yang lain. Sehingga tidak heran jika ada banyak orang yang antre untuk foto di depannya, meskipun cuacanya super duper panas. Beberapa orang tampak naik ke bagian goa ini dan mendapatkan teguran dari penjaga, karena sejatinya bagian ini memang tidak boleh dipanjat.

    Serba salah memang jika didepannya diberi papan peringatan tidak boleh menaiki goa, karena akan menjadi sampah visual di kamera para pengunjung yang mengabadikannya.
     Tim penjelajah Goa Sunyaragi
    Tim penjelajah Goa Sunyaragi
    Aku sempat berkeliling menyusuri bagian-bagian goa yang sempit bahkan sempat ngoyo di beberapa bagian. Pertanyaannya, seberapa kecilkah orang jaman dulu sehingga bangunannya goanya seperti itu? Ada cukup banyak pintu yang bisa dimasukin tapi ya gitu, untuk ukuran badanku sangat susah untuk nylempit-nylempit.

     Salah satu bagian goa sunyaragi
    Salah satu bagian goa sunyaragi
    Di beberapa bagiannya, terdapat ukiran-ukiran yang berpadu dengan batu karang. Apabila ingin berteduh, bisa melipir ke bagian belakang, terdapat monumen cina yang rindang dan sejuk.

     Monumen Cina di Goa Sunyaragi
    Monumen Cina di Goa Sunyaragi
    Ada minusnya ketika tidak menyewa guide, kita nggak tahu sejarah dari masing-masing bagiannya sehingga nggak bisa cerita banyak selain apa yang dilihat.

    Kuliner Nasi Jamblang Mang Dul

    Setelah lelah dan kepanasan mengelilingi Goa Sunyaragi, perjalanan selanjutnya adalah menikmati kuliner Nasi Jamblang Mang Dul yang lokasinya bersebelahan dengan nasi Lengko H. Barno yang kemarin kami coba.

    Warung Nasi Jamblang Mang Dul ini bisa dibilang cukup rame. Begitu masuk kami disambut dengan seorang bapak paruh baya yang kemudian mengambilkan seporsi nasi dalam bungkus daun jati serta dipersilakan untuk mengambil sayur dan lauk secara prasmanan.
     Nasi Jamblang Khas Cirebon
    Nasi Jamblang
    Ada banyak menu yang bisa dipilih, dari sekian banyak aku memilih untuk mengambil sayur tahu, tempe goreng dan telur goreng. Jangan lupa untuk mengambil sambel yang merah merona, tapi nggak pedes sama sekali di lidahku.

    Pembelian dihitung per piring dengan lengkap dengan lauknya, aku nggak ingat kemarin itu habis berapa, karena yang aku ingat cuma harga ngambil sambal yaitu Rp. 2000. Selebihnya lupa.

    Kuliner Empal Gentong H. Apud

    Berhubung rombongan dari Surabaya mau pulang duluan, akhirnya kami kembali ke venue Festival TIK di Radar Cirebon. Nunggu sore memang agak lama, awalnya pengen mampir ke Keraton Kanoman tapi nggak jadi, mau mampir ke Batik Trusmi juga nggak jadi akhirnya leha-leha di venue acara. Lha kok laper lagi.

    Kebetulan ada penjual makanan di kawasan venue. Dari berbagai macam menu yang ada, Empal Gentong merupakan salah satu kuliner khas cirebon yang belum pernah aku coba. Ada Empal Gentong H. Apud yang aku coba sore itu.
     Empal Gentong H. Apud Khas Cirebon
    Empal Gentong H. Apud Khas Cirebon
    Jebul, empal gentong ini sama dengan soto daging dengan lontong. Rasa empal gentong H. Apud ini bisa dibilang nggak fail meski disajikan dalam wadah plastik. Dagingnya empuk dan cukup banyak. Kuahnya kentel dan nendang banget. Taburan brambang goreng dan seledrinya bikin rasanya makin mantep.

    Selain itu mereka ternyata juga jual bumbu empal gentong dan empal gentong dalam kaleng yang siap saji. Sayangnya aku nggak beli itu, jadi ya sudah lah :D. Harga seporsi empal gentong waktu di event itu kalau nggak salah Rp. 27.000

    Mie Koclok Jatimerta Mas Eki

    Setelah rombongan Surabaya yang lain pulang, keesokan paginya nyobain kuliner Mie Koclok Jatimerta yang direkomendasikan Mbak Ulu, salah seorang kawan dari Bandung. Siang itu bersama Ria yang masih tinggal di Cirebon langsung melipir ke warung yang jaraknya tak begitu jauh dari Stasiun Kereta Api Cirebon.

     Mie Koclok Jatimerta
    Mie Koclok Jatimerta
    Meski banyak pilihan menu khas cirebon, aku sudah yaqueen memesan Mie Koclok yang sudah direkomendasikan. Konon, mie koclok merupakan kependekan dari Mie Khasnya Orang Cirebon yang Lebih Okay. Entah itu benar atau nggak aku juga kurang tahu.
     Mie Koclok Jatimerta Mas Eki
    Mie Koclok Jatimerta Mas Eki
    Mie koclok disajikan dengan kuah santan putih yang kental, gurih dan asin. Ada potongan kol, yang dimasak bareng dengan mie berwarna kuning. Sedangkan topingnya ada suwiran ayam, irisan telur rebus dan brambang goreng. Rasanya cukup unik, mengingatkanku dengan rasa unik soto banjar bang amat di Banjarmasin yang tentunya berbeda jauh.

    Harga seporsi mie koclok jatimerta mas eki kalau nggak salah sekitar 20ribuan. Makan seporsi sebenernya nggak kenyang, cuma enek aja sih. Mau nambah tahu gejrot nggak jadi deh. 

    Batik Trusmi

    Awalnya aku bingung tentang batik trusmi ini toko atau apa, ternyata sebuah pasar batik yang ada di desa trusmi. Nah, di desa ini banyak penjual batik maupun pakaian, bahkan ada toko oleh-oleh yang mewah.

    Kemarin teman-teman nggak jadi mampir ke batik trusmi, karena dipikir batik di sini itu mahal. Jebul ada banyak batik-batik yang murah. Mungkin bisa diagendakan lain kali ketika main ke kawasan cirebon.

    Pulang dari Cirebon
     Stasiun Kereta Api Cirebon
    Stasiun Kereta Api Cirebon

    Untuk menyusuri semuna tempat di atas sebenernya bisa dilakoni dalam waktu sehari, namun supaya lebih kaffah mainnya, coba lah dua hari semalam. Kebanyakan lokasinya berdekatan, ojek online juga bisa dengan mudah didapatkan kok. Jadi nggak usah bingung kalau ada waktu 2 hari satu malam liburan ke Cirebon, karena selain tempat di atas, masih ada beberapa tempat yang aku lewatkan seperti Keraton Kanoman yang sepertinya menarik untuk dikunjungi.

    Di sela-sela kegiatan 3 hari di Cirebon, tempat-tempat di atas lah yang sempat aku kunjungi. Jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika aku makan ketoprak di depan stasiun cirebon sembari menunggu kereta api gajayana yang akan mengantarkanku pulang menuju ke Blitar.

    Oh iya, untuk penumpang kereta api gajayana dari Cirebon menuju ke Malang, ada baiknya untuk mempersiapkan stamina lebih. Terutama untuk yang dapat gerbong depan, karena harus jalan dari gerbong paling belakang menuju ke gerbong paling depan. Demikian sekilas infonya.
    Temukan aku di Facebook, Instagram , Twitter!
    Kalau artikelnya nggak muncul, coba deh matikan adblocknya ;)

    6 komentar:

    1. Baru tau Gua Sunyaragi lebih dari 5 orang harus sewa guide. Pantes yang di Keraton Kasepuhan langsung dikintili guide tanpa permisi.

      Sakjannya makanan di venue enak-enak, yang gak menarik beli, wadahnya gak fotoable. Mbok ya modal mangkok, kek, porsi wadah plastik cuman sedikit, tapi harganya normal

      BalasHapus
      Balasan
      1. Lha sampean wingi nggak liat ta mbak tulisan di tempat pembelian tiket e? Makane om dito nyelonong mlebu disik yo amergo kuwi :D. Iya, menyesalku tuh sekarang, jadi pengen ke sana cuma buat makan aja :D

        Hapus
    2. Tahu gorengnya bikin laper btw....aku ada rencana solo travel ke Bandung taun ini, semoga bisa ambil cuti lagi hahahhaa

      BalasHapus
      Balasan
      1. Tahu gorengnya juwarak! Serius! Sayang nggak ada petis dari Madura. Adanya petis cirebon dan rasanya kuurang cocok :D

        Hapus
    3. Aku kepikiran buat trip ke Cirebon satu harian. Tapi kayaknya enggak keburu nih kalo ngedatengin semua tempat wisata plus icip-icip kulinernya. Yang ada malah terburu-buru dan jadi gak nikmatin. Hehehe.

      BalasHapus
      Balasan
      1. Bener mbak, jangan semua. Beberapa aja. Kalau melihat Cirebon aku lebih suka mencoba kulinernya sih dibanding jalan-jalannya. Hehe

        Hapus

    Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

    Whatsapp Button works on Mobile Device only

    Start typing and press Enter to search