Kuliner Rawon Pecel di Srengenge Wetan Banyuwangi

Last Updated on 2 years by panduaji

Entah kenapa belakangan aku lebih tertarik untuk makan-makan daripada jalan-jalan. Seperti beberapa waktu lalu ketika berada di Banyuwangi selama 16 jam, nggak ada tempat wisata yang aku kunjungi, tetapi ada tempat makan yang aku kunjungi.

Nggak afdol kalau datang ke suatu tempat tanpa nyobain makan makanan di kota tersebut. Begitu pun ketika di Banyuwangi. Meski seharian ada kegiatan, sebelum pulang menyempatkan diri untuk mlipir menikmati kuliner andalannya.

Awalnya mau kulineran di taman blambangan yang kebetulan lagi ada event ulang tahun Banyuwangi, jebul sesampainya di sana nggak banyak menu pilhan makanan yang ada. Akhirnya rombongan langsung mlipir ke Restoran Srengenge Wetan, Banyuwangi yang sudah terkenal enak.

Restoran Srengenge Wetan Banyuwangi

Beruntung malam itu, Mbak Yayat sebagai bu bos siap mentraktir kami semua hahaha :)). Restoran Srengenge Wetan ini bisa dibilang berada di pusat kota Banyuwangi. Gimana enggak, lha wong jaraknya cuma sekian meter dari tugu titik nol kilometer Banyuwangi. Di Blitar aja, titik nol kilometernya hanya sebuah tugu kecil yang terabaikan.

Beberapa teman blogger merekomendasikan Srengenge Wetan sebagai tempat kuliner di Banyuwangi yang recomended dengan harga masih terjangkau. Ada banyak pilihan menu khas Banyuwangi yang bisa dicoba di sini.

Secara administratif, Srengenge Wetan terletak di Jl. Panglima Besar Sudirman No.175, Singonegaran, Banyuwangi. Buka mulai jam 10 pagi sampai jam 10 malam.

Pemandangan lantai satu dari luar seperti kebanyakan ruko di kawasan perkotaan, lantai dua tampak menarik dengan palet kayu berwarna coklat. Mungkin karena lokasinya memang berada di jalan satu arah yang didominasi pertokoan, sehingga membuat restoran ini juga memiliki bangunan ruko dengan bagian dalam yang sudah dirombak.

Begitu masuk, hampir semua lampunya berwarna kuning. Berpadu dengan warna coklat dari berbagai perabotan kayu yang memenuhi resto ini. Memang tampak ekslusif dari luar, namun cukup sulit mengambil foto dengan perangkat seadanya kalau di sini malam, karena nggak ada bantuan cahaya dari matahari :)).

Kulinran di Srengenge Wetan

Kami memilih tempat di atas untuk menikmati santapan makan malam di Srengenge Wetan, karena lebih luas dengan banyak pilihan kursi untuk rombongan seperti kami.

Nasi Rawon Pecel

Setelah membolak-balik buku menu, memang ada beberapa menu tradisional yang disajikan, seperti Rujak Soto, Rawon Pecel dan Nasi Tempong. Dari semua menu yang ada, aku memilih untuk memesan Nasi Rawon Pecel yang sudah beberapa kali aku coba di luar Banyuwangi.

Gak afdol rasanya kalau gak nyobain makanan asli di daerah asalnya. Seperti halnya ketika aku mencoba Ramen di Jepang. Sebagai anggota tim yang paling terburu-buru, aku mendapatkan prioritas untuk dilayani terlebih dahulu dibanding teman-teman lain.

Yang lain masih ribet buat pesan makanan, pesananku Nasi Rawon Pecel yang dibandrol dengan harga Rp.25.000 ini sudah tersedia di atas meja. Seperti ini penampakannya

Rawon Pecel khas Banyuwangi
Nasi Rawon Pecel khas Banyuwangi

Sekilas memang gak ada yang salah dengan tampilannya, dua menu yang disajikan dalam satu piring namun masing-masing masih memiliki identitas sendiri-sendiri. Kuah rawon disajikan dengan potongan daging kecil-kecil yang empuk. Berbeda dengan rawon pada umumnya. Sedangkan pecel dengan sayuran disajikan diatas nasi yang dibentuk mangkok.

Tidak lupa sambel pecel bumbu kacang juga disajikan bersamaan dengan sayurnya. Sepotong tempe goreng sudah biasa menjadi pendamping soto maupun pecel. Ditambah dengan telur asin yang nggak terlalu asin menurutku dan kerupuk udang.

Nasi Rawon Pecel khas Banyuwangi

Aku dulu pernah makan menu ini di Blitar, tapi rasanya cukup aneh menurutku. Berbeda ketika aku mencoba langsung di Banyuwangi. Enak-enak aja kok. Mungkin karena sambel pecel Blitar memiliki rasa kencur yang cukup kuat sehingga mengurangi keharmonisan perpaduan bumbu kacang dengan rawon.

Sayangnya aku cuma sekitar 14 jam saja di Banyuwangi, jadi belum sempat jalan-jalan dan makan-makan menu khas Banyuwangi yang menurutku agak nyeleneh. Setelah habis makan, aku langsung cabut menuju ke Pelabuhan Ketapang. Sudah di telpon helper Bus MTrans yang akan mengantarkanku ke Blitar. Nanti aku tulis pengalaman naik bis setelah ini 😀

Previous

Kuliner Nasi Campur Madura di Aiola Surabaya

Nyoba Naik MTrans, Bus Malam Bali Blitar Super Nyaman

Next

Saya juga ada di Instagram facebook Twitter dan Youtube Suka menulis tentang blogging di panduaji.com

Leave a Comment