Pendakian Gn. Buthak via Sirah Kencong

Selasa, Mei 10, 2016

Beberapa waktu lalu aku melakukan pendakian untuk ketiga kalinya. Setelah sebelumnya aku udah pernah melakukan pendakian ke gunung Kelud untuk upacara agustusan, dan pernah juga camping ceria di kopkopan. Pada kesempatan ini aku bersama dua orang temanku melakukan pendakian ke Gn. Buthak melalui Sirah Kencong.

Fauzi dan Zulfa merupakan nama kedua temanku yang akan menemani perjalanan pendakian ini. Mas Fauzi udah pantes kalau disebut orang gunung, sedangkan aku dan Zulfa hanyalah tim hore yang ingin tahu gimana sih Gn. Buthak itu :D.

Untuk yang pengen ke Gn. Buthak via Sirah Kencong bisa langsung datang ke Sirah kencong. Dari Kawedanan Wlingi ke utara menuju tegalasri kemudian melewati perkebunan sengon dan naik terus sampai di Sirah Kencong.

Kami bertiga melakukan pendakian hanya membayar 16 ribu rupiah untuk 3 orang dan parkir dua sepeda motor. Tidak ada biaya lagi selain biaya itu. Cukup tinggalkan KTP di pos satpam perkebunan dan mengisi data diri.

Bermalam di Ukir Negoro

Perjalanan sore itu dimulai dari Sirah Kencong, sebuah tempat wisata favoritku di Blitar. Kami bertemu dengan Riski, salah seorang siswa kelas 1 SDN Ngadirenggo 4 yang pernah kami datangi sekolahannya ketika acara kelas inspirasi Blitar di SDN Ngadirenggo 4. Kami bertemu dengannya ketika mengharapkan sepiring mie dan segelas teh hitam di warung Bu Tia yang ternyata tutup karena Bu Tia sekeluarga sedang pergi ke luar kota.
Aku dan Riski
Aku dan Riski
Nggak nyangka aja, anak sekecil itu masih ingat sama kita-kita yang datang ke sekolahannya beberapa bulan lalu. Tepatnya bulan November tahun 2015.

Akhirnya si Riski ini ngikut terus tatkala kami sholat, dan mengantarkan kami ke warung alternatif yang jaraknya tidak begitu jauh dari warung Bu Tia. Akhirnya kelaparan kami sedikit terobati dengan sajian masakan di Warung Pak Edi. Satu-satunya warung di Sirah Kencong yang buka malam itu.

Jam menunjukkan sekitar pukul 20.00, ketika kami sudah harus segera memulai perjalanan malam itu. Tidak lupa kami membungkus nasi untuk jaga-jaga siapa tahu nanti malam kelaparan dan satu termos penuh teh hitam hangat khas sirah kencong yang nikmat untuk bekal di perjalanan.

Jalan dari Sirah Kencong menuju Ukir Negoro sudah lumayan menguras tenaga. Yang biasanya satu jam itu sampai, kami membutuhkan waktu 2 jam perjalanan :D . Ya begini nasibnya kalau dua kungfu panda sedang berusaha untuk naik gunung.

Perjalanan dari Sirah Kencong munuju Ukir Negoro hanya melewati jalur perkebunan teh. Kami tidak mengikuti jalan terus menerus tetapi memotong jalan melalui tengah-tengah perkebunan teh. Di Brak Papat Ukir Negoro ternyata sudah ada yang mendirikan tenda.

Kami berhenti sejenak dan ngobrol sebelum melanjutkan perjalanan yang tidak begitu jauh. Karena malam itu kami putuskan untuk bermalam di Ukir Negoro. Di sela-sela ngobrol, aku belajar untuk mengambil foto langit ketika malam. Hasilnya tidak mengecewakan pokoknya :D.
Taburan Bintang di Brak Papat Ukir Negoro
Taburan Bintang di Brak Papat Ukir Negoro
Setelah puas ngobrol dan belajar ambil foto, kami lanjutkan perjalanan. Tidak sampai 15 menit kami sudah sampai di Pos Ukir Negoro dimana kami akan bermalam. Tenda pun telah berdiri ketika datang belasan rombongan dari SMK Negeri 1 Blitar yang juga bermalam di tempat tersebut.
Pemandangan Bintang di Ukir Negoro
Pemandangan Bintang di Ukir Negoro 
Malam itu pun aku dan Mas Fauzi melihat satu bintang yang jatuh. Karena mitosnya kalau lihat bintang jatuh itu make a wish. Kami pun ngikut aja, sayangnya aku lupa, kemarin minta apa ya? haha

Perjalanan Menuju Puncak

Malam itu kami tidak bisa tidur nyenyak gegara rombongan anak SMK yang super duper berisik. Ah, mungkin mereka lupa ada mahluk lain yang kelelahan di dekat tenda mereka. Sebelum melanjutkan perjalanan, aku dan mas Fauzi turun ke Brak Papat kemudian turun lagi untuk mengisi persediaan air.

Setelah sarapan nasi yang dibungkus semalam, akhirnya kami melanjutkan perjalanan untuk menuju puncak gunung buthak. Perjalanan menuju puncak ternyata cukup berat. Jalan dari Ukir negoro ke pos 1 dan lanjut ke pos 2 memiliki beberapa titik landai, namun jauh lebih banyak tanjakannya.
Masak Masak di Pos 2
Masak Masak di Pos 2
Sedangkan mulai pos 2 ke pos 3 jalanan sudah mulai menanjak terus dengan hutan yang sudah tidak terlalu rimbun. Tampak banyak tumbuhan pakis. Dari pos tiga menuju pos lima tidak ada lagi jalan yang landai. Tanjakannya cukup berat.
Tanjakan Gn Buthak tak Berakhir
Tanjakan Gn Buthak tak Berakhir
Saat itu hujan turun dengan begitu derasnya sehingga selain basah meski sudah memakai jas hujan, Zulfa sering sekali terpeleset. Akhirnya kami tiba di pos empat sekitar pukul 17.30. Ini waktu yang lumayan lama menurut Mas Fauzi.

Akhirnya diatas pos empat kami memutuskan untuk berhenti dan membangun tenda karena Zulfa sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan. Kondisinya drop karena bajunya basah gegara kehujanan dan kelelahan. Akhirnya kami bermalam di salah satu tempat yang agak landai di antara pos empat dan pos lima.

Menikmati Pagi di Pos 5 Gn. Buthak via Sirah Kencong

Ketika pagi menjelang, udara di kawasan ini termasuk dingin. Jadi pastikan membawa pakaian yang hangat. Pagi itu keadaan Zulfa sudah membaik tapi dia sudah enggak mau buat naik lagi meski cuma sampai pos 5 saja :D.

Aku dan Mas Fauzi pun naik meninggalkan Zulfa seorang diri yang memasak di tenda untuk menikmati pagi di Pos 5. Pos 5 ini biasa dinamakan hutan lumut. Ada banyak sekali jenis lumut di kawasan pos ini. 
Perjalanan Menuju Pos 5
Perjalanan Menuju Pos 5
Selain itu juga terdapat banyak bunga edelweis yang belum mekar. Semerbak harumnya tangkai edelweis mengiringi perjalanan ke Pos 5 yang tidak terlalu jauh dari tenda kami. Setelah berjalan kurang dari 30 menit kami berdua sampai di Pos 5.

Pos 5 ini cukup lapang untuk bermalam. Ada satu pohon mati yang instagramable. Hanya satu yang disayangkan, yaitu tempatnya yang kotor. Ada banyak sekali sampah yang berserakan di pos 5 ini. 
Pos 5 Gn. Buthak
Pos 5 Gn. Buthak
Pagi itu kami juga bertemu dengan dedek-dedek gemes dari SMA Negeri 1 Garum :D. Mereka camp di pos dua dengan jumlah rombongan dua belas. Namun hanya 7 orang yang summit berangkat sekitar jam 1 malam.
Setengah Rombongan SMA 1 Garum
Setelah cukup puas, kami segera turun untuk sarapan dan karena udah terlalu lama meninggalkan Zulfa yang memasak untuk segera turun agar tidak terlalu malam. Karena tidak sampai puncak, kami tidak bisa mengisi air. Karena sumber air terdekat selain di bawah brak papat ada di Savana yang merupakan pendakian Buthak via Panderman.

Jadi pastikan kamu tidak kekurangan air minum saat melakukan pendakian yang cukup panjang melalui Sirah Kencong Blitar. Karena sumber air tidaklah dekat. 

Perjalanan Turun

Perjalanan turun jauh lebih cepat dibandingkan naik, meski dengan beban yang sudah berkurang. Di sini benar-benar dirasakan kalau kamu butuh sepatu yang agak longgar kalau turun gunung. Karena kalau sepatu nge-press akan membuat jari menjadi sakit.

Beruntung ketika turun hujan tidak turun, meski begitu aku tetep pakai jas hujan biar berkeringat dan siapa tahu mengurangi lemak yang ada di badan ini :D.

Perjalanan turun juga cukup lama, sekitar 7 jam perjalanan. Dengan persediaan air yang semakin menipis akhirnya kami bisa sampai di Sirah Kencong tepat ketika adzan Maghrib berkumandang. Sebuah perjalanan yang melelahkan, tapi aku masih pengen mengulanginya lagi.

Udah sih, mungkin gitu aja sekilas info pendakian Gunung Buthak via Sirah Kencong. Kalau ada yang ditanyakan tinggalkan aja di kolom komentar, nanti aku tambahkan informasinya. 

You Might Also Like

0 comments

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Facebook

Subscribe