Menikmati Keindahan Pacitan yang Pernah Kuabaikan

Last Updated on 8 months by panduaji

Dua tahun tidak mengunjungi pacitan sama sekali mungkin merupakan salah satu dosa besar yang pernah aku perbuat. Sebelumnya aku selalu menyempatkan diri untuk datang minimal setahun sekali. Bahkan jauh sebelumnya, setiap tahun memang agenda rutin untuk pergi ke Pacitan.

Pusara ibu merupakan satu-satunya alasan aku harus datang minimal sekali setiap tahun. Dulu waktu Mbah masih ada, setiap tahun keluarga besar berkumpul di sini. Namun ketika Mbah sudah nggak ada, silaturahmi keliling pun digalakkan untuk tetap terhubung dengan saudara besar.

Setelah beberapa kali wacana berkunjung gagal, akhirnya kemarin nekat berangkat bersama adik naik motor. Perjalanan selama empat jam cukup membuat badan ini merasa lelah. Udah lama enggak

“Mas, mau main kemana aja di Pacitan?” Sebuah pertanyaan dari teman yang hanya aku balas dengan senyuman. Aku udah nggak terlalu tertarik untuk berkunjung ke tempat wisata yang ada di Pacitan. Karena aku sudah menemukan kedamaian hanya dengan berjalan-jalan di sekitar rumah nenek.

Beda ceritanya kalau ada banyak teman yang ngajak main rame-rame, mungkin aku akan mau berangkat plesir ke destinasi wisata yang ada di Pacitan. Seperti ketika mau pergi nikahan teman di Ponorogo yang kemudian mampir di pantai srahu Pacitan.

Pemandangan di Ds. Cokrokembang, Pacitan
Pemandangan di Ds. Cokrokembang, Pacitan

Berdiam diri di pinggir jalan sambil melihat padi yang mulai menguning sembari mendengarkan suara ayam yang bersahutan memberikan kedamaian sendiri. Belum lagi bebauan sawah di pagi hari dengan aroma asap tipis dari kayu yang dibakar di rumah penduduk sekitar. Tampak juga Gunung Nduwur yang merupakan tempat peristirahatan terakhir ibu berselimut kabut dengan latar belakang langit yang membiru

Tidak jauh dari sini, terdapat puskemas yang rutin aku kunjungi hampir setiap hari kamis ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku dulu punya sakit mag yang nggak tau kenapa sekarang udah nggak pernah kambuh.

Jadi ingat Bu Minah, guru BP yang memberi uang saku tambahan 500 perak sepulang dari puskesmas untuk membeli arem-arem di kantin sehingga aku bisa segera mengunyah obat yang aku dapatkan. Setelahnya aku diminta untuk tiduran di UKS sembari menunggu jam istirahat selesai. Tidak lupa, segelas teh hangat yang juga tersaji di UKS.

Siapa sangka, kalau pemandangan di depan puskesmas yang tak begitu aku pedulikan dulu sebenarnya benar-benar memikat. Bahkan memberikan kedamaian tersendiri ketika aku nikmati di usia dua puluhan :)). Bulir padi yang mulai menguning ini mengingatkanku ketika mencari belut sebelum sawah ditanami dengan berbekal petromak, capit DIY berbahan bambu yang berlapis kulit baterai A1.

Pemandangan di depan Puskesmas Ngadirojo, Pacitan
Pemandangan di depan Puskesmas Ngadirojo, Pacitan

Sehari di Pacitan memang kurang puas, ada banyak hal yang ingin aku lakukan. Namun gegara masih pandemi, setidaknya ini sudah bisa membayar kerinduan dua tahun tidak pulang. Aku pun menghindari bertemu dengan banyak orang, hanya keluarga dekat. Selebihnya semoga bisa bertemu ketika pandemi usai

Previous

Melihat Jalur Lintas Selatan Tambakrejo – Serang

Mencari Titik Nol Kilometer Kota Blitar

Next

Saya juga ada di Instagram facebook Twitter dan Youtube Suka menulis tentang blogging di panduaji.com

Leave a Comment