Hallo Bawean! #EpsBawean2

Senin, April 20, 2015

Tidak berapa lama setelah melihat pulau yang disebut Bawean, kami berhasil berlabuh! Akhirnya bisa keluar dari kapal yang penuh sesak dengan semerbak bau durian di dalamnya. Tadi deket tempat duduk ada yang bawa durian. Meski termasuk suka durian, enggak tau kenapa enek aja waktu cium baunya di kapal yang terombang-ambing ombak.

Begitu keluar dari kapal langsung mendapatkan sambutan yang mengerikan dari Bawean. Awan hitam nan gelap benar-benar tampak mengerikan. Meski belum hujan, tapi dengan awan segelap itu sudah bisa dipastikan kalau sebentar lagi hujan. Mungkin alam Bawean mencurigai kedatangan kami yang sekaan hendak merampok segala keindahan alam di sekitar pulau ini.

kapal di pelabuhan bawean
Awan mendung yang menyambut kami di pelabuhan bawean
Di pelabuhan, kami sudah dijemput sebuah mobil L300 yang sudah di modifikasi sedemikian rupa untuk dijadikan sebuah angkutan. Kami langsung menuju homestay yang lokasinya tidak terlalu jauh dari dermaga tersebut. Homestay dengan warung makan di pintu depannya. Entah apa nama homestay tersebut, karena memang enggak ada namanya.

Mengenal Bawean dari Jalanan

Jam masih menunjukkan sekitar pukul 12.30 ketika kami sampai di homestay yang langsung disambut dengan ramah oleh Bunda, pemilik warung sekaligus homestay yang akan kita tinggali selama 4 hari ke depan. Baru aja nyampek sudah di suruh makan :D . Mau enggak mau yaudah makan aja, karena jam 2an mau mulai jalan-jalan di Bawean.

Hujan di Bawean hari itu sepertinya sedang galau, terkadang hujan turun begitu deras terkadan agak gerimis kemudian deras lagi. Entahlah, aku juga enggak terlalu memperhatikan siklusnya. Memang benar kata orang, kalau pulau ini disebut juga pulau putri. Selama duduk di depan homestay aku lihat mayoritas yang seliweran itu cewek! Mungkin cocok buat yang sedang mencari jodoh untuk datang ke pulau ini.

Akhirnya jam 2 pun kami berangkat dengan tujuan Penakarkan Rusa dan Tanjung Gaang (entah ini tulisannya gimana). Menurutku, pulau bawean benar-benar subur, hamparan padi yang menguning dengan susunan terasiring menghiasi perjalanan menuju penakaran rusa yang lumayan jauh. Mungkin hampir 30 menitan kami menempuh perjalanan menuju tempat ini. Karena dibutakan arah, aku kurang tahu posisi pastinya penakaran rusa ini.

Penakaran Rusa di Bawean

Penakaran Rusa di Bawean
Penakaran Rusa di Bawean
Kami datang tepat pada waktu jam makan sore rusa. Ada bapaknya yang saat itu sedang memberi makan rusa-rusa ini dengan meletakkan aneka macam deadunan hijau. Rusa di sini belum terbiasa dengan manusia, sehingga ketika di dekati mereka mlaah menjauh. Meski kita beri makan dedaunan hijau segar yang menggoda, mereka lebih memilih untuk menghindar. 

Kami enggak terlalu lama berada di tempat ini, karena keburu sore juga. Akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Tanjung Gaang (entah ejaan yang bener seperti apa).

Pacu Adrenalin dengan Terjun ke Laut dari Tanjung Gaang

Dari penakaran rusa menuju Tanjung Gaang ini cukup jauh, hampir 1 jam perjalanan lah. Jadi udah agak kesorean gitu nyampek sini. Di sini rombongan kami bertambah 3 orang. Lumayan bisa memperingan sewa kapal untuk ke Tanjung Gaang dari bawah. Karena kalau lewat darat, selain jaraknya jauh, ambil fotonya juga cuma bisa dari atas, enggak bisa dari bawah. 

Alhamdulillahnya sih, sore itu bisa dapet kapal nelayan buat nganter ke Tanjung Gaang, dengan tarif sekitar 100 ribu rupiah untuk orang 15 udah bisa naik kapal dianterin ke Tanjung Gaang. Dari tempat kapal nelayan menuju tanjung gaang membutuhkan waktu sekitar 15 menit. 

perjalanan ke tanjung gaang
Mbak Lingga lagi moto moto
Sebelum berlabuh di salah satu pantai terdekat dari Tanjung Gaang, nelayan yang kami sewa perahunya memutarkan perahu di sekitar tanjung gaang, sehingga kita bisa moto tanjung gaang yang terdiri dari batuan karang unik. Ini penampakan tanjung gaang dari bawah kapal.

Tanjung Gaang di Bawean
Tanjung Gaang di Bawean
Menurut legenda yang pernah di dengar bapak nelayan tersebut, konon tanjung gaang ini sebenarnya seperti sebuah jembatan yang dulu menghubungkan antara pulau bawean dengan tanjung kodok yang ada di lamongan lho. Panjang banget kan? Entah kenapa pada suatu ketika sambungannya sudah hilang. Namanya juga legenda, mau percaya silakan, kalau enggak ya silakan :D.

Akhirnya kami ditinggalkan nelayan di pinggir pantai untuk kemudian jalan naik ke karang-karang tanjung gaang. Nelayannya pergi ke tengah untuk menebarkan jala (mungkin) nanti kami akan dijemput lagi di pantai tersebut. Akhirnya kami jalan menuju tanjung gaang melewati bebatuan yang tajam-tajam. Disarankan untuk memakai sandal gunung ketika jalan di tempat ini.

Mas Budi di Tanjung Gaang
Mas Budi di Tanjung Gaang
Ketika sampai di atas tanjung gaang, kamu bisa foto-foto sesuka hatimu, karena pemandangannya benar-benar epic. Sayangnya saat itu mendung dan gerimis tipis-tipis yang bener-bener romantis deh. Setelah cukup puas akhirnya kapal nelayan yang mengantarkan kami mulai kelihatan di bawah tajung gaang dan menantang kami untuk lompat langsung ke laut :D. Aku kurang tahu berapa tingginya, mungkin sekitar 10 meter ++. 

Akhirnya setelah menentukan spot yang cukup lama, Mas Adit lompat dengan begitu indahnya. Meski udah ku rekam, tapi masih males buat edit dan uploadnya. Kapan-kapan ya :D. Akhirnya setelah sempat ragu cukup lama aku menyusul lompat dari tanjung gaang dan di susul oleh Mas Dio dan Mas Budi yang cuma nyemplung. 

Meski lompat dari ketinggian, kaki enggak sampai napak dasar lautnya. Padahal kelihatannya dangkal lho, nyatanya cukup dalam. Lompat dari tanjung gaang ternyata berbuah luka di telapak kaki. Kesalahanku waktu lompat lepas sandal, jadi ketika kaki menjadi tumpuan saat ancang-ancang lompat, tergores deh oleh ketajaman batuan karang.

Akhirnya ada 4 orang dari rombongan kami yang loncat sore itu. Pulang dengan baju dan celana basah kuyup selama perjalanan 30 menit lebih. Untung enggak masuk angin :D.

Malam Pertama di Bawean

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan hari ini, kami tiba di homestay sekitar pukul 18.30 antri mandi deh, sambil nunggu makan malam jadi. Mas Rere dateng ke homestay kita malam itu, ngobrol-ngobrol dikit dan mengatakan kami gila karena lompat dari tanjunga gaang, 4 orang pula. Masih katanya, selama ini belum ada tamunya yang lompat dari tanjung gaang.

Akhirnya setelah semua mandi dan makan malam banyak yang langsung tidur, meski masih ada yang main kartu :D.


You Might Also Like

2 comments

  1. Salam kenal dari Surabaya. Wah Bawean keren nih, apalagi kalo dapet paketan yg murah gitu. Bikin makin ngiler, hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayang paketan ke bawean mahal mahal euy. kalau backpacker orang dikit share costnya juga mahal. sama aja deh.

      Hapus

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Facebook

Subscribe