Menjelajahi Daratan Bawean #EpsBawean3

Selasa, April 21, 2015

Hibernasi semalaman membuat badan lumayan segar dibanding setelah begadang. Menurut itenary yang udah dibuat sebelum berangkat sharecost backpacker ke bawean adalah pergi ke pantai jherat lanjeng, danau kastoba, pemandian air panas dan pantai labuan.

Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi ketika kami ngobrol dengan Mas Basit, guide lokal yang mengantarkan kami. Ada sedikit pembicaraan mengenai destinasi wisata di bawean yang akan kami kunjungi saat itu. Akhirnya destinasi pun berubah total di hari kedua, meski ada beberapa yang tetap dikunjungi, namun ada juga yang enggak dikunjungi hari itu.

Menuju Pemandian Putri

Tujuan utama kami yang pertama adalah pemandian putri, seperti apa gambarannya? Aku juga kurang begitu tahu. Yang jelas perjalanan yang ditempuh lumayan lama sih. Di tengah-tengah perjalanan, kami berhenti di sebuah spot yang cukup bagus buat foto-foto. Kalau gak salah nama spotnya adalah Murta Layah.
Murta Layah di Bawean
Murta Layah di Bawean

Murta Layah merupakan spot dimana kita bisa melihat pantai dari ketinggian bukit. Lokasinya tepat berada di pinggir jalan, sehingga enggak perlu jalan kaki. Oh iya, ini foto kendaraan yang kami gunakan selama perjalanan keliling bawean.

Carteran di Bawean
Carteran di Bawean
Setelah puas foto-foto di tempat ini, akhirnya perjalanan berlanjut lagi ke pemandian / air terjun putri. Cukup jauh juga sih kalau dari homestay. Maafkan aku yang terlalu buta arah saat di bawean. Apalagi duduk di bangian belakang dan enggak lihat sama sekali. 

Air Terjun / Pemandian Putri
Air Terjun / Pemandian Putri
Baebatuan yang ada di tempat ini seolah-olah di susun sedemikian rupa dan bagian bawah yang tidak terlalu dalam memang cocok digunakan sebagai pemandian. Aliran airnya juga cukup deras, mungkin efek hujan deras sehari sebelumnya. Setelah puas di pemandian putri tanpa mandi, perjalanan berlanjut ke Danau Kastoba.

Keramaian di Pasar Bawean

Ternyata danau kastoba beneran jauh deh dari Pemandian Putri, kami sempat berhenti di pasar (lupa namanya). Beberapa dari kami berbelanja kaos di sana. Karena stok kaosnya habis enggak jadi ikutan beli deh :p.

Aku pernah baca entah dimana 
Kalau ingin mengenali penduduk di suatu tempat, datanglah ke pasar lokal
Mungkin ada yang pernah tahu? Memang benar di pasar ini mayoritas yang nampak adalah kaum wanita. Pria sangat jarang sekali kelihatan. Tidak salah kalau pulau ini juga disebut dengan pulau putri. Karena banyak pemudanya pergi ke luar negeri menjadi TKI. Sehingga tidak heran banyak rumah-rumah bagus di tempat ini. 

Pasar di bawean
Pasar di bawean
Karena sudah agak siang, pasar juga sudah tampak sepi. Selain itu helm tak begitu berguna di tempat seperti ini. Polisi juga enggak begitu kelihatan. Bahkan motor dengan kunci yang masih menggantung juga enggak hilang. Hal yang juga aku lihat ketika backpacker ke karimunjawa. Mau dibawa nyebrang pulau juga susah, gampang ketahuannya deh :D.

Suasana Sholat Jum'at di Bawean

Kami tiba di bawah danau kastoba sekitar pukul 10.30, dengan kondisi jalan gerimis. Karena nanggung, akhirnya kami berhenti dan makan di gubuk pinggir sawah. Hamparan terasiring yang menghijau menjadi pemandangan kala udara dingin. 
terasiring di bawean
View terasiring dari gubuk di bawah danau kasatoba

Setelah makan siang, para lelaki menunaikan sholat jumat di masjid yang turun agak jauh ke bawah. Sholat jum'at yang dihadiri kaum lelaki pun enggak di dominasi oleh pemuda, mereka sebagian besar orang tua dan anak-anak. Bener-bener pulau putri ini. Buat yang bingung cari jodoh mungkin bisa coba peruntungan di sini :D #plak

Treking ke Danau Kastoba!

Gapura Danau Kastoba
Gapura Danau Kastoba
Usai sholat jum'at dan perut kenyang jadi ngantuk deh :D. Dari gubuk menuju danau kastoba enggak jauh kok, cuma sekitar 500 meter menurut tulisan yang ada di bawah gapura danau kastoba. Berarti enggak bakalan capek jalannya :D.

Ternyata petunjuk yang dibuat benar-benar sesat! Serius, setelah jalan naik dan menyusuri jalan setapak di perbukitan. Ini sudah lebih dari 1 km belum tampak adanya tanda-tanda danau! Padahal harapannya sih enggak jalan jauh-jauh soalna kekenyangan. Namun apa daya, ternyata emang kudu jalan jauh untuk menuju danau kastoba. Apalagi ditemani gerimis romantis yang membuat jalanan licin.

Jalan setapak menuju Kastoba
Jalan setapak menuju Kastoba
Setelah berjalan agak jauh dengan jarak sekitar 2 km (menurutku) akhirnya tiba juga di danau kastoba. Apalagi ada gerimis yang membuat tampak kabut-kabut gitu. Makin ciamik deh! Mungkin bakalan lain kalau suanasa saat itu panas. Jadi berasa liat waduk doang. Ini penampakan danau kastoba saat gerimis.

Danau kastoba di bawean
Danau kastoba di bawean
Kalau mau pose foto-foto kaya di Ranu Kumbolo, ada kok batang pohon tumbang yang menjorok ke danau dan cukup kuat untuk dinaiki buat foto-foto :D. 

Danau kastoba di pulau bawean
Danau kastoba di pulau bawean
Di danau kastoba sih enggak terlalu lama, karena waktu yang kami miliki juga terbatas. Akhirnya kami turun lagi ke bawah menuju ke air terjun / curug yang berada dekat dengan gapura danau kastoba. Nama air terjun ini adalah grojogan candi. Air terjun ini mirip dengan tirto galuh di Blitar, dimana air sungai mengalir di batu.

Grojogan Candi
Grojogan Candi

Bawean Punya Bandara Lho!

Dari grojogan candi, perjalanan dilanjutkan menuju sebuah pantai yang enggak tau namanya. Aku enggak tertarik sama sekali buat turun, mungkin udah bosen dengan yang namanya pantai dan capek habis jalan jalan. Nyatanya di pantai itu enggak sampai 20 menit udah cabut, dan segera menuju ke lapangan terbang

Lapangan terbang di bawean ini belum beroperasi / digunakan. Belum ada penerbangan perintis juga ke tempat ini. Hanya sebatas aspal yang cukup panjang untuk landasan. Enggak ada bangunan apapun di sekitarnya.

Lapangan Terbang di Bawean
Lapangan Terbang di Bawean
Entah kapan lapangan terbang ini akan digunakan. Fungsi saat ini mungkin dimanfaatkan sebagai balap drag. Itu pun kalau di pulau ini ngetren. Di sekitar lapangan ini banyak ranjau sapi yang di gembalakan. Karena memang bisa dibilang subur. Bahkan beberapa ranjau juga nampak landasan ini. 

Air Terjun Laccar

Air terjun laccar merupakan destinasi terakhir hari ini. Untuk menuju tempat ini dibutuhkan jalan kaki sekitar 1 km dari rumah warga. Bisa dibilang kalau kami sudah terlalu sore untuk menuju tempat ini. Karena saat itu sudah mulai gelap. Aku lihat ada ibu-ibu yang mandi rame-rame tanpa memakai baju sama sekali di sekitar sungai. Kalau di tempatku dulu tempat semacam ini dinamakan mbelik

Untuk menuju air terjun ini butuh treking datar dan menyusuri sungai. Untung saat itu aliran air enggak begitu deras sehingga kami bisa menyusurinya dengan mudah. 

Air Terjun Laccar
Air Terjun Laccar
Mas Budi, Mbak Ina dan Mbak Lingga basah-basahan di bawah air terjun Laccar. Menurutku air terjun ini keren dengan tebing-tebing tinggi puluhan meter. Namun tampak dibawah pecahan batu-batu yang masih tajam dan masih tergolong baru. Sepertinya baru aja ada batuan besar yang jatuh dari atas sana.

Ketika adzan magrib berkumandang, kami segera memutuskan untuk pulang kembali ke homestay. Karena jalanan memang sudah gelap. Sempat ngeri juga seh, gelap-gelapan menyusuri sungai cuma pakai sandal jepit. Meski ini dulu sering aku lakukan kalau lagi mancing ikan :D.

Tak Ada Agenda Malam Selain Main Kartu

Tak ada agenda apapun malam itu selain ngobrol santai sambil makan malam. Kalau gak salah menu makan malam itu ikan bakar, berhubung aku bawa sambel pecel blitar lumayan buat variasi makanan buat yang pengen nyobain enaknya sambel pecel dari Blitar :D.

Setelah itu beberapa orang memilih untuk bermain kartu. Karena aku enggak terlalu bisa main kartu, yaudah tiduran sambil yang liat main kartu. Lha kok ternyata ketiduran :D. 


You Might Also Like

4 comments

  1. Balasan
    1. woalah tak kiro bar karo traveller ndeingi langsung ke Bawean :D

      Hapus
    2. oraaaa mas e, haha bariki lanjut luar pulau maneh. enek kerjoan

      Hapus

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Facebook

Subscribe