14 April 2018

Jelajahi Pantai Jolosutro di Wates, Blitar

Jelajahi Pantai Jolosutro Blitar
Kemarin bingung mengisi waktu luang dengan main kemana, setelah ngobrol bareng pak Hary  akhirnya aku putuskan untuk berangkat ke salah satu destinasi pantai populer di Blitar namun sudah lama banget enggak aku kunjungi,  yaitu Pantai Jolosutro. Salah satu alasan yang membuatku enggak pergi ke pantai Jolosutro adalah jaraknya jauh dari pusat Kota Blitar tempat aku domisili saat ini. Pantai lain hanya butuh kurang lebih 1 jam perjalan, sedangkan untuk bisa sampai ke Jolosutro paling cepat sekitar 90 menit.

Perjalanan ke Jolosutro sempat berhenti untuk menelusuri Jurug Goa Tekek, air terjun tingkat tiga di daerah Wates. Mungkin akan aku tulis pada kesempatan lain, karena emang tempatnya masih cukup tersembunyi dan aksesnya masih cukup sulit dijangkau, apalagi tanpa bantuan penduduk lokal yang lebih mengenali medan.

Pada kesempatan ini aku mau menuliskan cerita menelusuri Pantai Jolosutro dari ujung timur ke ujung barat. Karena selama ini banyak orang yang hanya datang dan melihat di bagian tengahnya saja. Biasanya enggan untuk jalan-jalan ke barat maupun timur karena panasnya yang naudzubillah.

Rute yang aku ambil untuk berangkat menuju pantai Jolosutro adalah Blitar Kota - Kanigoro - Selopuro - Binangun - Wates. Kalau penasaran, coba cek rute menuju pantai Jolosutro

Jolosutro Dari Bukit

Jalan menuju Jolosutro ini bisa dibilang cukup baik jika dibandingkan dengan pantai lain di Blitar. Memang jalannya enggak terlalu luas tetapi jalannya mulus bener. Sayang di beberapa titik terdapat longsoran yang cukup menakutkan untuk dilewati, terlebih untuk kendaraan semacam truk.

Aspal mulus yang tak bergelombang menjadi nilai lebih di kawasan pantai Jolosutro ini. Mungkin karena tidak banyak kendaraan dengan muatan berlebih yang melewati. Jauh berbeda dengan jalan di daerah Binangun yang hancur saat dilewati.

Sebelum sampai daerah pantai, kita akan melewati perbukitan yang menawarkan pemandangan pantai nan indah dari ketinggian. Berikut penampakan pantai jolosutro dari bukit sebelum sampai di pantai.
 Pantai Jolosutro dari Bukit
Pantai Jolosutro dari Bukit
Sekitar 5 menit perjalanan kita sampai di portal tiket untuk masuk ke pantai jolosutro. Tampak beberapa pemuda tanpa seragam bahkan tak tampak adanya karcis di dalam pos mulai berdiri ketika kami akan melewati portal. Dengan tampang agak serem yang didukung pakaian loreng pak hary dan kecepatan sepeda motor yang tidak menunjukkan tanda-tanda mengurangi kecepatan membuat mereka urung  untuk memberhentikan kami, apalagi sampai mengejar. Tidak ada petugas tiket siang itu. Setidaknya yang tampak oleh pengelihatanku.

Sisi Timur Pantai Jolosutro

Pohon Cemara Udang di Timur Pantai Jolosutro
Pohon Cemara Udang di Timur Pantai Jolosutro

Jembatan kecil yang tersusun dari bambu pun aku sebrangi, suara derit bambu yang menahan bebankami berdua pun cukup kencang. Beruntung tidak ada tanda-tanda bambu akan hancur akibat beban kami berdua. Semerbak bau amis menusuk hidung tatkala aku berhenti di dekat perahu yang sandar di pinggir pantai. Motor aku tinggalkan begitu saja dengan kunci stang yang aktif.

Baca : Itinerary Backpackeran ke Myanmar

Aku berjalan menyusuri pasir pantai hitam kecoklatan menuju ke sebelah timur untuk melihat ada apa saja di bagian timur, karena dari ketinggian tampak ada muara sungai di sebelah timur pantai Jolosutro ini. 

Pantai memang benar-benar panas, meskipun begitu tampak pepohonan cemara udang yang cukup rapat di sebelah timur memberikan kesejukan sendiri untuk jiwa-jiwa yang berteduh di bawahnya. Tentu, kesejukannya tak bisa dibandingkan dengan Kesambi Trees Park. Tak banyak sampah plastik yang bisa ditemukan di pantai ini, sebagian sampahnya merupakan sampah organik yang sepertinya bawaan dari banjir di sungai. 
 Pantai Jolosutro sebelah Timur
Pantai Jolosutro sebelah Timur
Sesampainya di ujung timur pantai ini tampak beberapa mesin penyedot air untuk supply air ke tambak udang yang berada tak jauh dari pantai. Selain itu aliran sungai di muaranya juga tak terlalu besar meski sungainya cukup luas. 
Muara Sungai Pantai Jolosutro
Muara Sungai di Pantai Jolosutro
Setelah cukup puas menikmati sebelah timur pantai jolosutro, perjalanan aku lanjutkan untuk menelusuri sebelah barat pantai yang selalu ramai ketika melasti menjelang hari raya nyepi.

Sisi Barat Pantai Jolosutro

Untuk mencapai sisi barat pantai jolosutro aku memilih untuk menaiki motor, karena bentang pantainya cukup luas. Aku taksir bentang pantainya lebih dari 1km. Belum lagi kondisi panas dan tiada pepohonan rindang di sisi barat.
 Bebatuan di Sisi Barat Pantai Jolosutro
Bebatuan di Sisi Barat Pantai Jolosutro
Terdapat seonggok batu  dengan garis-garis dan potongan yang tegas dan unik menurutku. Aku temukan beberapa bungkus dupa diatas bebatuan ini, mungkin saja batu ini menjadi sebuah tempat yang cukup populer untuk dunia perklenikan.

Selain bebatauan, pemandangan pantai dari sisi barat juga menakjubkan. Apalagi kalau foto diambil dari ketinggian. Berikut penampakan pantai Jolosutro dari sisi barat ke arah timur.
 Pantai Jolosutro dari Sisi Barat
Pantai Jolosutro dari Sisi Barat
Karena terlalu siang sampai di sini, panasnya hora umum! Kami pun bergegas kembali ke bagian tengah yang terdapat beberapa penjual, sudah terbayang segarnya es degan yang kemudian dilanjutkan dengan kelezatan ikan bakar dengan angin sepoi-sepoi yang membelai.

Pepohonan Bakau di Kolam

 Kolam dengan Pembibitan Pohon Bakau di Pantai Jolosutro
Kolam dengan Pembibitan Pohon Bakau di Pantai Jolosutro
Di bagian utara sisi barat pantai Jolosutro terdapat semacam kolam / kubangan air yang pinggirnya terdapat pembibitan pohon bakau. Mau dibilang sungai tapi enggak ada aliran sungainya, mau dibilang kolam tapi tak tampak seperti kolam, tapi menurut orang yang siang itu sedang memancing, kolam ini pernah diisi dengan benih ikan dari dinas perikanan. Jadi lebih baik disebut kolam aja ya.

Karena sudah terlalu lapar dan kepanasan, akhirnya kami pun bergegas menuju ke bagian tengah. Tepatnya warung-warung yang buka di hari biasa. Tak lupa mengabadikan spot yang menurutku cukup bagus yang bisa diadopsi di pantai-pantai lain tentang bagaimana menata pepohonan dan tempat bersantai dibawahnya.

 Pehpohonan di Sisi Tengah Pantai
Pehpohonan di Sisi Tengah Pantai
Jarak antara pohon cemara udang di sisi tengah ini tidak begitu rapat, sehingga pohon bisa tumbuh dengan maksimal. Menambahkan tempat duduk di bawah pohon menjadi sebuah nilai plus sendiri. Sehingga tampak syahdu ketika ada orang duduk berduaan di bawah pohon cemara udang memandang laut sambil bersendau gurau.

Menikmati Kuliner di Pantai Jolosutro

Dari tiga warung yang siang itu buka, hanya satu warung yang menyediakan ikan bakar. Sudah jauh-jauh datang ke pantai, masa iya cuma makan indomie? Tetapi sama ibuknya penjual warung diminta menunggu dulu kalau mau ikan bakar karena prosesnya agak lama. Kalau mau cepet digoreng aja.

Aku dan pak Hari ngobrol panjang lebar tentang macam-macam ditemani es degan hijau yang sudah tersedia tanpa tambahan gula. Ternyata sajian ikan bakar membutuhkan waktu tunggu sekitar 1 jam. Tidak ada antrian yang terlihat, tetapi ya memang lama sepertinya.
Kuliner Ikan Bakar di Pantai Jolosutro
Pak Hary siap Menyantap Ikan Bakar
Setelah pesanan datang, karena sudah terlalu lapar, akhirnya kami santap sajian ikan bakar yang sudah tersedia. First impression tampak wow! Ikannya gede-gede, kami cuma pesen dua tapi nyatanya ada 3 ikan yang tersaji, satunya ikan nggak terlalu gede dan jenisnya aku juga nggak tahu. Semoga pak Jokowi nggak tanya jenis-jenis ikan padaku.
Kuliner Ikan Bakar di Pantai Jolosutro
Ada yang tau ikan apa yang terpanggang ini?
Warna gosong ikannya juga berbeda dari kebanyakan, bahkan di beberapa sisi menurutku bener-bener kering dan enggak ada aroma amis sama sekali saat menyantap ini. Sepertinya memang pembakaran yang lama dengan panas yang pas akan menghasilkan rasa yang sempurna. Seperti kalau goreng tempe, api terlalu besar luarnya mateng dalemnya belum. 

Setelah selesai menyantap makanan, tidak lupa Pak Hari membayar pesanan yang totalnya adalah 70ribu rupiah. Kalau es degannya 10 ribu, berarti ikan bakarnya 25 ribu. Cukup worthed sih menurutku dibanding yang ada di restoran-restoran.

Pulang dari Pantai Jolosutro aku ambil rute lain yaitu Wates - Binangun - Panggungrejo (via Bumiayu dan Margomulyo) - Lodoyo - Kanigoro - Blitar Kota. Setelah sempat mampir di salah satu destinasi wisata yang pernah rame (bakal aku tulis di postingan tersendiri).
Temukan aku di Facebook, Instagram , Twitter!
Kalau artikelnya nggak muncul, coba deh matikan adblocknya ;)

Posting Komentar

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search