12 Maret 2019

Jelajahi Tempat Wisata dan Kuliner di Semarang

Liburan ke Semarang
Semarang, merupakan ibu kota dari Jawa Tengah yang beberapa waktu lalu aku kunjungi ketika mengikuti Studi Komparasi Kampung Wisata yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Blitar. Selama ini kalau ke Semarang cuma numpang lewat saja :)).

Tentunya pengalaman mengikuti studi komparasi ini berbeda dengan pengalaman ketika mengikuti Famtrip Blogger di Palembang beberapa bulan lalu, baca ceritanya di postingan tentang Tempat Wisata di Palembang.

Pada kesempatan ini, aku mau nulis tentang tempat wisata hits di Semarang yang baru aku kunjungi beberapa waktu lalu ketika mengikuti studi komparasi

    Melihat Monitoring Room di Kota Semarang

    Monitoring room di Kantor Walikota Semarang
    Monitoring room di Kantor Walikota Semarang
    Sebelum mengunjungi destinasi wisata di Semarang, kami berkunjung ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang untuk kulonuwun dan mendengarkan paparan seputar dunia pariwisata di Semarang, terutama yang berkaitan dengan kemandirian masyarakat yang mengembangkan pariwisata di daerahnya secara mandiri.

    Kami di terima di kantor walikota Semarang oleh Bu Iin selaku kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang. Sembari diajak melihat monitoring room yang ada di kantor walikota. Monitoring room ini mirip dengan yang dimiliki Kota Surabaya namun dengan skala yang lebih kecil. Berbagai fasilitas publik bisa dipantau dari sini, seperti ketersediaan kamar rumah sakit, lalu lintas, cctv, ketinggian kanal air dan macem-macem.

    Selain memberikan rekomendasi tempat-tempat wisata yang perlu dikunjungi, Bu Iin juga memberikan diskon untuk masuk ke kawasan-kawasan tersebut. Karena ini perjalanan dinas, sepertinya ya nggak ngefek deh buat aku.
     Taman Balaikota Semarang
    Taman Balaikota Semarang
    Buat yang lagi cari stock foto, nggak ada salahnya untuk mampir ambil foto di taman balaikota yang lumayan bagus asal nggak datang di siang bolong. Puanas jeh!

    Jalan-Jalan di Lawang Sewu Semarang

     Lawang Sewu Semarang
    Lawang Sewu Semarang
    Sembari menunggu jadwal sholat Jum'at, kami berjalan dari kantor walikota Semarang menuju ke Lawang Sewu yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja. Lawang Sewu merupakan icon pariwisata Kota Semarang. Bangunan londo yang dulunya merupakan milik KAInya Belanda kini dikelola KAI dan menjadi museum serta spot instagramable yang kaya akan sejarah.

    Tiket masuk kawasan Lawang Sewu cuma Rp. 10.000/orang, buka setiap hari dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam. Bisa puas kalau cuma buat cari stok foto upload an aja.

    Meskipun namanya Lawang Sewu yang berarti seribu pintu, namun jumlah pintu bangunan ini tidak sampai 1000 buah. Hanya sebutan untuk bangunan dengan banyak sekali pintu. Aku cuma bingung mikir aja sih, berapa lama dan berapa banyak petugas yang kerjanya buka dan nutup pintu dan jendela di lawang sewu ini setiap harinya. Masa iya nggak ditutup?

    Di beberapa bangunan terdapat foto stasiun-stasiun yang ada di Indonesia, sayangnya aku nggak menemukan foto stasiun Blitar. Selain itu juga masih tampak beberapa alat-alat perkereta apian jaman dulu.

    Di gedung utama, terdapat kaca berwarna warni yang instagramable seperti gereja di film-film eropa gitu. Karena memang ornamen kacanya merupakan gambaran eropa di jamannya. Penampakannya bisa lihat foto di bawah ini.
     Siluet ornamen kaca gaya eropa di Lawang Sewu
    Siluet ornamen kaca gaya eropa di Lawang Sewu
    Lantai dua di bangunan utama ini saat kami datang tidak boleh diakses, namun dengan teknologi zoom kamera, aku masih bisa melihat deretan pintu yang terbuka tampak bersih, rapi dan sunyi.

     Lantai dua Lawang Sewu
    Lantai dua Lawang Sewu
    Selain bangunan utama yang lantai dua tidak boleh dikunjungi, ternyata di bagian belakang terdapat sebuah pohon besar. Sepertinya sih pohon mangga kalau dilihat dari daunnya. Kursi berjajar di sekelilingnya menjadikan pohon ini tempat beristirahat yang paling tepat.
    Peralatan Perkeretaapian yang Terawat
    Peralatan Perkeretaapian yang Terawat
    Tidak jauh dari pohon ini terdapat sebuah bangunan kecil yang memiliki beberapa peninggalan tuas-tuas yang biasanya ada di ruangan kepala stasiun. Selain itu terdapat dokumentasi pemugaran kawasan lawang sewu beserta perawatannya. Ini cukup bagus sebenarnya, terutama untuk para pengunjung yang ingin melindungi rumahnya dengan cara professional kelas musium. Sehingga lebih bangunan di rumah bisa lebih awet.

    Di bangunan lain yang cukup besar memiliki sebuah ruang bawah tanah yang sekarang sudah tidak boleh untuk dikunjungi. Mungkin karena terlalu menyeramkan dan beresiko. Ketika aku coba untuk menyoroti pintu menuju ke ruang bawah tanah, di bagian dasar lantai terdapat genangan air plus koin receh yang sepertinya dilemparkan para pengunjung.
    Foto  Salah satu lorong di lawang sewu
    Salah satu lorong di lawang sewu
    Karena menurutku terlalu gelap, akhirnya aku putuskan untuk mengambil foto lorong dekat dengan pintu masuk ke ruang bawah tanah. Karena lebih sunyi dan memiliki kesan menyeramkan. Berikut salah satu spot foto Lawang Sewu yang bisa dijadikan tempat OOTD dan cukup instagramable untuk para pemburu foto.
     Lorong Instagramable di Lawang Sewu
    Lorong Instagramable di Lawang Sewu
    Dua jam di Lawang Sewu sepertinya sudah cukup, namun untuk penggemar foto mungkin bisa lebih karena setiap sudutnya menarik untuk dipotret. Selain pemandangan ini, dari bagian depan Lawang Sewu kita bisa melihat bagaimana megahnya Tugu Muda Semarang.

     Tugu Muda Semarang
    Tugu Muda Semarang

    Kampung Jawi Sukorejo Semarang

    Selesai melaksanakan ibadah sholat Jum'at, perjalanan berlanjut ke Kampung Jawi Sukorejo, Semarang yang menjadi rekomendasi dari dinas pariwisata kota Semarang. Ternyata perjalanan tidak semudah yang dibayangkan, bus pariwisata tidak bisa masuk sampai ke kampung. 
    Kampung Jawi Semarang
    Kampung Jawi berada di lembah ini
    Lokasi kampung yang berada di lembah perbukitan membuat bus menunggu di jarak yang cukup jauh. Akhirnya pengurum kampung jawi ini berinisiatif untuk menjemput. Namun kami udah nggak sabaran buat menunggu, akhirnya hampir semua berjalan sejauh beberapa kilometer untuk mencapai kampung. Beruntung jalanannya menurun terus. Pantes bus pariwisata nggak berani buat masuk.

    Kurang dari dua ratus meter, mobil jemputan PAJERO (PAnas njobo nJERO) datang menghampiri rombongan kami. Karena nanggung tinggal dikit lagi sampai aku pun menikmati jalan kaki di jalanan paving sembari olahraga.

     Kampung Jawi Sukorejo Semarang
    Kampung Jawi Sukorejo Semarang
    Di Kampung Jawi Sukorejo, kami disambut dengan bebunyian gamelan yang ternyata di mainkan oleh para remaja kampung. Selama ini gamelan identik dengan para orang tua, namun tidak di Kampung Jawi Sukorejo Semarang ini. Anak-anak usia sekolah dengan lancar memainkan gamelan bahkan ada juga yang nembang. Sebuah kegiatan yang mulai berjalan di kampung salah seorang kawanku di Blitar saat ini.

    Selepas itu, acara dilanjiutkan dengan diskusi seputar perjuangan kampung jawi di Sukorejo Semarang ini hingga bisa menjadi sampai saat ini. Karena pengembangan semacam ini membutuhkan proses yang cukup panjang. Hujan mulai turun, diskusi semakin asyik dengan suguhan asli kampung berupa teh rempah dengan gethuk.

    Klenteng Sam Poo Kong Semarang

    Salah satu patung di Klenteng Sam Poo Kong
    Salah satu patung di Klenteng Sam Poo Kong
    Merupakan sebuah klenteng yang juga menjadi salah satu daya tarik wisata di Semarang. Sam Poo Kong adalah petilasan dari Laksamana Cheng Ho / Zheng He. Seorang Laksamana Tiongkok yang diyakini beragama Islam.

    Dari yang aku lihat, Klenteng Sam Poo Kong Semarang ini memiliki tiga bagian, sisi terluar sebagai tempat wisata dan sebagai publik area, sisi sebelah dalam yang dibatasi pagar dan parit yang biasa digunakan untuk beribadah dan bagian goa batu yang nggak bisa sembarangan di datangi orang, hanya orang yang berniat ibadah saja boleh masuk ke goa batu ini. Selain itu tidak diperknankan untuk mengambil gambar sama sekali di dalam goa.
    bangunan di Klenteng Sam Poo Kong Semarang
    Salah satu bangunan di Klenteng Sam Poo Kong Semarang
    Harga tiket masuk pun cukup bervariasi, pengunjung lokal hanya perlu membayar Rp. 5.000 untuk bisa masuk ke kawasan publik. Sedangkan untuk masuk ke kawasan yang berbatasan dengan parit dan pagar perlu membayar Rp. 20.000. Tapi kalau masuk ke kawasan ini dengan tujuan untuk beribadah, uang akan dikembalikan saat keluar, syarat dan ketentuannya gimana aku kurang tahu. 

    Untuk yang berniat liburan dan piknik, publik area sebenarnya sudah lebih dari cukup. Di publik area sesekali ada pertunjukan barongsai juga. Sayangnya setiap aku datangi, selalu sudah selesai dan istirahat sebelum memulai pertunkjukannya lagi. 
     Akar yang Mirip rantai jangkar
    Akar yang Mirip rantai jangkar
    Uniknya, di salah satu sudutnya yang tak begitu populer, tedapat akar kayu yang membentuk seperti jangkar melilit pada batu. Ada yang bilang kalau itu merupakan jangkar yang dulu pertama kali ditambatkan saat kedatangan Laksamana Cheng Ho.

    Old City 3D Art Museum Semarang

    Salah satu tempat wisata hits di Semarang yang cocok dikunjungi untuk para pemburu foto selfie. Museum 3D yang memanfaatkan optical illusion macam ini sebenarnya ada di beberapa kota besar di Indonesia. Bahkan di jalanan pun ada 3D Art macam yang memanfaatkan optical illusion macam gini.
    Foto di Old City 3D Art Museum Semarang
    Mbaknya yang keliling bantuin pengunjung foto di Old City 3D Art Museum Semarang
    Hanya saja Museum 3D ini dikelola secara profesional, dengan harga tiket masuk 50ribu rupiah untuk setiap orangnya. Kalau datang sendiri, ada mbak cantik yang bisa bantu ambilin foto sesuai dengan instruksi yang ada. Hampir di setiap spot foto, tersedia informasi sudut pengambilan gambar sehinggah hasil fotonya benar-benar bisa menipu.

    Pencahayaan di setiap sudutnya juga cukup apik untuk diabadikan menggunakan kamera ponsel. Sehingga orang-orang yang datang bisa mendapatkan gambar yang cukup bagus. Tempat paling populer di kawasan ini adalah spot foto rumah terbalik. Berikut salah satu penampakannya.

     spot foto rumah terbalik di Old City 3D Art Museum
    spot foto rumah terbalik di Old City 3D Art Museum

    Nasi Goreng Babat Pak Karmin

     Nasi Goreng Babat Pak Karmin
    Nasi Goreng Babat Pak Karmin
    Di hari ketiga, jadwal kunjungan memang tak seberapa padat, akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengikuti rombongan, dan main bareng Mas Kiky, kenalan dari Smartfren Community asal Semarang. Daripada cuma istirahat di hotel? Mending main sambil kulineran. Beberapa teman di instagramku, menyarankan untuk mencoba nasi goreng babat Pak Karmin. Salah satu kuliner legendaris di Kota Semarang.

    Bersama Mas Kiki, kenalan dari Smartfren Community aku diajak untuk jalan-jalan keliling Semarang dulu sebelum mlipir ke Warung Nasi Goreng Babat Pak Karmin yang ada dekat dengan Kota Lama Semarang. Hanya beberapa ratus meter dari 3D Art Museum siang tadi.

    Dari sekian banyak cabangnya, di kawasan Mberok ini merupakan warung pertama berjualan sebelum membuka cabang di banyak tempat. Mirip dengan nasi pecel mbok bari kalau di Kota Blitar.

    Warung tenda yang berada di pinggir jalan dan pinggir sungai yang tak begitu bersih namun beruntungnya tidak ada bau menyengat, Membuat kulineran kaki lima benar-benar terasa. Meski tak sedikit mobil-mobil parkir untuk ikut bergabung bersama kami.

    Ada beberapa menu yang tersedia, diantaranya Nasi Goreng Telur, Nasi Ayam Gongso, Nasi Goreng Pete, Nasi Babat Gongso dan Nasi Goreng Babat. Dari sekian banyak menu, teman-teman menyarankanku untuk mencoba Nasi Goreng Babat challenge accepted!
     Nasi Goreng Babat Pak Karmin
    Nasi Goreng Babat Pak Karmin
    Hampir 30 menit menunggu, akhirnya sepiring nasi goreng babat dengan toping telur disajikan di atas daun pisang. Sekilas memang mirip dengan nasi goreng kambing kebon sirih Jakarta. Meski sudah memesan dengan rasa paling pedas, nyatanya lidahku tak merasakan pedasnya, duh gusti. 

    Nasi cenderung lembek, berbeda dengan nasi goreng yang biasanya menggunakan nasi yang kakasen. Potongan babat bercampur dalam nasi goreng memberikan rasa yang cukup nendang dan unik. Overall, nilai 8/10 sudah bisa mewakili kenikmatan makan di warung kaki lima ini.

    Harga seporsi nasi goreng babat di Warung Pak Karmin ini dibandrol sekitar 20 ribu. Aku lupa kemarin pasnya berapa, makan berdua nggak sampai 50ribu kok. Meskipun bukan makanan asli Semarang, kalau main ke Semarang wajib nyobain kuliner ini.

    Pusat Kuliner Pasar Semawis Semarang

     Pasar Semawis Semarang
    Pasar Semawis Semarang
    Setelah terjebak hujan sangat deras hampir satu jam di warung Pak Karmin, akhirnya kami bisa kulineran lagi di Pasar Semawis Semarang. Pasar semawis ini merupakan tempat kuliner malam di Semarang yang ada setiap hari Jum'at, Sabtu dan Minggu. Mirip dengan walking street di Pattaya. Hanya saja tanpa diskotik :))

    Deretan penjual makanan dan minuman berjajar di sebuah gang sejauh 300 meter. Mulai dari jajanan tradisional hingga jajanan kekinian membuat pengunjung pasar semawis di Malam Minggu ini beragam.

    Pasar yang baru buka sekitar setahun belakangan ini berhasil menjadi daya tarik kuliner malam di Kota Semarang. Tetiba aku merasa bersyukur karena tadi hujan sangat deras setelah mendengar cerita mbak penjual kopi yang katanya ini belum rame seperti biasanya. Tuhan selalu punya cara asyik untuk membuat hidup makin asyik kan? Hahaha

    Benar kata mbaknya, semakin malam suasana Pasar Semawis Semarang ini semakin ramai dipenuhi pengunjung. Selain ngopi, aku juga sempat mencicipi jajanan tauh petis. Petisnya mirip sama petis Cirebon yang sempat aku coba ketika jalan-jalan ke tempat wisata di Cirebon beberapa waktu lalu. Aku masih lebih suka petis madura yang biasanya digunakan sebagai camilan. Iya camilan,  bukan buat cocolan.

     Pasar Semawis Semarang
    Pasar Semawis Semarang
    Sayang sekali rombongan dari Blitar nggak mampir ke Pasar Semawis ini, karena ini sebenarnya bisa ditiru untuk jalan Kenanga depan Aloon-Aloon Blitar yang nggak begitu populer. Aku yakin kalau dibuat kaya Pasar Semawis ini bakalan rame. Nggak cuma jajanan atau oleh-oleh yang biasa saja, tetapi variasi makanan yang dijual juga harus semakin banyak dan kekinian supaya yang datang itu bisa lintas generasi. Kalau perlu jalan benar-benar ditutup total seperti Pasar Semawis.

    Tempat Wisata Hits Semarang Versimu?

     Sepeda Lampu di Simpang Lima Semarang
    Sepeda Lampu di Simpang Lima Semarang
    Selain tempa-tempat yang udah aku ulas di atas, sebenarnya Semarang masih punya banyak tempat menarik lainnya yang belum sempat aku kunjungi seperti Taman Indonesia Kaya, Kampung Pelangi, Simpang Lima Semarang, Lumpia gang Lombok dan Goa Kreo. Mungkin di kesempatan yang akan datang, ketika main ke Semarang bakal aku agendakan untuk nyambangi tempat-tempat tersebut. Atau kamu punya referensi lain tentang tempat wisata di Semarang yang harus dikunjungi?

    Sebenarnya masih ada lagi destinasi yang aku kunjungi, yaitu Pasar Karetan yang ada di Blora. Namun karena nggak masuk wilayah Semarang, akhirnya aku putuskan untuk membuat postingan baru khusus untuk pasar karetan yang masih baru aku tulis sebagian.

    Jadi cukup sekian saja tulisan tentang tempat wisata hits di Semarang. Kalau ada referensi tempat wisata lain di Semarang jangan ragu untuk meninggalkan komentar yak!
    Loading...
    Temukan aku di Facebook, Instagram , Twitter!
    Kalau artikelnya nggak muncul, coba deh matikan adblocknya ;)

    Posting Komentar

    Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

    Whatsapp Button works on Mobile Device only

    Start typing and press Enter to search