Jelajahi Tempat Wisata dan Kuliner di Semarang

0 Comment

Link
Pasar Semawis Semarang
Liburan ke Semarang

Jelajahi Tempat Wisata dan Kuliner di Semarang – Sebagai ibu kota provinsi Jawa Tengah, Semarang menjadi tujuan Studi Komparasi Kampung Wisata yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Blitar. Berhubung kemarin aku diajak oleh dinas, nggak ada salahnya buat ikut jalan-jalan di Semarang

Tentunya pengalaman mengikuti studi komparasi ini berbeda dengan pengalaman ketika mengikuti Famtrip Blogger di Palembang beberapa bulan lalu, baca ceritanya di postingan tentang Tempat Wisata di Palembang.

Pada kesempatan ini, aku mau nulis tentang tempat wisata dan kuliner di Semarang yang baru aku kunjungi beberapa waktu lalu ketika mengikuti studi komparasi bersama dinas pariwisata dan kebudayaan Kota Blitar.

Melihat Monitoring Room di Kota Semarang

Monitoring room di Kantor Walikota Semarang
Monitoring room di Kantor Walikota Semarang

Sebelum mengunjungi destinasi wisata di Semarang, kami berkunjung ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang untuk kulonuwun dan mendengarkan paparan seputar dunia pariwisata di Semarang, terutama yang berkaitan dengan kemandirian masyarakat yang mengembangkan pariwisata di daerahnya secara mandiri.

Kami di terima di kantor walikota Semarang oleh Bu Iin selaku kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang. Sembari diajak melihat monitoring room yang ada di kantor walikota. Monitoring room ini mirip dengan yang dimiliki Kota Surabaya namun dengan skala yang lebih kecil. Berbagai fasilitas publik bisa dipantau dari sini, seperti ketersediaan kamar rumah sakit, lalu lintas, cctv, ketinggian kanal air dan macem-macem.

Selain memberikan rekomendasi tempat-tempat wisata yang perlu dikunjungi, Bu Iin juga memberikan diskon untuk masuk ke kawasan-kawasan tersebut. Karena ini perjalanan dinas, sepertinya ya nggak ngefek deh buat aku.

 Taman Balaikota Semarang
Taman Balaikota Semarang

Buat yang lagi cari stock foto, nggak ada salahnya untuk mampir ambil foto di taman balaikota yang lumayan bagus asal nggak datang di siang bolong. Puanas jeh!

Lawang Sewu, Tempat Wisata Wajib di Semarang

 Lawang Sewu Semarang
Lawang Sewu Semarang

Sembari menunggu jadwal sholat Jum’at, kami berjalan dari kantor walikota Semarang menuju ke Lawang Sewu yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja. Lawang Sewu merupakan icon pariwisata Kota Semarang. Bangunan londo yang dulunya merupakan milik KAInya Belanda kini dikelola KAI dan menjadi museum serta spot instagramable yang kaya akan sejarah.

Tiket masuk kawasan Lawang Sewu cuma Rp. 10.000/orang, buka setiap hari dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam. Bisa puas kalau cuma buat cari stok foto upload an aja.

Meskipun namanya Lawang Sewu yang berarti seribu pintu, namun jumlah pintu bangunan ini tidak sampai 1000 buah. Hanya sebutan untuk bangunan dengan banyak sekali pintu. Aku cuma bingung mikir aja sih, berapa lama dan berapa banyak petugas yang kerjanya buka dan nutup pintu dan jendela di lawang sewu ini setiap harinya. Masa iya nggak ditutup?

Di beberapa bangunan terdapat foto stasiun-stasiun yang ada di Indonesia, sayangnya aku nggak menemukan foto stasiun Blitar. Selain itu juga masih tampak beberapa alat-alat perkereta apian jaman dulu.

Di gedung utama, terdapat kaca berwarna warni yang instagramable seperti gereja di film-film eropa gitu. Karena memang ornamen kacanya merupakan gambaran eropa di jamannya. Penampakannya bisa lihat foto di bawah ini.

 Siluet ornamen kaca gaya eropa di Lawang Sewu
Siluet ornamen kaca gaya eropa di Lawang Sewu

Lantai dua di bangunan utama ini saat kami datang tidak boleh diakses, namun dengan teknologi zoom kamera, aku masih bisa melihat deretan pintu yang terbuka tampak bersih, rapi dan sunyi.

 Lantai dua Lawang Sewu
Lantai dua Lawang Sewu

Selain bangunan utama yang lantai dua tidak boleh dikunjungi, ternyata di bagian belakang terdapat sebuah pohon besar. Sepertinya sih pohon mangga kalau dilihat dari daunnya. Kursi berjajar di sekelilingnya menjadikan pohon ini tempat beristirahat yang paling tepat.

Peralatan Perkeretaapian yang Terawat
Peralatan Perkeretaapian yang Terawat

Tidak jauh dari pohon ini terdapat sebuah bangunan kecil yang memiliki beberapa peninggalan tuas-tuas yang biasanya ada di ruangan kepala stasiun. Selain itu terdapat dokumentasi pemugaran kawasan lawang sewu beserta perawatannya. Ini cukup bagus sebenarnya, terutama untuk para pengunjung yang ingin melindungi rumahnya dengan cara professional kelas musium. Sehingga lebih bangunan di rumah bisa lebih awet.

Di bangunan lain yang cukup besar memiliki sebuah ruang bawah tanah yang sekarang sudah tidak boleh untuk dikunjungi. Mungkin karena terlalu menyeramkan dan beresiko. Ketika aku coba untuk menyoroti pintu menuju ke ruang bawah tanah, di bagian dasar lantai terdapat genangan air plus koin receh yang sepertinya dilemparkan para pengunjung.

Foto  Salah satu lorong di lawang sewu
Salah satu lorong di lawang sewu

Karena menurutku terlalu gelap, akhirnya aku putuskan untuk mengambil foto lorong dekat dengan pintu masuk ke ruang bawah tanah. Karena lebih sunyi dan memiliki kesan menyeramkan. Berikut salah satu spot foto Lawang Sewu yang bisa dijadikan tempat OOTD dan cukup instagramable untuk para pemburu foto.

 Lorong Instagramable di Lawang Sewu
Lorong Instagramable di Lawang Sewu

Dua jam di Lawang Sewu sepertinya sudah cukup, namun untuk penggemar foto mungkin bisa lebih karena setiap sudutnya menarik untuk dipotret. Selain pemandangan ini, dari bagian depan Lawang Sewu kita bisa melihat bagaimana megahnya Tugu Muda Semarang.

 Tugu Muda Semarang
Tugu Muda Semarang

Kampung Jawi Sukorejo Semarang

Selesai melaksanakan ibadah sholat Jum’at, perjalanan berlanjut ke Kampung Jawi Sukorejo, Semarang yang menjadi rekomendasi dari dinas pariwisata kota Semarang. Ternyata perjalanan tidak semudah yang dibayangkan, bus pariwisata tidak bisa masuk sampai ke kampung. 

Kampung Jawi Semarang
Kampung Jawi berada di lembah ini

Lokasi kampung yang berada di lembah perbukitan membuat bus menunggu di jarak yang cukup jauh. Akhirnya pengurum kampung jawi ini berinisiatif untuk menjemput. Namun kami udah nggak sabaran buat menunggu, akhirnya hampir semua berjalan sejauh beberapa kilometer untuk mencapai kampung. Beruntung jalanannya menurun terus. Pantes bus pariwisata nggak berani buat masuk.

Kurang dari dua ratus meter, mobil jemputan PAJERO (PAnas njobo nJERO) datang menghampiri rombongan kami. Karena nanggung tinggal dikit lagi sampai aku pun menikmati jalan kaki di jalanan paving sembari olahraga.

 Kampung Jawi Sukorejo Semarang
Kampung Jawi Sukorejo Semarang

Di Kampung Jawi Sukorejo, kami disambut dengan bebunyian gamelan yang ternyata di mainkan oleh para remaja kampung. Selama ini gamelan identik dengan para orang tua, namun tidak di Kampung Jawi Sukorejo Semarang ini. Anak-anak usia sekolah dengan lancar memainkan gamelan bahkan ada juga yang nembang. Sebuah kegiatan yang mulai berjalan di kampung salah seorang kawanku di Blitar saat ini.

Selepas itu, acara dilanjiutkan dengan diskusi seputar perjuangan kampung jawi di Sukorejo Semarang ini hingga bisa menjadi sampai saat ini. Karena pengembangan semacam ini membutuhkan proses yang cukup panjang. Hujan mulai turun, diskusi semakin asyik dengan suguhan asli kampung berupa teh rempah dengan gethuk.

Klenteng Sam Poo Kong Semarang

Salah satu patung di Klenteng Sam Poo Kong
Salah satu patung di Klenteng Sam Poo Kong

Merupakan sebuah klenteng yang juga menjadi salah satu daya tarik wisata di Semarang. Sam Poo Kong adalah petilasan dari Laksamana Cheng Ho / Zheng He. Seorang Laksamana Tiongkok yang diyakini beragama Islam.

Dari yang aku lihat, Klenteng Sam Poo Kong Semarang ini memiliki tiga bagian, sisi terluar sebagai tempat wisata dan sebagai publik area, sisi sebelah dalam yang dibatasi pagar dan parit yang biasa digunakan untuk beribadah dan bagian goa batu yang nggak bisa sembarangan di datangi orang, hanya orang yang berniat ibadah saja boleh masuk ke goa batu ini. Selain itu tidak diperknankan untuk mengambil gambar sama sekali di dalam goa.

bangunan di Klenteng Sam Poo Kong Semarang
Salah satu bangunan di Klenteng Sam Poo Kong Semarang

Harga tiket masuk pun cukup bervariasi, pengunjung lokal hanya perlu membayar Rp. 5.000 untuk bisa masuk ke kawasan publik. Sedangkan untuk masuk ke kawasan yang berbatasan dengan parit dan pagar perlu membayar Rp. 20.000. Tapi kalau masuk ke kawasan ini dengan tujuan untuk beribadah, uang akan dikembalikan saat keluar, syarat dan ketentuannya gimana aku kurang tahu. 

Untuk yang berniat liburan dan piknik, publik area sebenarnya sudah lebih dari cukup. Di publik area sesekali ada pertunjukan barongsai juga. Sayangnya setiap aku datangi, selalu sudah selesai dan istirahat sebelum memulai pertunkjukannya lagi. 

 Akar yang Mirip rantai jangkar
Akar yang Mirip rantai jangkar

Uniknya, di salah satu sudutnya yang tak begitu populer, tedapat akar kayu yang membentuk seperti jangkar melilit pada batu. Ada yang bilang kalau itu merupakan jangkar yang dulu pertama kali ditambatkan saat kedatangan Laksamana Cheng Ho.

Old City 3D Art Museum Semarang

Salah satu tempat wisata hits di Semarang yang cocok dikunjungi untuk para pemburu foto selfie. Museum 3D yang memanfaatkan optical illusion macam ini sebenarnya ada di beberapa kota besar di Indonesia. Bahkan di jalanan pun ada 3D Art macam yang memanfaatkan optical illusion macam gini.

Foto di Old City 3D Art Museum Semarang
Mbaknya yang keliling bantuin pengunjung foto di Old City 3D Art Museum Semarang

Hanya saja Museum 3D ini dikelola secara profesional, dengan harga tiket masuk 50ribu rupiah untuk setiap orangnya. Kalau datang sendiri, ada mbak cantik yang bisa bantu ambilin foto sesuai dengan instruksi yang ada. Hampir di setiap spot foto, tersedia informasi sudut pengambilan gambar sehinggah hasil fotonya benar-benar bisa menipu.

Pencahayaan di setiap sudutnya juga cukup apik untuk diabadikan menggunakan kamera ponsel. Sehingga orang-orang yang datang bisa mendapatkan gambar yang cukup bagus. Tempat paling populer di kawasan ini adalah spot foto rumah terbalik. Berikut salah satu penampakannya.

 spot foto rumah terbalik di Old City 3D Art Museum
spot foto rumah terbalik di Old City 3D Art Museum

Nasi Goreng Babat Pak Karmin

 Nasi Goreng Babat Pak Karmin
Nasi Goreng Babat Pak Karmin

Di hari ketiga, jadwal kunjungan memang tak seberapa padat, akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengikuti rombongan, dan main bareng Mas Kiky, kenalan dari Smartfren Community asal Semarang. Daripada cuma istirahat di hotel? Mending main sambil kulineran. Beberapa teman di instagramku, menyarankan untuk mencoba nasi goreng babat Pak Karmin. Salah satu kuliner legendaris di Kota Semarang.

Bersama Mas Kiki, kenalan dari Smartfren Community aku diajak untuk jalan-jalan ke tempat wisata dan kuliner di Semarang. Salah satu tempat kuliner yang wajib dikunjungi ketika main ke Semarang adalah Warung Nasi Goreng Babat Pak Karmin yang ada dekat dengan Kota Lama Semarang. Hanya beberapa ratus meter dari 3D Art Museum siang tadi.

Dari sekian banyak cabangnya, di kawasan Mberok ini merupakan warung pertama berjualan sebelum membuka cabang di banyak tempat. Mirip dengan nasi pecel mbok bari kalau di Kota Blitar.

Warung tenda yang berada di pinggir jalan dan pinggir sungai yang tak begitu bersih namun beruntungnya tidak ada bau menyengat, Membuat kulineran kaki lima benar-benar terasa. Meski tak sedikit mobil-mobil parkir untuk ikut bergabung bersama kami.

Ada beberapa menu yang tersedia, diantaranya Nasi Goreng Telur, Nasi Ayam Gongso, Nasi Goreng Pete, Nasi Babat Gongso dan Nasi Goreng Babat. Dari sekian banyak menu, teman-teman menyarankanku untuk mencoba Nasi Goreng Babat challenge accepted

 Nasi Goreng Babat Pak Karmin
Nasi Goreng Babat Pak Karmin

Hampir 30 menit menunggu, akhirnya sepiring nasi goreng babat dengan toping telur disajikan di atas daun pisang. Sekilas memang mirip dengan nasi goreng kambing kebon sirih Jakarta. Meski sudah memesan dengan rasa paling pedas, nyatanya lidahku tak merasakan pedasnya, duh gusti. 

Nasi cenderung lembek, berbeda dengan nasi goreng yang biasanya menggunakan nasi yang kakasen. Potongan babat bercampur dalam nasi goreng memberikan rasa yang cukup nendang dan unik. Overall, nilai 8/10 sudah bisa mewakili kenikmatan makan di warung kaki lima ini.

Harga seporsi nasi goreng babat di Warung Pak Karmin ini dibandrol sekitar 20 ribu. Aku lupa kemarin pasnya berapa, makan berdua nggak sampai 50ribu kok. Meskipun bukan makanan asli Semarang, kalau main ke Semarang wajib nyobain kuliner ini.

Pasar Semawis, Pusat Wisata dan Kuliner di Semarang yang Memorable

 Pasar Semawis Semarang
Pasar Semawis Semarang

Setelah terjebak hujan sangat deras hampir satu jam di warung Pak Karmin, akhirnya kami bisa kulineran lagi di Pasar Semawis Semarang. Pasar semawis ini merupakan tempat kuliner malam di Semarang yang ada setiap hari Jum’at, Sabtu dan Minggu. Mirip dengan walking street di Pattaya. Hanya saja tanpa diskotik :))

Deretan penjual makanan dan minuman berjajar di sebuah gang sejauh 300 meter. Mulai dari jajanan tradisional hingga jajanan kekinian membuat pengunjung pasar semawis di Malam Minggu ini beragam. Pasar yang baru buka sekitar setahun belakangan ini berhasil menjadi daya tarik wisata dan kuliner di Semarang ketika malam.

Tetiba aku merasa bersyukur karena tadi hujan sangat deras setelah mendengar cerita mbak penjual kopi yang katanya ini belum rame seperti biasanya. Tuhan selalu punya cara asyik untuk membuat hidup makin asyik kan? Hahaha

Benar kata mbaknya, semakin malam suasana Pasar Semawis Semarang ini semakin ramai dipenuhi pengunjung. Selain ngopi, aku juga sempat mencicipi jajanan tauh petis. Petisnya mirip sama petis Cirebon yang sempat aku coba ketika jalan-jalan ke tempat wisata di Cirebon beberapa waktu lalu. Aku masih lebih suka petis madura yang biasanya digunakan sebagai camilan. Iya camilan,  bukan buat cocolan.

 Pasar Semawis Semarang
Pasar Semawis Semarang

Sayang sekali rombongan dari Blitar nggak mampir ke Pasar Semawis ini, karena ini sebenarnya bisa ditiru untuk jalan Kenanga depan Aloon-Aloon Blitar yang nggak begitu populer. Aku yakin kalau dibuat kaya Pasar Semawis ini bakalan rame. Nggak cuma jajanan atau oleh-oleh yang biasa saja, tetapi variasi makanan yang dijual juga harus semakin banyak dan kekinian supaya yang datang itu bisa lintas generasi. Kalau perlu jalan benar-benar ditutup total seperti Pasar Semawis.

Tempat Wisata dan Kuliner di Semarang Versimu?

 Sepeda Lampu di Simpang Lima Semarang
Sepeda Lampu di Simpang Lima Semarang

Selain tempa-tempat yang udah aku ulas di atas, sebenarnya Semarang masih punya banyak tempat menarik lainnya yang belum sempat aku kunjungi seperti Taman Indonesia Kaya, Kampung Pelangi, Simpang Lima Semarang, Lumpia gang Lombok dan Goa Kreo. Mungkin di kesempatan yang akan datang, ketika main ke Semarang bakal aku agendakan untuk nyambangi tempat-tempat tersebut. Atau kamu punya referensi lain tentang tempat wisata dan kuliner di Semarang yang harus dikunjungi?

Sebenarnya masih ada lagi destinasi yang aku kunjungi, yaitu Pasar Karetan yang ada di Blora. Namun karena nggak masuk wilayah Semarang, akhirnya aku putuskan untuk membuat postingan baru khusus untuk pasar karetan yang masih baru aku tulis sebagian.

Jadi cukup sekian saja tulisan tentang tempat wisata hits di Semarang. Kalau ada referensi tempat wisata lain di Semarang jangan ragu untuk meninggalkan komentar yak!

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment