Aku parkir kendaraan di rumah terakhir di kaki bukit yang tak lain adalah rumah salah seorang teman baikku. Perlahan kutapaki anak tangga untuk menuju puncak kesunyian pagi itu. Cukup nyaman sebenarnya suasana kesunyian pagi itu.
Jalan ke Puncak |
Tidak begitu jauh aku menapakkan kaki ini, hingga akhirnya sampai di kawasan yang tak begitu asing. Tempatku dulu bermain mencari mente yang berjatuhan. Udara pagi itu benar-benar sejuk dan menyegarkan. Semua beban begitu saja hilang. Kulihat ketimur bukit, mentari mulai tinggi dengan nuansa kabut tipis-tipis yang begitu romantis.
Mentari dalam Sunyi |
Memang tidak ada orang lain yang tampak pagi itu diatas bukit. Mungkin karena masih terlalu pagi seperti kata ayah temanku. Tapi aku memang benar-benar ingin menikmati pagi itu di tempat ini. Setelah cukup lama berdiam diri menikmati pagi dalam sunyi, kuputuskan untuk segera bergegas.
Tahukah kamu tentang bukit yang kusinggahi untuk menikmati pagi yang sunyi itu? Seperti yang sudah kusebutkan diawal bahwa tempat ini disebut dengan nama Gunung Nduwur. Sebuah bukit di dusun kami yang digunakan sebagai tempat pemakaman umum untuk warga sekitar dusun Barak.
Meskipun bukit ini menyimpan banyak misteri, namun aku dan teman-teman masa kecilku sering menghabiskan waktu di tempat ini untuk bermain. Meski ada beberapa teman yang seringkali takut untuk naik, aku sudah terbiasa naik ke tempat ini sendirian hanya untuk berdiam diri di salah satu makam yang kini usianya sudah lebih dari sewindu.
Keindahan Pagi dalam sunyi |
Sepi terkadang memang memberikan arti tersendiri bagiku. Sebuah tempat dimana aku bisa menikmati kesendirian tanpa harus terganggu apapun. Mungkin kamu punya cerita sunyi sendiri di suatu tempat 🙂
Leave a Comment