25 Januari 2018

Cerita dari Sungai Brantas di Sepanjang Tawangerjo - Brongkos Blitar

Jalan jalan di sungai Brantas
Jalan jalan di sungai Brantas
Pukul setengah sebelas siang aku terdiam sejenak di pusat keramaian Kesamben, Blitar. Terdiam karena bingung mau kemana, karena niat awal ke daerah ini hanya untuk menepati janji mengantarkan barang, barang sudah diantar waktu terus bergulir tapi belum ada rencana pasti mau kemana bareng si Dolis.

Berhubung Dolis merupakan salah satu penggiat lingkungan, akhirnya kami putuskan untuk mampir ke salah satu tempat konservasi ikan bader bang yang terletak di Desa Tawangrejo, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar. Siapa tahu bisa bertemu dengan penggiat konservasi di daerah tersebut.
Ikan bader bang sendiri bisa dibilang merupakan salah satu iklan asli di sungai brantas yang melalui desa Tawangrejo. Selama ini aku hanya mengikuti update di jejaring sosial, namun belum pernah menyambanginya.

Baca: Naik Gunung Butak via Sirah Kencong Blitar

Perjalanan dari Kesamben ke Binangun tidak terlalu sulit, jalan juga cukup baik dengan pemandangan di padepokan mbah jugo yang enggak sempat aku singgahi. Lokasinya tidak jauh dari jembatan masuk desa Ngadri.

Di salah satu tikungan menuju kawasan konservasi ikan, terdapat sebuah masjid megah yang masih setengah jadi. Seorang pria paruh baya menyapa Dolis, ternyata ia adalah Pak Sonaji, salah satu penggiat konservasi di daerah Tawangrejo ini.

Obrolan hangat seputar dunia permancingan di emperan masjid ditemani secangkir kopi. Aku yang sudah lama enggak macing ya hanya mendengarkan ketika mereka saling bersahutan bercerita tentang spot mancing, jenis ikan dan cara-cara memancing. Maklum, sejak 2007 aku sudah meninggalkan pancingku di Pacitan.

Secangkir kopi telah menemani perbincangan siang itu, Pak Son akhirnya mengajak kami menuju rumah salah seorang rekannya juga yaitu Pak Keceng. Aku enggak tahu nama aslinya siapa, tetapi semua orang di sana memanggilnya begitu. Obrolan hangat pun  terjalin dengan segelas kopi (lagi) dan akhirnya ada wacana untuk sowan ke Mbah Roji, penggiat lingkungan lain yang berada di daerah Brongkos, tepatnya di seberang sungai brantas.
 Pak Son memberi pakan ikan di Sungai
Pak Son memberi pakan ikan di Sungai
Setelah dari rumah Pak Keceng, kami pun melanjutkan perjalanan ke kawasan konservasi bader bang yang berada tidak jauh dari situ. Pak Son mencoba melemparkan pakan ikan ke pinggiran kali, dan beenar ikan kecil-kecil sudah berdatangan untuk menyambut pakan yang disebar.

Berbagai himbauan untuk tidak memancing di kawasan ini juga sudah terpasang, tampak 3 buah kapal ada dipinggiran kali ini. Berhubung kami akan menggunakan sebuah kapal untuk menuju kediaman Mbah Roji di seberang sungai, genangan air hujan dilambung kapal pun dikurangi. Untuk membuat perjalanan menjadi lebih nyaman.

Menyusuri Sungai Brantas di Blitar Timur

 Naik Perahu di Sungai Brantas
Naik Perahu di Sungai Brantas
Berbeda dengan sungai brantas yang ada di kawasan kademangan dengan pemandangan pemukiman, di kawasan Binangun ini pemandangannya berasa di sungai amazon. Kanan kiri sungai masih banyak sekali jenis vegetasi, sehingga nampak rimbun dan hijau. Berasa datang ke tempat syuting film macam anaconda yang pernah aku tonton di televisi.

Sungai terbentang cukup lebar dengan pemandangan hijau di sisi kanan dan kirinya, sungai berwarna kecoklatan karena hujan membuat keruh air sungai. Sesekali pak Son menunjukkan spot-spot favorit para pemancing di sekitaran aliran sungai.
 Pak Son di Sungai Brantas
Pak Son di Sungai Brantas
Butuh waktu kurang lebih 10 menit untuk mencapai gubuk mbah Roji yang juga merupakan markas dari Pokmaswas Tunjung Biru ini. Berada di daerah yang cukup strategis, tepat berada di pertemuan sungai brantas dan sungai tuwuh 

Beberapa orang juga tampak sedang memancing di sekitar gubuk, jadi kurang enak sih karena kapal yang kita gunakan cukup besar dan pastinya mengganggu mereka yang memancing. Sesampainya di gubuk mbah Roji sudah ada beberapa orang yang duduk menikmati kopi sambil bercengkrama. Lagi-lagi aku enggak seberapa ngeh ketika mereka menyebutkan lokasi-lokasi pemancingan favorit di sepanjang sungai brantas. Belum lagi jenis-jenis ikan dan ngomongin orang-orang yang mereka kenal. 
Jagongan di Gubuk Mbah Roji
Bisa dibilang kalau mbah roji ini tinggal di sebuah hutan, tepatnya di kawasan yang dulunya menjadi jalan utama para pencuri kayu, karena berada di sekitar kawasan hutan lindung. Namun sejak Mbah Roji mendirikan gubuk di kawasan ini, perlahan para pencuri kayu itu menghilang, entah karena pindah jalan atau karena sungkan dengan orang yang dituakan ini setidaknya beliau sudah turut berkontribusi mengurangi pencurian kayu.

Selain menanami tanahnya dengan berbagai macam buah, beliau juga memiliki beberapa kolam dengan beberapa jenis ikan. Sesekali beliau menjelaskan ide-ide gilanya yang enggak perlu aku tuliskan di blog ini. Menurutku cukup keren, bisa dibilang semua ide-ide jangka panjangnya perlahan sudah dipersiapkan dari sekarang, sehingga ketika waktunya tiba semua akan berjalan sesuai dengan rencana dan enggak buang-buang tenaga.

Pelajaran penting yang aku dapat selama 2 jam di sekitaran mbah Roji adalah
Semua ada masanya, persiapkan semuanya dengan matang karena ketika masanya datang semuanya tinggal berjalan sesuai dengan angan-angan. Matangnya pas, enggak prematur yang dipaksakan
 Pemancing dari Tulungagung
Pemancing dari Tulungagung
Sebelum kembali pulang menuju Tawangrejo, aku sempatkan diri untuk berjalan mengelilingi kebun mbah Roji untuk melihat-lihat. Tampak beberapa orang sedang asyik memancing, bahkan seorang kakek yang berasal dari Tulungagung mancing di sini seorang diri. Tetap asyik dengan beberapa kailnya meski belum dapat ikan sama sekali.
Suasana Gubuk Mbah Roji
Suasana Gubuk Mbah Roji
Suguhan nangka manis dari kebun Mbah Roji pun menjadi makanan penutup yang lezat sebelum pulang, meski manisnya nggak seperti biasa karena curah hujan yang terlalu tinggi namun berhasil membuat gigi sempat ngilu saking manisnya. Enggak kebayang gimana manisnya kalau musim kemarau, toh nangka berbuah sepanjang tahun.

Setelah buah nangka habis disantap, kamim bergegas kembali ke Tawangrejo. Cuaca sudah mulai tak bersahabat, langit sudah mulai gelap yang menandakan tidak lama lagi hujan akan turun. Begitu sampai di Tawangrejo, aku melihat bahwa kunci motor masih tertancap di sepeda motor. Desa ini masih cukup aman, karena setelah 3 jam pun sepeda motor enggak bergeser sedikit pun dari tempat aku parkir, padahal sebelumnya juga ada motor terparkir di sebelah motorku.
 Naik perahu di Sungai Brantas
Naik perahu di Sungai Brantas
Banyak obrolan baru seputar ide dan perspektif setelah bertemu orang-orang gila di pinggiran sungai brantas ini. Dari situ aku sadar kalau emang masih banyak orang-orang gila di dunia ini, hanya saja mereka belum tampak. 

Posting Komentar

Komentar spam enggak bakal aku approve lho. Gunakan nama asli bukan keyword :p

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search